Shoesmart.co.id – JAKARTA. Kinerja emiten unggas (poultry) menunjukkan hasil yang bervariasi sepanjang Januari hingga September 2025. Namun, momentum Ramadan pada kuartal I-2026 diproyeksikan menjadi katalis positif yang mendongkrak kinerja sektor ini.
Harry Su, Managing Director Research dan Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, mengungkapkan bahwa salah satu tantangan utama yang dihadapi emiten poultry pada kuartal I-2026 adalah potensi kenaikan harga impor soybean (bungkil kedelai). Pasalnya, soybean merupakan komponen signifikan, menyumbang sekitar 25% dari total biaya bahan baku pakan, sehingga kenaikan harganya berpotensi menggerus margin keuntungan perusahaan.
Lebih lanjut, Harry menyoroti pentingnya memperhatikan dinamika hubungan perdagangan antara China dan Amerika Serikat (AS) sebagai sentimen yang dapat memengaruhi kinerja emiten poultry. Penguatan harga soybean global dipicu oleh pernyataan Presiden AS saat itu, Donald Trump, yang menyebutkan bahwa Tiongkok berencana meningkatkan pembelian kedelai AS menjadi 20 juta ton pada musim ini dan 25 juta ton pada musim berikutnya.
Hingga akhir Januari, China telah merealisasikan pembelian sekitar 12 juta ton, memenuhi komitmen kepada AS setelah tercapainya gencatan senjata dagang pada akhir Oktober. “Secara keseluruhan, kinerja keuangan emiten poultry pada kuartal I-2026 diperkirakan akan solid, terutama didorong oleh efek musiman Ramadan dan Lebaran,” jelas Harry kepada Kontan, Jumat (6/2/2026).
Tekanan Jual Asing Belum Usai, Ini Prospek SBN dan Yield SUN pada 2026
Pandangan positif juga diutarakan oleh David Kurniawan, Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT). David melihat prospek kinerja emiten poultry sangat cerah, didorong oleh implementasi penuh program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan lonjakan permintaan musiman menjelang Ramadan dan Idulfitri.
Berkaca pada data historis, Harry Su memperkirakan harga livebird (unggas hidup) berpotensi menembus level Rp 23.000 per kilogram (kg). Sementara itu, David berpendapat bahwa harga ayam broiler pada tahun 2026 akan cenderung stabil dengan kecenderungan naik, karena adanya “Demand Floor” dari program MBG yang mengurangi risiko penurunan harga yang signifikan.
“Dampaknya terhadap laba emiten poultry diperkirakan tumbuh 8% – 12% secara tahunan (year-on-year) karena kenaikan volume penjualan mampu mengkompensasi kenaikan biaya akibat fluktuasi kurs,” imbuh Harry.
Victor Stefano, Analis BRI Danareksa, menyampaikan bahwa pemerintah berencana mengalihkan wewenang impor bungkil kedelai (SBM) dari perusahaan swasta ke Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yaitu PT Berdikari, mulai tahun 2026. Tujuan utama dari kebijakan ini adalah untuk menjamin ketersediaan pasokan dan stabilitas harga pakan secara nasional.
Perlu diketahui, SBM menyumbang sekitar 20% hingga 25% dari biaya pakan unggas secara umum dan merupakan bahan pakan impor tahunan terbesar. “Untuk menghindari potensi gangguan pasar selama masa transisi, perusahaan swasta masih diizinkan untuk mengimpor SBM secara langsung hingga 31 Maret 2026, dengan volume yang dikoordinasikan dengan PT Berdikari, dan berkesempatan mengajukan alokasi impor tambahan jika diperlukan,” jelas Victor dalam risetnya tertanggal 30 Januari 2026.
Selain itu, pemerintah juga mengimbau para pedagang untuk tidak melakukan penimbunan stok guna menjaga stabilitas harga. Meskipun Indonesia secara historis mengimpor SBM terutama dari Brasil dan Argentina, Victor menilai bahwa impor yang terpusat dapat mengurangi fleksibilitas dalam memilih negara asal.
Jika kesepakatan perdagangan antar negara mendorong peningkatan impor dari AS, yang secara struktural diperdagangkan dengan harga premium, hal itu berpotensi meningkatkan biaya pakan dasar efektif sekitar 2%.
Ada Wacana Pengalihan Wewenang Impor Bungkil Kedelai, Ini Dampaknya ke Emiten Poultry
Selain potensi kenaikan harga dasar, biaya SBM juga akan lebih tinggi karena adanya margin pedagang yang diperkirakan BRI Danareksa sekitar 5%, berdasarkan margin kotor Berdikari pada tahun 2024 di segmen penugasan pemerintah.
“Terlepas dari potensi kenaikan harga SBM sebesar 7%, penting untuk dicatat bahwa hal ini akan memengaruhi seluruh pabrik pakan,” ungkap Victor.
Berdasarkan perkiraan BRI Danareksa Sekuritas, peningkatan biaya SBM sebesar 7% yang dimulai pada April 2026 akan berdampak negatif pada EBITDA tahun 2026 sebesar 1,1% – 3,8% dan laba bersih tahun 2026 sebesar 1,4% – 8,1%.
Meskipun implementasinya mungkin tertunda, Victor melihat bahwa peningkatan biaya pakan di seluruh industri biasanya akan diteruskan ke harga pakan yang lebih tinggi. Oleh karena itu, dalam jangka panjang, margin pakan diperkirakan akan stabil, tetapi akan menyingkirkan peternakan unggas yang kurang efisien dan/atau menaikkan harga ayam.
“Meskipun peraturan baru ini akan berdampak negatif pada margin dan pendapatan integrator dalam jangka pendek, kami percaya integrator yang lebih besar akan berkembang dalam jangka panjang mengingat keunggulan skala ekonomi mereka yang lebih besar,” kata Victor.
MAIN Chart by TradingView
Victor merekomendasikan Beli saham CPIN, JPFA, dan Malindo Feedmill Tbk (MAIN) dengan target harga masing – masing Rp 5.600 per saham, Rp 3.100 per saham, dan Rp 1.500 per saham.
Harry merekomendasikan beli saham JPFA dengan target harga Rp 3.100 per saham, Beli saham CPIN dengan target harga Rp 6.000 per saham, dan Beli saham MAIN dengan target harga Rp 1.500 per saham.
Sementara David merekomendasikan beli saham JPFA dengan target harga Rp 3.400 per saham.
Ringkasan
Kinerja emiten unggas diprediksi akan meroket pada kuartal I-2026, didorong oleh momentum Ramadan dan implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, emiten juga menghadapi tantangan seperti potensi kenaikan harga impor bungkil kedelai (soybean) yang merupakan komponen penting dalam biaya pakan. Dinamika hubungan dagang antara China dan AS juga menjadi sentimen yang perlu diperhatikan.
Pemerintah berencana mengalihkan wewenang impor bungkil kedelai ke BUMN, PT Berdikari, untuk menjamin stabilitas pasokan dan harga pakan. Analis merekomendasikan beli saham CPIN, JPFA, dan MAIN, meskipun peningkatan biaya bungkil kedelai berpotensi mempengaruhi margin dan pendapatan integrator dalam jangka pendek, integrator yang lebih besar diyakini akan berkembang karena keunggulan skala ekonomi mereka.