Shoesmart.co.id JAKARTA. Kinerja emiten properti kawasan industri diperkirakan masih menghadapi tantangan berat akibat investasi asing yang belum menggembirakan.
Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan bahwa realisasi penanaman modal asing (PMA) sepanjang 2025 mencapai Rp 900,9 triliun. Angka ini hanya tumbuh tipis 0,1% secara tahunan (year on year/YoY). Pertumbuhan ini jauh lebih lambat jika dibandingkan dengan pertumbuhan tahun 2024 yang mencapai 21% YoY.
Pemerintah mengakui bahwa perlambatan ini mencerminkan masih terbatasnya minat investor asing di tengah berbagai tekanan ekonomi global.
Austindo Nusantara Jaya (ANJT) Beri Penjelasan ke Bursa Soal Kredit Rp 4,84 Triliun
Indy Naila, Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, menilai data ekonomi ini mengindikasikan investor asing kini lebih selektif dalam menempatkan dananya.
“Hal ini tampaknya tidak berdampak langsung pada kinerja keuangan emiten properti kawasan industri, terutama jika kita juga mempertimbangkan sisi investasi domestik,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (23/1/2026).
Sementara itu, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata berpendapat bahwa perlambatan PMA sepanjang 2025 ini membuat kinerja emiten properti kawasan industri cenderung moderat, terutama dari sisi penjualan lahan.
Sebagai ilustrasi, PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) hanya berhasil menjual lahan seluas 18 hektare senilai Rp 352,6 miliar hingga September 2025. Angka ini turun drastis 87,3% YoY, terutama karena efek basis tinggi dari penjualan besar kepada BYD pada tahun sebelumnya.
Aksi Buyback Ramai pada Januari 2026, Cermati Saham Rekomendasi Analis
Senada dengan SSIA, PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) membukukan marketing sales sebesar Rp 626,4 miliar, atau baru 35% dari target Rp1,81 triliun.
Di sisi lain, PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) menjadi satu-satunya emiten yang mencatatkan pertumbuhan marketing sales. KIJA berhasil membukukan Rp 2,92 triliun, naik 22% YoY, setara dengan 83% dari target tahunan sebesar Rp 3,5 triliun.
“Namun, dampaknya tidak sampai menimbulkan kontraksi kinerja (sepanjang 2025), karena sektor ini tetap menyerap sekitar 7% total realisasi investasi nasional,” jelas Liza kepada Kontan, Jumat (23/1/2026).
Untuk tahun 2026, kinerja sektor ini diproyeksikan akan membaik secara bertahap. Optimisme ini didorong oleh target kenaikan investasi pemerintah, kelanjutan relokasi manufaktur global (CHINA+1), serta dorongan dari proyek hilirisasi.
“Sementara penahanan BI Rate di 4,75% menjaga stabilitas biaya pendanaan tanpa menjadi hambatan signifikan,” imbuh Liza.
Sentimen positif bagi sektor ini juga datang dari masuknya tenant industri bernilai tambah tinggi, seperti industri kendaraan listrik (EV), baterai, smelter, dan pusat data (data center). Namun, risiko kinerja sektor ini masih berasal dari ketidakpastian ekonomi global, perlambatan ekonomi China, dan persaingan kawasan industri regional.
Emiten Konsumer Siklikal Melaju di Awal Tahun 2026, Ini Rekomendasi Sahamnya
Secara keseluruhan, Liza melihat bahwa sektor kawasan industri pada tahun 2026 akan konstruktif namun selektif. “Tidak akan *booming* seperti periode 2022–2024, namun akan lebih baik dibandingkan 2025, terutama bagi emiten dengan *land bank* strategis dan basis tenant multinasional,” ungkapnya.
Menurut Indy, keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga di 4,75%, serta kekhawatiran terbatasnya penurunan suku bunga, dapat menyebabkan daya beli melemah. Hal ini berpotensi menekan kinerja keuangan emiten properti kawasan industri dari sisi margin laba.
“Namun, investor juga dapat memantau data ekonomi lain, seperti *loan growth* yang sudah mulai naik, meskipun masih ada keterbatasan untuk naik secara agresif,” sarannya.
Indy merekomendasikan investor untuk memperhatikan saham KIJA dan SSIA, dengan target harga masing-masing Rp 308 per saham dan Rp 1.795 per saham.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menambahkan bahwa masih ada ruang pemulihan untuk kinerja emiten properti kawasan industri pada tahun 2026.
“Tahun ini bisa lebih baik, terutama di semester II karena kondisi makroekonomi yang lebih baik,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (23/1/2026).
Suku bunga rendah menjadi katalis positif untuk menekan beban bunga para emiten properti kawasan industri. Sentimen positif ini juga dapat ditopang oleh peningkatan permintaan dari sektor pusat data (Data Center) dan kendaraan listrik (*electric vehicle*/EV).
“Tetapi, risiko geopolitik masih menghambat laju ekspansi asing,” ungkapnya.
Saham emiten properti kawasan industri saat ini dinilai masih murah, dengan *discount to revalued net asset value* (RNAV) yang cukup besar.
Melansir data RTI, saham SSIA turun 3,57% *year to date* (YTD) ke level Rp 1.620 per saham. Level *price to earning ratio* (PER) sebesar 884,03x dan *price to book value* (PBV) 1,33x.
Saham DMAS naik 8,53% YTD ke Rp 140 per saham, dengan PER 9,64x dan PBV 1,06x. Saham KIJA naik signifikan 34,29% YTD ke Rp 282 per saham, dengan PER 15,88x dan PBV 0,97x.
Sementara itu, saham PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST) naik 6,31% YTD ke Rp 118 per saham, dengan PER -44,23x dan PBV 0,26x.
“Pasar tampaknya sudah *priced-in*, sehingga risiko sudah terbatas,” katanya.
Wafi merekomendasikan untuk membeli saham SSIA, DMAS, dan BEST dengan target harga masing-masing Rp 1.850 per saham, Rp 180 per saham, dan Rp 140 per saham.
Ringkasan
Kinerja emiten properti kawasan industri diperkirakan menghadapi tantangan akibat pertumbuhan investasi asing yang melambat di tahun 2025. Meskipun realisasi PMA tumbuh tipis, investor asing dinilai lebih selektif. Perlambatan ini menyebabkan kinerja penjualan lahan beberapa emiten, seperti SSIA dan DMAS, cenderung moderat, meskipun KIJA mencatatkan pertumbuhan marketing sales.
Optimisme untuk tahun 2026 didorong oleh target kenaikan investasi pemerintah, relokasi manufaktur global, dan proyek hilirisasi. Sektor ini juga diuntungkan oleh masuknya industri bernilai tambah tinggi seperti kendaraan listrik dan pusat data. Analis merekomendasikan investor untuk memperhatikan saham KIJA dan SSIA, serta SSIA, DMAS, dan BEST karena valuasi yang masih murah.