JAKARTA – Kinerja investasi unitlink sepanjang tahun 2025 menunjukkan dinamika yang menarik. Unitlink berbasis saham berhasil mendominasi dengan catatan kinerja tertinggi, sedangkan unitlink berbasis pasar uang menempati posisi terendah. Menatap tahun 2026, prospek unitlink saham diprediksi tetap kuat, sementara unitlink pasar uang masih dianggap menarik sebagai pilihan investasi yang aman, meskipun dengan potensi imbal hasil yang berbeda.
Research Analyst Infovesta Kapital Advisori, Arjun Ajwani, memproyeksikan bahwa prospek unitlink saham akan terus mencatatkan kinerja positif di tahun 2026. Menurut Arjun, optimisme ini didukung oleh sejumlah sentimen positif dari pasar global. Salah satunya adalah kelanjutan rally atau penguatan harga saham-saham di sektor Artificial Intelligence (AI) dan teknologi secara global, yang secara signifikan mendorong sentimen positif di pasar saham.
Selain itu, potensi kelanjutan pemangkasan suku bunga oleh bank sentral global juga menjadi faktor pendukung utama yang dapat menggenjot kinerja unitlink saham. Dari sisi domestik, sentimen positif tak kalah kuat. Potensi kenaikan belanja negara dan stimulus pemerintah, bersama dengan kebijakan pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI), diharapkan akan memberikan dorongan signifikan. Ekspansi bisnis di sektor Energi Baru Terbarukan (EBT), pusat data (data center), serta proyek infrastruktur lainnya, termasuk proyek hilirisasi yang diprediksi akan mengalami ekspansi kuat tahun ini, turut memperkuat prospek positif ini.
Di sisi lain, Arjun memperkirakan prospek unitlink pasar uang tetap lumayan bagus di tahun 2026. Jenis investasi ini menawarkan stabilitas dan dapat menjadi pilihan investasi yang aman di tengah risiko domestik maupun global yang masih relatif tinggi. Oleh karena itu, unitlink pasar uang ideal sebagai strategi diversifikasi untuk mengurangi risiko dalam portofolio investasi secara keseluruhan.
Meskipun demikian, secara potensi return, Arjun menegaskan bahwa kinerja unitlink pasar uang kemungkinan akan kalah dibandingkan dengan instrumen pendapatan tetap dan saham di tahun 2026. Hal ini disebabkan oleh tren suku bunga yang diproyeksikan akan melanjutkan penurunan di tengah sentimen dovish pasar. Kebijakan ini diambil untuk mendukung pertumbuhan ekonomi serta menjaga inflasi tetap rendah dan terkendali. Dengan demikian, unitlink pasar uang, meskipun aman, secara potensi return tidak semenarik peluang yang ditawarkan oleh pendapatan tetap dan saham.
Data dari Infovesta secara year to date (ytd) hingga Desember 2025 mengkonfirmasi perbedaan kinerja tersebut. Rata-rata return unitlink berbasis saham tercatat sebesar 12,09%. Sementara itu, unitlink pasar uang hanya mencatatkan rata-rata return sebesar 4,24% sepanjang tahun 2025. Angka ini semakin memperjelas dominasi unitlink saham pada tahun lalu dan menjadi dasar proyeksi untuk tahun mendatang.
Ringkasan
Pada tahun 2025, unitlink berbasis saham menunjukkan kinerja superior dengan rata-rata return 12,09%, sementara unitlink pasar uang hanya mencatat 4,24%. Memasuki tahun 2026, prospek unitlink saham diproyeksikan tetap kuat, didukung oleh sentimen positif pasar global seperti penguatan sektor AI dan teknologi serta potensi pemangkasan suku bunga bank sentral. Dari sisi domestik, kenaikan belanja negara, stimulus pemerintah, dan pemangkasan suku bunga Bank Indonesia juga diharapkan akan mendorong kinerja unitlink saham.
Di sisi lain, unitlink pasar uang tetap dianggap menarik sebagai pilihan investasi yang aman dan stabil, ideal untuk diversifikasi portofolio di tengah risiko pasar yang tinggi. Namun, potensi imbal hasil unitlink pasar uang di tahun 2026 diperkirakan akan lebih rendah dibandingkan instrumen pendapatan tetap dan saham. Hal ini disebabkan oleh tren penurunan suku bunga yang bertujuan mendukung pertumbuhan ekonomi dan menjaga inflasi tetap terkendali.