Rahasia Investasi Sukses ala Vincent Saputra, Bos RMKE Energy

Shoesmart.co.id JAKARTA. Bagi Vincent Saputra, Presiden Direktur PT RMK Energy Tbk (RMKE), investasi bukan sekadar menumbuhkan aset, melainkan jalan menuju kebebasan finansial (financial freedom). Pria kelahiran 1990 ini telah malang melintang di dunia investasi, mencicipi manis pahitnya pasar modal Amerika Serikat (AS) dan Indonesia.

Perkenalan Vincent dengan dunia investasi dimulai pada awal 2010-an, saat ia menempuh studi Administrasi Bisnis di Universitas Southern California, AS. Di sanalah, ia pertama kali memberanikan diri berinvestasi saham di pasar modal Negeri Paman Sam.

“Dulu, saya sempat mencoba berinvestasi di saham-saham indeks S&P 500, dan saat itu sedang tren saham-saham teknologi,” kenangnya kepada Kontan beberapa waktu lalu.

Menurut Vincent, pasar saham AS menawarkan likuiditas, keterbukaan, dan kematangan yang jauh melampaui pasar saham Indonesia. Selain itu, pasar saham AS juga menyediakan instrumen short selling yang dapat dimanfaatkan oleh investor ritel.

Namun, tingginya likuiditas pasar saham AS juga membawa konsekuensi risiko yang lebih besar bagi investor ritel seperti Vincent. Harga saham di AS cenderung bergerak sangat dinamis, merespons cepat setiap perkembangan pasar.

Harga Terjun Bebas, Prajogo Pangestu Kembali Akumulasi Saham Petrindo (CUAN)

Vincent mencontohkan, harga sebuah saham di pasar AS bisa anjlok hingga 90% dalam sehari hanya karena sentimen berita tertentu, meskipun fundamental perusahaan tersebut sebenarnya solid.

Selain itu, pasar saham AS tidak memiliki mekanisme pembatasan pergerakan harga saham yang ketat seperti Auto Reject Atas (ARA) dan Auto Reject Bawah (ARB) yang berlaku di Indonesia.

“Di Indonesia, jika harga saham turun hingga ARB, perdagangan akan dihentikan sementara. Hal ini memberi investor waktu untuk mencari informasi sebelum mengambil keputusan,” jelas Vincent.

Pernah Jajal Kripto

Tak hanya saham, Vincent juga sempat menjajal investasi kripto di awal masa belajarnya. Pada awal 2010-an, harga Bitcoin masih di bawah US$ 2.000, jauh berbeda dengan harga saat ini yang mencapai kisaran US$ 88.000.

Pengalaman Vincent di dunia kripto tidak selalu berjalan mulus. Ia mengaku pernah kebingungan dengan platform investasi kripto. Suatu kali, ia mencoba melakukan transfer melalui sebuah exchange kripto, namun dananya justru “nyangkut” dan tidak pernah sampai ke rekening tujuan.

“Sampai sekarang pun, saya tidak tahu aset kripto itu berada di mana. Statusnya masih pending terus, padahal sudah belasan tahun,” imbuhnya.

Vincent menekankan pentingnya bekal ilmu sebelum terjun ke dunia investasi. Ia mengaku terinspirasi oleh buku The Intelligent Investor karya Benjamin Graham, yang dianggap sebagai “kitab suci” investasi. Bahkan, investor legendaris seperti Warren Buffett pun banyak belajar dari buku tersebut.

IHSG Anjlok Lagi: Ini Skenario Terburuk untuk Pekan Depan!

Salah satu pelajaran penting yang dipetik Vincent dari The Intelligent Investor adalah pentingnya memahami momentum dan siklus bisnis. Ia mengamati bahwa investor seringkali bertindak gegabah, ikut-ikutan membeli saham yang harganya sedang naik tanpa memahami fundamentalnya.

Padahal, menurutnya, waktu yang tepat untuk membeli saham justru saat harganya sedang terkoreksi.

“Contohnya di industri batu bara. Saat harga batu bara naik terus, semua orang ingin masuk. Padahal, justru saat itulah kita harus lebih berhati-hati,” urainya.

