Shoesmart.co.id, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bakal mencetak rekor tertinggi baru pada tahun 2026, dengan potensi melaju sekitar 10% dari posisinya saat ini. Prediksi optimistis ini datang dari Analis Citigroup Inc., yang melihat dorongan utama dari belanja pemerintah dan penurunan suku bunga di Indonesia.
Menurut riset yang disusun oleh Analis Citi, Helmi Arman dan Rohit Garg, IHSG berpeluang signifikan untuk mencapai level 9.250. Angka ini jauh di atas level saat ini yang berada di kisaran 8.363, menunjukkan potensi pertumbuhan pasar modal yang substansial dalam beberapa tahun mendatang.
Proyeksi kenaikan IHSG didasarkan pada ekspektasi percepatan realisasi belanja pemerintah. Rencana ini diperkirakan akan menjadi katalis kuat yang mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan, menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif bagi pasar saham.
: Lebih Tinggi dari Proyeksi Menkeu, OCBC Sekuritas Ramal IHSG Capai 9.100 pada 2026
Selain itu, perbaikan likuiditas pasar dan biaya pendanaan yang lebih murah juga disebut-sebut akan menjadi pemicu utama. Kondisi ini diharapkan memicu pemulihan sektor perbankan, yang akan terlihat dari pertumbuhan kredit yang lebih kuat dan margin keuntungan yang lebih sehat, memberikan sentimen positif bagi saham bank.
IHSG sendiri telah menunjukkan kinerja yang impresif pada periode tahun berjalan (year-to-date), menguat sekitar 18% dan berulang kali menyentuh level tertinggi sepanjang masa (ATH). Pekan lalu, IHSG kembali mencetak rekor baru di level 8.394,59, menandakan tren penguatan yang berkelanjutan.
: : Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini Selasa, 11 November 2025
Para analis Citi juga menyoroti sektor-sektor yang diuntungkan. Percepatan realisasi belanja dan peningkatan subsidi sosial diperkirakan akan mendorong konsumsi rumah tangga secara signifikan. Hal ini tentu akan memberikan dampak positif bagi emiten konsumer dan ritel, dengan saham-saham seperti PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) dan PT Mayora Indah Tbk. (MYOR) menjadi kandidat utama penerima manfaat.
Sementara itu, bank-bank besar seperti PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS), PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) juga berpotensi besar untuk diuntungkan oleh lingkungan suku bunga yang lebih rendah. Ini akan meningkatkan profitabilitas mereka melalui penurunan biaya dana dan potensi pertumbuhan kredit yang lebih agresif.
Meskipun tantangan struktural masih membayangi, kombinasi dari likuiditas yang membaik, efek pengganda fiskal yang lebih tinggi, serta permintaan domestik yang tangguh secara kolektif akan menciptakan kondisi yang sangat mendukung bagi saham-saham Indonesia, tegas Analis Citigroup. Pandangan ini menunjukkan optimisme yang hati-hati terhadap prospek pasar modal Tanah Air.
Namun, di tengah penguatan saham, nilai tukar rupiah justru menunjukkan tren yang kontras. Rupiah melemah sekitar 3,5% terhadap dolar AS sepanjang tahun ini, menjadikannya mata uang dengan kinerja terburuk di Asia. Pelemahan ini terjadi di tengah spekulasi penurunan suku bunga, kekhawatiran mengenai independensi bank sentral, serta keresahan investor terkait prospek fiskal Indonesia.
Menurut analisis Citigroup, rupiah kemungkinan akan tetap berada di bawah tekanan dalam jangka pendek. Hal ini disebabkan oleh prioritas Bank Indonesia yang cenderung mengedepankan pertumbuhan ekonomi dibandingkan stabilitas nilai tukar, ditambah dengan hambatan pada neraca perdagangan akibat insiden yang melibatkan tambang Freeport-McMoRan Inc. yang dapat memengaruhi ekspor dan arus devisa.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Ringkasan
Citigroup memprediksi IHSG berpotensi mencapai 9.250 pada tahun 2026, naik sekitar 10% dari level saat ini. Proyeksi ini didorong oleh ekspektasi percepatan realisasi belanja pemerintah dan penurunan suku bunga, yang diharapkan dapat memicu pertumbuhan ekonomi dan perbaikan likuiditas pasar.
Sektor konsumer dan ritel, seperti AMRT dan MYOR, diperkirakan akan diuntungkan dari peningkatan konsumsi rumah tangga akibat belanja pemerintah. Selain itu, bank-bank besar seperti BRIS, BBNI, dan BBRI juga berpotensi meraih keuntungan dari lingkungan suku bunga yang lebih rendah.