PTPP & WIKA Merugi Parah: Nasib BUMN Karya Kian Suram?

Rugi dua emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang infrastruktur, atau BUMN Karya, mengalami pembengkakan signifikan pada tahun 2023. Laporan keuangan PT PP (Persero) Tbk (PTPP) menunjukkan lonjakan rugi bersih hingga 300% dibandingkan tahun sebelumnya. Nasib serupa dialami oleh PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), dengan rugi bersih yang membengkak sebesar 329,20%.

WIKA mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 9,70 triliun, berdasarkan laporan keuangan tahunannya. Angka ini melonjak tajam sebesar 329,20% dibandingkan rugi tahun sebelumnya yang mencapai Rp 2,26 triliun. Tekanan utama berasal dari penurunan pendapatan yang signifikan, menyusut dari Rp 19,24 triliun menjadi Rp 13,32 triliun secara tahunan.

Meskipun beban pokok pendapatan berhasil ditekan menjadi Rp 12,19 triliun dari Rp 17,72 triliun, efisiensi ini tidak mampu mengimbangi tekanan dari pos-pos lain. Beban lain-lain mengalami lonjakan menjadi Rp 6,37 triliun dari Rp 3,73 triliun, sementara bagian rugi ventura bersama meningkat lebih dari dua kali lipat, menjadi Rp 1,44 triliun dari Rp 606,66 miliar.

Akibatnya, rugi sebelum pajak WIKA melebar menjadi Rp 10,12 triliun dari sebelumnya Rp 2,46 triliun.

Baca juga:
* Trump Ancam Tingkatkan Serangan ke Iran, Cina Minta Hentikan Perang
* OJK dan BEI Ungkap Strategi Cegah Penyimpangan Proses IPO Terulang Kembali
* Inggris Pimpin Pertemuan 40 Negara untuk Buka Selat Hormuz, AS Tidak Terlibat

Di tengah tekanan finansial ini, WIKA masih mampu mencatatkan kontrak baru sebesar Rp 17,46 triliun, dengan total kontrak berjalan mencapai Rp 50,52 triliun. Dari portofolio tersebut, perseroan membukukan penjualan sebesar Rp 20,45 triliun dan laba kotor Rp 1,13 triliun. Sayangnya, capaian operasional ini belum mampu menutupi lonjakan beban yang menggerus kinerja *bottom line*.

Kondisi Keuangan PTPP Juga Babak Belur

Kondisi serupa dialami oleh PTPP. Emiten ini membukukan rugi bersih sebesar Rp 6,07 triliun, melonjak 300% dari Rp 1,52 triliun pada tahun sebelumnya. Pendapatan perusahaan juga mengalami penurunan, menjadi Rp 16,27 triliun dari Rp 19,81 triliun.

Meskipun beban pokok pendapatan berhasil diturunkan menjadi Rp 14,81 triliun dari Rp 17,17 triliun, tekanan terbesar justru datang dari lonjakan kerugian penurunan nilai. Pos ini melonjak hampir 20 kali lipat, atau sekitar 1.963%, menjadi Rp 7,35 triliun dari Rp 356,26 miliar.

Lonjakan kerugian penurunan nilai ini mendorong rugi sebelum pajak PTPP membengkak menjadi Rp 7,72 triliun dari sebelumnya Rp 1,66 triliun.

Corporate Secretary PTPP, Joko Raharjo, menjelaskan bahwa peningkatan kerugian ini dipengaruhi oleh langkah kehati-hatian melalui pengakuan penurunan nilai (impairment) aset di entitas anak, pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) atas piutang, serta penyesuaian nilai persediaan.

“Langkah ini merupakan bagian dari penguatan kualitas aset dan penerapan manajemen risiko yang lebih *prudent*,” ujar Joko dalam keterangan resmi, Jumat (3/4).

Ke depannya, PTPP menyatakan akan fokus pada perbaikan fundamental melalui strategi selektif. Strategi ini meliputi fokus pada bisnis inti konstruksi, divestasi aset non-strategis, hingga percepatan pencairan piutang untuk menjaga arus kas.

Perseroan juga menargetkan proyek-proyek strategis dari pemerintah, BUMN, maupun swasta, sembari memperketat manajemen risiko dalam pemilihan proyek.

Ringkasan

Dua BUMN Karya, PTPP dan WIKA, mengalami kerugian bersih yang signifikan pada tahun 2023. WIKA mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 9,70 triliun akibat penurunan pendapatan dan lonjakan beban lain-lain serta rugi ventura bersama. Sementara itu, PTPP membukukan rugi bersih Rp 6,07 triliun karena penurunan pendapatan dan lonjakan kerugian penurunan nilai aset.

PTPP menjelaskan bahwa peningkatan kerugian ini dipengaruhi oleh langkah kehati-hatian melalui pengakuan penurunan nilai aset di entitas anak dan pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai atas piutang. Kedua perusahaan berencana untuk fokus pada perbaikan fundamental melalui strategi selektif seperti fokus pada bisnis inti, divestasi aset non-strategis, dan percepatan pencairan piutang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *