Prediksi IHSG Minggu Ini: Peluang, Tantangan, dan Strategi Trading

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar saham domestik diprediksi akan bergejolak pada pekan ini. Beberapa faktor utama yang akan memengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) antara lain adalah agenda rebalancing indeks LQ45 dan rencana pengumuman pembaruan metodologi perhitungan free float oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Bursa Efek Indonesia (BEI) sendiri telah menjadwalkan perubahan komposisi indeks saham unggulan LQ45 pada bulan Februari mendatang. Sementara itu, MSCI berencana mengumumkan pembaruan aturan terkait metodologi free float pada tanggal 30 Januari 2026.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, memperkirakan bahwa dalam jangka pendek, IHSG masih berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Hal ini dipicu oleh respons pasar, terutama terhadap keputusan MSCI dan arah aliran dana asing.

IHSG Berpeluang Rebound pada Senin (26/1/2026), Cek Rekomendasi Saham Pilihannya

Reza menjelaskan bahwa pelaku pasar akan sangat memperhatikan potensi perubahan metodologi MSCI terkait free float. Perubahan ini dikhawatirkan dapat memicu arus keluar dana asing dari pasar modal Indonesia.

“Kekhawatiran tersebut mendorong pelaku pasar untuk mengurangi eksposur dan bersikap defensif, sambil menunggu kepastian keputusan dari MSCI,” ungkap Reza dalam risetnya pada Minggu (25/1/2026).

Secara teknikal, Reza melihat bahwa tren IHSG saat ini masih berada dalam fase bullish. Indeks berhasil rebound dari area support di kisaran 8.825–8.880. Jika rebound ini berlanjut, IHSG berpeluang menguat menuju area resistance di rentang 9.030–9.132.

Namun, dalam skenario bearish, jika IHSG gagal menembus resistance di level 8.980, indeks berisiko melanjutkan pelemahan dengan target support berikutnya di sekitar 8.850.

Pengamat pasar modal sekaligus Co-Founder Pasardana, Hans Kwee, juga menyoroti adanya tekanan pada IHSG dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini terjadi meskipun bursa global dan regional cenderung menunjukkan penguatan.

Menurut Hans, situasi ini dipengaruhi oleh sikap pelaku pasar yang masih menunggu hasil evaluasi dan pembaruan metodologi perhitungan free float saham Indonesia oleh MSCI.

“IHSG berpeluang konsolidasi menguat dengan support di level 8.837 sampai level 8.715 dan resistance di level 9.107 sampai level 9.174,” jelas Hans kepada Kontan, Minggu (25/1/2026).

Cermati Saham yang Banyak Dikoleksi Asing Sepekan Terakhir di Tengah Koreksi IHSG

Volatilitas Jangka Pendek

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menambahkan bahwa dalam jangka pendek, pergerakan IHSG berpotensi mengalami volatilitas seiring dengan semakin dekatnya jadwal rebalancing indeks LQ45.

Hal ini disebabkan oleh karakteristik saham-saham LQ45 yang memiliki tingkat likuiditas tinggi, sehingga setiap perubahan komposisi indeks seringkali memicu fluktuasi pasar.

Rebalancing LQ45 juga sering menjadi katalis masuknya dana asing maupun investor institusi,” terang Nafan kepada Kontan, Minggu (25/1/2026).

Bagi investor, strategi yang dapat diperhatikan adalah mengedepankan pendekatan teknikal, sambil tetap mempertimbangkan aspek valuasi, kinerja fundamental, serta arus kas emiten. Saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, BMRI, TLKM, BBNI, dan ADRO secara umum masih menjadi kelompok big caps yang dinilai layak untuk dicermati.

Selain itu, Research Analyst Henan Sekuritas, James Stanley Widjaja, berpendapat bahwa saham-saham yang berpeluang masuk ke dalam LQ45 berpotensi mengalami dorongan pembelian yang bersifat forced buying.

Namun, volatilitas jangka pendek diperkirakan masih akan cukup tinggi. Oleh karena itu, strategi investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor. James menekankan bahwa keputusan investasi sebaiknya tetap mengacu pada analisis teknikal, kondisi makroekonomi, serta kinerja fundamental emiten.