Bukan Semata Lihat Tren Harga

Dari pengalaman tersebut, Vincent belajar untuk selalu memahami fundamental perusahaan yang diinvestasikannya, bukan hanya terpaku pada tren harga. Ia menyadari bahwa setiap pergerakan harga saham pasti memiliki alasan di baliknya, baik terkait fundamental perusahaan maupun rencana korporasi.

Pada tahun 2018, Vincent mengakhiri petualangannya di pasar modal AS. Ia memutuskan untuk menjual seluruh aset investasinya di AS dan memindahkan modalnya ke pasar saham Indonesia.

Alasannya sederhana, Vincent merasa tidak lagi memiliki waktu untuk mengikuti perkembangan pasar saham AS secara mendalam karena kesibukannya di dunia kerja. Oleh karena itu, ia memilih untuk fokus berinvestasi di pasar yang lebih ia pahami.

“Saya jual semua waktu itu. Ada yang untung, ada yang rugi, tapi secara keseluruhan masih ada sedikit keuntungan,” ungkapnya.

Saat ini, sekitar 30% portofolio investasi Vincent dialokasikan ke saham, sementara 50% ditempatkan pada obligasi atau surat utang. Ia memilih obligasi karena karakteristiknya yang relatif aman dan menawarkan imbal hasil (yield) yang lebih tinggi dibandingkan deposito.

Cermati Rekomendasi Saham Emiten Konsumer yang Tertekan Pelemahan Rupiah

Secara keseluruhan, Vincent merasa cukup senang berinvestasi di pasar saham Indonesia. Menurutnya, pasar saham Indonesia saat ini semakin menarik. Ia bahkan sempat mendengar prediksi bahwa pandemi Covid-19 pada tahun 2020 akan menjadi momentum terbaik bagi investor untuk masuk ke pasar saham.

Pasalnya, setelah pandemi berakhir, banyak pihak memperkirakan orang-orang akan kembali fokus pada bisnis sektor riil dan mengurangi aktivitas di pasar modal.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Transaksi di pasar saham saat ini jauh lebih tinggi dibandingkan masa pandemi. Selain itu, jumlah investor juga terus bertambah.

“Harapannya, suatu saat pasar saham Indonesia akan semakin matang dan instrumen-instrumen yang belum tersedia saat ini dapat diperkenalkan,” jelasnya.

Sebagai penutup, Vincent memberikan pesan kepada para investor pemula untuk menentukan tujuan investasi mereka sebelum membeli instrumen investasi. Tujuan investasi bisa beragam, mulai dari menjaga nilai modal hingga mengejar pertumbuhan aset.

Selain itu, investor juga harus benar-benar memahami instrumen yang mereka investasikan. Hindari sifat FOMO (Fear of Missing Out) dalam mengambil keputusan investasi.

Terakhir, ia berpesan agar investor disiplin dalam mengelola keuangan dan memprioritaskan kebutuhan. Dana yang digunakan untuk investasi sebaiknya bukan dana yang dialokasikan untuk kebutuhan sehari-hari.

Ringkasan

Vincent Saputra, Presiden Direktur PT RMK Energy Tbk (RMKE), memulai investasi di pasar modal AS saat kuliah, mencoba saham indeks S&P 500 dan saham teknologi. Ia menilai pasar saham AS memiliki likuiditas tinggi namun juga risiko besar, berbeda dengan pasar Indonesia yang memiliki mekanisme ARB/ARA. Selain saham, ia juga pernah berinvestasi kripto, namun mengalami kendala dalam transfer dana.

Dari pengalamannya, Vincent menekankan pentingnya pemahaman fundamental perusahaan dan momentum bisnis, terinspirasi dari buku The Intelligent Investor. Ia kini berinvestasi di pasar saham Indonesia karena kesibukannya. Alokasi investasinya saat ini adalah 30% saham dan 50% obligasi. Ia juga memberikan pesan kepada investor pemula untuk menentukan tujuan investasi dan menghindari FOMO.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *