JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Rabu (21/1/2026) dengan pelemahan signifikan, ditutup anjlok 1,36% ke level 9.010. Koreksi pasar saham domestik ini tak terlepas dari masifnya aksi jual bersih oleh investor asing atau net foreign sell di pasar reguler, yang mencapai Rp 1,88 triliun.
Tekanan terhadap IHSG bukan hanya bersumber dari satu faktor, melainkan kombinasi sentimen global dan domestik yang saling memengaruhi. Dari eksternal, pasar dibayangi oleh pelemahan nilai tukar rupiah serta potensi peningkatan risiko capital outflow. Sentimen negatif ini menguat menyusul wacana penerapan tarif baru oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mendorong investor untuk cenderung bersikap wait and see dan menarik dananya dari pasar negara berkembang.
Sementara itu, dari sisi domestik, keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% dinilai belum cukup kuat untuk meredam gelombang tekanan jual yang melanda pasar saham. Kebijakan ini, meskipun bertujuan menjaga stabilitas, tampaknya belum mampu mengembalikan kepercayaan investor sepenuhnya di tengah ketidakpastian yang ada.
Secara teknikal, prospek IHSG masih diwarnai potensi koreksi lanjutan. Level support penting berada di 8.948, sementara level resistance terdekat ada di 9.035. Selama sentimen global dan pergerakan nilai tukar rupiah belum menunjukkan perbaikan yang signifikan, tekanan terhadap IHSG diperkirakan akan tetap berlanjut, menuntut kehati-hatian dari para pelaku pasar.
Di tengah kondisi pasar saham yang penuh tantangan, sektor komoditas, khususnya emas, justru tampil sebagai pilihan menarik. Harga emas kembali mencetak rekor tertinggi baru atau all-time high di kisaran 4.800. Lonjakan harga ini dipicu oleh meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven, di mana investor mencari perlindungan di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global yang meningkat.
Menariknya, di tengah kondisi pasar Asia yang lesu, bursa saham Amerika Serikat justru ditutup menguat pada hari yang sama. Indeks Dow Jones Industrial Average berhasil naik 1,21% ke level 49.077,23. Senada, Indeks S&P 500 menguat 1,16% mencapai 6.875,62, sementara Nasdaq Composite juga membukukan kenaikan 1,18% ke level 23.224,82.
Berikut adalah rekomendasi saham pilihan mengacu pada Sajian Pagi Menu Trading BRI Danareksa Sekuritas (SAPA MENTARI) untuk perdagangan Kamis (22/1/2026):
BUY – PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)
Berdasarkan analisis grafik per jam (1H), saham ANTM saat ini berada di area pullback, dengan level support kuat di kisaran 4.110–4.180. Selama harga mampu bertahan di atas area tersebut, tren ANTM diproyeksikan masih bullish, dengan target resistance berikutnya di 4.350–4.420. Kenaikan harga emas dunia yang melonjak sekitar 2,06% mencapai USD 4.861 pada Rabu (21/1/2026) turut menjadi sentimen positif yang kuat bagi saham ANTM sebagai emiten tambang emas.
- Buy: 4.200–4.250
- Resistance 1: 4.350
- Resistance 2: 4.420
- Stop loss: < 4.100
BUY – PT Red Planet Indonesia Tbk (PSKT)
Pada perdagangan terakhir, saham PSKT menunjukkan lonjakan volume dan harga yang signifikan, berhasil menembus level resistance 382. Potensi penguatan lebih lanjut masih terbuka lebar, dengan target resistance berikutnya di level 418–436. PT Red Planet Indonesia Tbk (PSKT), emiten perhotelan yang terafiliasi dengan grup bisnis Happy Hapsoro, sedang gencar menjalankan program transformasi melalui peremajaan aset (asset rejuvenation) yang ditargetkan rampung hingga tahun 2026.
- Buy: 382–400
- Resistance 1: 418
- Resistance 2: 436
- Stop loss: < 370
BUY – PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK)
Pada grafik per jam, saham EMTK sedang menguji level resistance krusial di 1.075. Strategi buy on breakout dapat dipertimbangkan secara serius apabila harga mampu menembus dan bertahan di atas level tersebut, dengan potensi penguatan lanjutan menuju resistance 1.095–1.110. Emtek memiliki rencana strategis untuk melantaikan Vidio di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2026, menyusul kesuksesan IPO Superbank pada tahun 2025 yang menciptakan efek positif bagi grup usaha EMTK.
- Buy on breakout: > 1.075
- Resistance 1: 1.095
- Resistance 2: 1.110
- Stop loss: < 1.060
SELL – PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN)
Dalam beberapa sesi perdagangan terakhir, saham MNCN cenderung berada dalam tekanan jual yang kuat setelah menyentuh area resistance di 298–300. Tekanan jual ini berpotensi berlanjut hingga mencapai area support selanjutnya di level 262. PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) melaporkan penurunan laba bersih sebesar 17,88% menjadi Rp 753,68 miliar pada periode Januari–September 2025, dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Trading Plan (SELL):
- Last price: 270
- Next support: 262
Ringkasan
Pada 21 Januari 2026, IHSG melemah signifikan 1,36% ke level 9.010, didorong oleh aksi jual bersih asing Rp 1,88 triliun. Tekanan ini bersumber dari sentimen global seperti pelemahan rupiah dan potensi capital outflow, serta keputusan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan. Prospek teknikal IHSG masih menunjukkan potensi koreksi lanjutan. Berbeda dengan pasar Asia yang lesu, harga emas melonjak ke rekor tertinggi sebagai aset safe haven dan bursa saham AS ditutup menguat.
Di tengah tantangan pasar, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan pembelian saham ANTM, PSKT, dan EMTK. ANTM diuntungkan oleh lonjakan harga emas dunia, PSKT berpotensi penguatan setelah menembus resistance, dan EMTK memiliki katalis dari rencana IPO Vidio. Sebaliknya, saham MNCN direkomendasikan jual karena tekanan jual kuat dan laporan penurunan laba bersih.