“Bagi investor jangka panjang, rebalancing dapat dimanfaatkan untuk evaluasi portofolio,” kata James kepada Kontan, Jumat (23/1/2026).

Ini Penyebab IHSG Tumbang 1,37% Dalam Sepekan

James juga memberikan beberapa rekomendasi saham yang layak dipantau investor saat ini. Salah satunya adalah ASII, yang saat ini masih menjalani strategic review atas portofolio bisnisnya, dengan target penyelesaian pada paruh pertama tahun 2026.

Berkaca pada pengalaman Hongkong Land Holdings dan Dairy Farm Group, dua anak usaha Jardine, proses strategic review yang disertai pelepasan aset berpotensi meningkatkan kemampuan perusahaan dalam membagikan dividen.

Dengan demikian, James menilai bahwa dividend yield ASII berpeluang meningkat pasca selesainya strategic review, dari estimasi saat ini sekitar 6,7% dengan asumsi dividend payout ratio sebesar 50%.

Sementara itu, pilihan lain yang layak dicermati adalah INCO. Emiten yang bergerak di bidang pertambangan ini telah memperoleh sekitar 30% kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dari total rencana produksi yang diajukan. Hal ini sejalan dengan kebijakan Kementerian ESDM yang menurunkan target produksi nikel nasional menjadi 250–260 juta ton pada 2026 guna menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan global serta menopang harga nikel.

Meskipun kuota yang diperoleh lebih rendah dari perkiraan awal, kebijakan tersebut dinilai berpotensi memberikan sentimen positif terhadap pergerakan harga nikel dunia.

James menyarankan untuk membeli (buy) saham ASII dengan target harga Rp 7.435-Rp 7.450 dan stop loss Rp 6.325-Rp 6.350, serta buy saham INCO di target harga Rp 6.975-Rp 7.000 dan

Managing Director Research dan Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menyampaikan bahwa saham-saham yang tergabung dalam indeks LQ45 berpeluang rebound dan mencatatkan kinerja yang lebih solid pada tahun 2026. Prospek tersebut didukung oleh potensi rotasi aliran dana yang kembali mengalir ke saham-saham berkapitalisasi besar.

Meskipun performa LQ45 tertekan sepanjang tahun 2025, valuasi yang dinilai relatif atraktif membuka peluang sektor perbankan dan konsumsi defensif menjadi motor pemulihan. Namun demikian, ketidakpastian global dan domestik masih berpotensi membayangi pergerakan pasar sepanjang tahun 2026.

“Setelah tertinggal dua tahun berturut-turut, LQ45 berpeluang mengalami re-rating karena valuasinya dinilai sudah atraktif dibanding IHSG,” ujar Harry Su kepada Kontan, Minggu (25/1/2026).

Sentimen pendukung pergerakan LQ45 adalah penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia dan The Fed. Hal ini diperkirakan akan mendorong minat investor terhadap saham-saham blue chip yang likuid, khususnya di sektor perbankan seperti BBCA dan BMRI, serta sektor telekomunikasi.

Di sisi lain, sejumlah risiko masih perlu diwaspadai pelaku pasar. Mulai dari tekanan harga komoditas, tingginya biaya dana, volatilitas pasar, hingga ketegangan geopolitik global berpotensi menjadi sentimen negatif bagi pergerakan indeks LQ45 ke depan.

James menyarankan buy saham ASII dengan target harga Rp 7.435-Rp 7.450 dan stop loss Rp 6.325-Rp 6.350, serta buy saham INCO di target harga Rp 6.975-Rp 7.000 dan stop loss Rp 5.900-Rp 5.925 per saham

Ringkasan

IHSG diperkirakan akan bergejolak minggu ini karena agenda rebalancing indeks LQ45 dan pengumuman pembaruan metodologi perhitungan free float oleh MSCI. Analis memperkirakan fluktuasi, dipicu respons pasar terhadap keputusan MSCI dan aliran dana asing. Investor disarankan untuk waspada dan mempertimbangkan pendekatan teknikal.

Beberapa analis merekomendasikan saham ASII dan INCO untuk diperhatikan. Saham-saham LQ45 berpotensi rebound didukung penurunan suku bunga, namun risiko global dan domestik tetap perlu diwaspadai. Strategi investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor serta analisis teknikal dan fundamental emiten.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *