JAKARTA, Shoesmart.co.id – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan tidak khawatir akan potensi penurunan peringkat saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI). Pernyataan ini disampaikan di sela-sela acara Indonesia Economic Summit (IES).
Menkeu Purbaya menjelaskan bahwa pemerintah bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) akan segera menindaklanjuti berbagai rekomendasi yang diberikan oleh MSCI, terutama terkait peningkatan transparansi di BEI.
“Tidak [khawatir], karena kami sedang berbenah. Kekhawatiran baru muncul jika kita mengabaikan peringatan MSCI hingga bulan Mei. Namun, saya rasa pemerintah dan seluruh regulator pasar telah mengambil langkah-langkah yang tepat untuk memastikan semua permintaan MSCI terpenuhi sebelum tenggat waktu tersebut,” ujarnya dalam dialog berbahasa Inggris di Hotel Shangri-La, Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Purbaya meyakinkan para investor bahwa Indonesia tetap menjadi tujuan investasi yang menarik. Ia menjamin bahwa otoritas terkait akan menerapkan praktik-praktik global terbaik dalam pengelolaan pasar modal.
Menanggapi isu transparansi yang menjadi sorotan utama MSCI, Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) tersebut mengakui adanya permasalahan tersebut di BEI. Ia mengungkapkan bahwa pihaknya telah meminta otoritas bursa untuk menindaklanjuti permintaan MSCI sejak beberapa bulan lalu.
Isu yang dimaksud adalah praktik manipulasi harga saham, atau yang lebih dikenal dengan istilah ‘saham gorengan’. “Namun, mereka [otoritas bursa] belum bertindak. Jadi, bagi saya, peringatan dari MSCI ini justru menjadi hal yang positif,” tegasnya.
Sebagai informasi, pengumuman MSCI terkait kebijakan *free float* beredar luas di kalangan investor pasar modal pada Rabu (28/1/2026) pagi. Dalam pengumuman tersebut, MSCI memutuskan untuk menerapkan perlakuan sementara terhadap pasar Indonesia dengan membekukan sejumlah perubahan terkait *index review*, termasuk *index review* Februari 2026.
Terdapat tiga poin utama dalam keputusan MSCI: pembekuan seluruh kenaikan *Foreign Inclusion Factor* (FIF) dan *Number of Shares* (NOS), pembekuan penambahan konstituen baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta pembekuan perpindahan naik antar-indeks segmen ukuran, termasuk dari Small Cap ke Standard.
MSCI menjelaskan bahwa langkah ini bertujuan untuk mengurangi *index turnover* dan risiko kelayakan investasi (*investability*), sekaligus memberikan waktu bagi otoritas pasar terkait untuk meningkatkan transparansi informasi terkait pemegang saham emiten.
Apabila tidak ada kemajuan signifikan hingga Mei 2026, MSCI akan meninjau kembali status aksesibilitas pasar Indonesia. Hal ini berpotensi mengakibatkan penurunan bobot saham Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Index, atau bahkan reklasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market.
Ringkasan
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimis bahwa peringkat saham Indonesia aman dari penurunan oleh MSCI. Pemerintah dan BEI akan menindaklanjuti rekomendasi MSCI, terutama terkait peningkatan transparansi di BEI, guna memenuhi permintaan sebelum tenggat waktu Mei 2026.
MSCI membekukan sejumlah perubahan terkait *index review* untuk pasar Indonesia dan menekankan pentingnya transparansi informasi terkait pemegang saham emiten. Jika tidak ada kemajuan signifikan hingga Mei 2026, MSCI akan meninjau kembali status aksesibilitas pasar Indonesia, yang berpotensi menurunkan bobot saham Indonesia atau bahkan reklasifikasi ke Frontier Market.