KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek cerah masih menaungi emiten alat kesehatan hingga tahun 2026. Ekspansi layanan kesehatan nasional dan peningkatan kapasitas rumah sakit di berbagai daerah menjadi pendorong utama pertumbuhan sektor ini. Selain itu, alokasi anggaran kesehatan pemerintah yang semakin besar, dengan fokus pada peremajaan fasilitas kesehatan di wilayah regional, turut memberikan angin segar.
Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas, meyakini bahwa sektor alat kesehatan memiliki karakter defensif dengan potensi pertumbuhan yang solid di tahun mendatang. Ia menyoroti normalisasi trafik kunjungan ke rumah sakit pasca-pandemi sebagai salah satu faktor kunci yang mendongkrak permintaan alat kesehatan.
“Prospek tahun ini positif dan cenderung defensif. Pertumbuhan akan didorong oleh normalisasi trafik rumah sakit dan peningkatan anggaran kesehatan pemerintah yang terfokus pada peremajaan fasilitas di daerah,” ungkap Wafi kepada Kontan, Rabu (28/1/2026).
Dari sisi pergerakan saham, Wafi melihat peluang kelanjutan tren positif masih terbuka lebar, meskipun kewaspadaan terhadap potensi rotasi jangka pendek tetap diperlukan. Sepanjang tahun 2025, saham PT Hedzer Medical Indonesia Tbk (MEDS) mencatat lonjakan signifikan sebesar 76%. Sementara itu, PT UBC Medical Indonesia Tbk (LABS) naik 11,81% dan PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA) menguat 8,67%.
IHSG Trading Halt 30 Menit, Cek Jadwal Pembukaan Perdagangan Kembali
“Tren penguatan masih berpotensi berlanjut, namun ada kemungkinan terjadi rotasi terlebih dahulu. Saham MEDS rentan terhadap aksi profit taking, sehingga peluang bisa bergeser ke saham LABS dan IRRA yang secara valuasi masih tertinggal (laggard) namun memiliki fundamental yang solid,” jelasnya.
Program pemeriksaan kesehatan gratis yang digalakkan pemerintah, serta peningkatan kapasitas 66 rumah sakit daerah, juga diyakini akan memberikan dampak signifikan terhadap permintaan alat kesehatan, terutama untuk produk-produk habis pakai (consumables).
“Program ini memberikan dampak signifikan pada volume penjualan, terutama untuk barang-barang seperti jarum suntik dan reagen,” imbuh Wafi.
Namun, ia mengingatkan bahwa risiko tetap ada, terutama terkait volatilitas nilai tukar rupiah, mengingat sebagian besar bahan baku masih bergantung pada impor. Di sisi lain, kebijakan hilirisasi alat kesehatan dalam negeri dinilai sebagai katalis positif bagi produsen lokal.
“Ini tentu positif untuk produsen domestik, tetapi risiko pelemahan rupiah tetap menjadi tantangan karena mayoritas bahan baku masih diimpor,” katanya.
Untuk rekomendasi saham, Wafi mematok target harga IRRA di level Rp 580, LABS Rp 210, dan MEDS Rp 105.
MEDS Chart by TradingView
Senada dengan Wafi, Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menilai prospek sektor alat kesehatan tetap positif seiring dengan meningkatnya kepedulian pemerintah terhadap layanan kesehatan nasional.
“Ekspansi layanan kesehatan dan peningkatan kapasitas rumah sakit daerah diharapkan dapat mendorong kenaikan demand (permintaan) alat kesehatan,” ujarnya.
Menurut Abdul Azis, kelanjutan kenaikan harga saham emiten alat kesehatan sangat bergantung pada kinerja keuangan masing-masing perusahaan. Jika pertumbuhan laba mampu dipertahankan secara signifikan, maka potensi penguatan saham masih terbuka lebar.
“Saat ini, kami merekomendasikan trading buy untuk saham OMED dengan target harga Rp 250 hingga Rp 264,” pungkasnya.
Ringkasan
Emiten alat kesehatan diprediksi memiliki prospek cerah hingga 2026 didukung oleh ekspansi layanan kesehatan, peningkatan kapasitas rumah sakit, dan alokasi anggaran kesehatan pemerintah yang fokus pada peremajaan fasilitas kesehatan di daerah. Normalisasi trafik kunjungan ke rumah sakit pasca-pandemi juga menjadi faktor pendorong pertumbuhan sektor ini. Saham MEDS, LABS, dan IRRA menjadi sorotan dengan potensi kelanjutan tren positif, meskipun kewaspadaan terhadap potensi rotasi jangka pendek tetap diperlukan.
Program pemeriksaan kesehatan gratis oleh pemerintah dan peningkatan kapasitas rumah sakit daerah akan signifikan meningkatkan permintaan alat kesehatan, terutama produk habis pakai. Volatilitas nilai tukar rupiah menjadi risiko utama karena ketergantungan impor bahan baku, sementara kebijakan hilirisasi alat kesehatan dalam negeri menjadi katalis positif bagi produsen lokal. Rekomendasi saham meliputi target harga IRRA Rp 580, LABS Rp 210, dan MEDS Rp 105.