
Dana Moneter Internasional (IMF) baru-baru ini merilis proyeksi pertumbuhan ekonomi negara anggota G20 pada tahun 2026, mengungkapkan gambaran yang kontras antara ekonomi negara berkembang yang diperkirakan melaju pesat dan negara maju yang cenderung melambat. Penilaian ini menjadi sorotan utama dalam laporan terbaru mereka.
Berdasarkan edisi Oktober 2025 IMF World Economic Outlook, India diestimasikan akan menjadi kekuatan ekonomi G20 dengan laju pertumbuhan tertinggi di tahun 2026, mencapai angka impresif 6,2 persen. Kinerja ini secara jelas mengukuhkan posisi India sebagai lokomotif pertumbuhan global di antara negara-negara G20, didukung oleh fundamental ekonomi yang kuat seperti permintaan domestik yang kokoh, bonus populasi usia produktif, serta ekspansi yang dinamis di sektor jasa dan manufaktur.
Menyusul ketat di posisi kedua adalah Indonesia, dengan proyeksi pertumbuhan sebesar 4,9 persen. Capaian ini menunjukkan ketahanan konsumsi domestik yang luar biasa, stabilitas makroekonomi yang terjaga, serta peran penting bonus demografi dalam menopang aktivitas ekonomi nasional. Sementara itu, China berada di urutan ketiga dengan proyeksi pertumbuhan 4,2 persen, tetap menunjukkan ketahanan meskipun menghadapi penyesuaian struktural dan tekanan dari perlambatan ekonomi global.
Selain tiga raksasa ekonomi Asia tersebut, Argentina dan Arab Saudi juga diproyeksikan mencatatkan pertumbuhan yang signifikan, masing-masing sebesar 4,0 persen pada 2026. Turki menyusul dengan estimasi pertumbuhan 3,7 persen, sebuah angka yang masih menempatkannya di atas rerata pertumbuhan global G20.
Di sisi lain, negara-negara ekonomi maju menunjukkan laju pertumbuhan yang lebih moderat. Amerika Serikat dan Australia, misalnya, diperkirakan tumbuh pada level masing-masing 2,1 persen. Meskipun angka ini lebih baik jika dibandingkan dengan sejumlah negara Eropa, laju pertumbuhan mereka tetap berada di bawah performa negara-negara berkembang di Asia yang lebih dinamis.

Pada kelompok negara dengan pertumbuhan menengah, Brasil diperkirakan akan tumbuh sebesar 1,9 persen, diikuti oleh Korea Selatan dengan 1,8 persen. Sementara itu, Kanada dan Meksiko masing-masing diproyeksikan tumbuh 1,5 persen, menunjukkan performa yang stabil namun tidak terlalu akseleratif.
Zona Uni Eropa secara agregat diproyeksikan tumbuh 1,4 persen pada 2026, mencerminkan tantangan ekonomi di kawasan tersebut. Inggris diperkirakan mencatat pertumbuhan 1,3 persen, disusul oleh Afrika Selatan dengan 1,2 persen. Rusia berada sedikit di bawahnya dengan proyeksi pertumbuhan 1,0 persen.
Tren perlambatan lebih lanjut terlihat pada negara-negara Eropa inti. Jerman dan Prancis masing-masing hanya diproyeksikan tumbuh 0,9 persen. Bahkan, Italia berada pada posisi yang lebih rendah dengan pertumbuhan 0,8 persen, sebuah indikasi kuat lemahnya ekspansi ekonomi di kawasan ini.
Sebagai penutup dari daftar negara anggota G20, Jepang diperkirakan mencatat proyeksi pertumbuhan terendah, yakni hanya 0,6 persen pada 2026. Situasi ini menyoroti tantangan struktural fundamental yang masih membayangi ekonomi Jepang, mulai dari masalah populasi menua yang signifikan hingga lemahnya permintaan domestik.
Secara keseluruhan, proyeksi yang dirilis oleh IMF menegaskan bahwa peta pertumbuhan G20 pada 2026 akan sangat didominasi dan ditentukan oleh kinerja negara-negara berkembang, khususnya yang berada di kawasan Asia. Disparitas laju pertumbuhan antara ekonomi maju dan berkembang diperkirakan akan terus melebar, secara jelas menandai pergeseran signifikan pusat gravitasi ekonomi global menuju benua Asia.
Ringkasan
Proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) untuk pertumbuhan ekonomi negara anggota G20 tahun 2026 menunjukkan perbedaan signifikan, dengan negara berkembang diperkirakan tumbuh pesat sementara negara maju melambat. India memimpin dengan proyeksi pertumbuhan 6,2%, didukung fundamental ekonomi kuat, diikuti Indonesia di posisi kedua dengan 4,9% berkat konsumsi domestik dan stabilitas makroekonomi. Sementara itu, China berada di urutan ketiga dengan proyeksi pertumbuhan 4,2%.
Di sisi lain, negara-negara ekonomi maju seperti Amerika Serikat dan Australia diproyeksikan tumbuh moderat di 2,1%, dengan negara-negara Eropa inti seperti Jerman dan Prancis bahkan di bawah 1%. Jepang diperkirakan mencatat pertumbuhan terendah, hanya 0,6%. Secara keseluruhan, proyeksi IMF menegaskan bahwa pertumbuhan G20 2026 akan didominasi oleh negara berkembang, khususnya di Asia, menandai pergeseran pusat gravitasi ekonomi global.