
JAKARTA — Sinarmas Sekuritas telah menyesuaikan rekomendasinya untuk saham PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) pada awal Januari 2026. Penyesuaian ini terjadi di tengah daya tarik emiten batu bara tersebut sebagai target pembelian investor asing, yang memberikan gambaran yang lebih dalam tentang prospek saham PTBA di pasar.
Berdasarkan data komprehensif dari terminal Bloomberg yang dihimpun pada Jumat (9/1/2026) malam, konsensus analis menunjukkan gambaran beragam mengenai saham Bukit Asam. Mayoritas, atau sebanyak 11 (40,7%) dari total 27 sekuritas, masih mempertahankan rekomendasi beli untuk saham PTBA. Sementara itu, 10 sekuritas (37,0%) menyematkan rating hold atau netral, dan enam sekuritas lainnya merekomendasikan jual.
Adapun, target harga saham PTBA untuk periode 12 bulan ke depan, berdasarkan konsensus analis Bloomberg, dipatok sebesar Rp2.195,63. Angka ini sekitar 8,1% di bawah harga penutupan saham perseroan pada perdagangan Jumat (9/1/2026) yang berada di level Rp2.390. Disparitas ini menyoroti pandangan yang berbeda antara target harga konsensus dan valuasi pasar saat ini.
Dalam dinamika pasar ini, Sinarmas Sekuritas muncul sebagai lembaga teranyar dan satu-satunya yang telah memperbarui rekomendasinya untuk saham PTBA pada awal Januari 2026. Revisi ini mencakup penurunan peringkat serta target harga saham batu bara tersebut.
Inav Haria Chandra dan Kenny Shan, analis Sinarmas Sekuritas, menjelaskan dalam laporan mereka mengenai prospek sektor pertambangan batu bara yang dirilis Rabu (7/1/2026), “Kami menurunkan peringkat PTBA dari ADD menjadi NEUTRAL, dengan target harga yang direvisi dari Rp3.000 menjadi Rp2.500.” Pernyataan ini menegaskan perubahan sikap Sinarmas terhadap potensi PTBA.
Para analis Sinarmas Sekuritas membeberkan alasan fundamental di balik perubahan rekomendasi tersebut. Peringkat sebelumnya mengasumsikan kemajuan signifikan pada mekanisme Mitra Instansi Pengelola (MIP) yang diyakini akan menjadi katalis utama bagi PTBA. Namun, dengan pembatalan implementasi skema MIP, proyeksi tersebut menjadi tidak relevan.
Mereka menambahkan pandangan ke depan, “Meskipun PTBA terkenal dengan profil dividen yang kuat, kami sekarang mengantisipasi potensi kenaikan yang terbatas untuk 2026 karena tekanan struktural yang terus-menerus pada margin dan volume penjualan.” Hal ini menunjukkan bahwa, terlepas dari sejarah dividen yang menguntungkan, tantangan operasional akan membatasi apresiasi harga saham.
Saham PTBA Jadi Incaran Investor Asing
Meskipun terjadi revisi rekomendasi dari sejumlah sekuritas, saham PTBA tetap menjadi daya tarik bagi investor asing. Secara kumulatif, sepanjang periode 2–9 Januari 2026, investor asing mencatatkan nilai beli bersih atau net buy sekitar Rp25,8 miliar di saham PTBA. Akumulasi ini terjadi meskipun sempat ada aksi jual (net sell) pada satu hari perdagangan di tengah kenaikan harga saham.
Pergerakan investor asing di saham PTBA terpantau dinamis sepanjang pekan pertama 2026. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada perdagangan perdana 2026, Kamis (2/1/2026), investor asing membukukan net buy sebesar Rp4,98 miliar melalui pembelian bersih 2,15 juta saham, dengan harga saham PTBA di level Rp2.320 per saham.
Tren pembelian asing berlanjut pada Senin (5/1/2026) dengan net buy Rp2,82 miliar, diikuti oleh kenaikan harga saham PTBA menjadi Rp2.340 per saham. Momentum akumulasi ini kian menguat pada Selasa (6/1/2026), di mana investor asing mencatatkan net buy signifikan sebesar Rp20,52 miliar, dengan total pembelian bersih mencapai 8,66 juta lembar saham. Sejalan dengan aktivitas ini, harga saham PTBA naik ke level Rp2.370.
Namun, tren ini sempat berbalik arah pada Rabu (7/1/2026), saat investor asing membukukan net sell sebesar Rp6,19 miliar. Ironisnya, di hari yang sama, harga saham PTBA justru melonjak ke level tertinggi pekan tersebut, mencapai Rp2.420 per saham, menunjukkan ketahanan harga di tengah tekanan jual.
Memasuki dua hari perdagangan berikutnya, dominasi aksi beli asing kembali terlihat. Pada Kamis (8/1/2026), saham PTBA mencatat net buy Rp1,53 miliar, yang kemudian disusul oleh net buy Rp2,13 miliar pada Jumat (9/1/2026). Harga saham PTBA pada kedua hari tersebut tercatat stabil pada level Rp2.390, mengakhiri pekan dengan sentimen positif dari investor asing.
Ringkasan
Sinarmas Sekuritas menurunkan peringkat saham PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) dari ADD menjadi NEUTRAL, dengan target harga direvisi menjadi Rp2.500, pada awal Januari 2026. Penyesuaian ini terjadi karena pembatalan skema Mitra Instansi Pengelola (MIP) yang sebelumnya diharapkan menjadi katalis. Konsensus analis Bloomberg menunjukkan 40,7% merekomendasikan beli, 37,0% hold, dan sisanya jual untuk PTBA. Target harga konsensus 12 bulan ke depan sebesar Rp2.195,63, lebih rendah dari harga penutupan Rp2.390 pada 9 Januari 2026.
Meskipun ada revisi rekomendasi tersebut, saham PTBA tetap menjadi incaran investor asing. Sepanjang periode 2-9 Januari 2026, investor asing mencatatkan nilai pembelian bersih kumulatif sekitar Rp25,8 miliar. Akumulasi ini terjadi meskipun sempat ada aksi jual pada satu hari perdagangan, menunjukkan minat kuat investor asing terhadap saham PTBA.