Indonesia menyerukan kepada semua pihak yang terlibat konflik untuk menahan diri dan mengedepankan dialog serta diplomasi dalam menyelesaikan ketegangan yang meningkat di Timur Tengah. Pemerintah Indonesia juga menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran demi meredakan situasi yang semakin memanas.
Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI melalui akun resmi X menyatakan, “Indonesia kembali menekankan pentingnya menghormati kedaulatan dan integritas wilayah setiap negara serta menyelesaikan perbedaan melalui cara damai.” Pernyataan ini menegaskan komitmen Indonesia terhadap penyelesaian konflik secara damai dan penghormatan terhadap hukum internasional.
Lebih lanjut, Kemenlu RI menyatakan kesiapan Indonesia untuk memfasilitasi dialog konstruktif dengan tujuan menciptakan kondisi keamanan yang kondusif di kawasan Timur Tengah. Bahkan, “Apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia (Prabowo) bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi,” bunyi pernyataan Kemenlu RI, menunjukkan keseriusan Indonesia dalam upaya perdamaian ini.
Peningkatan ketegangan di Timur Tengah dinilai Kemenlu RI berpotensi mengganggu stabilitas kawasan, serta perdamaian dan keamanan dunia. Oleh karena itu, diplomasi harus terus diupayakan sebagai jalan keluar terbaik.
Di tengah situasi yang tidak pasti, Kemenlu RI mengimbau kepada seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di wilayah terdampak agar tetap tenang, waspada, dan mengikuti arahan dari otoritas setempat. Selain itu, WNI juga diminta untuk terus menjaga komunikasi dengan Perwakilan RI terdekat.
Juru bicara Kemenlu, Yvonne Mewengkang, menjelaskan bahwa Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tehran saat ini memfokuskan diri pada komunikasi intensif dengan WNI di Iran. KBRI Tehran juga telah menerbitkan edaran terbaru yang berisi saran dan langkah konkret yang dapat ditempuh WNI guna memastikan keselamatan dan keamanan mereka.
“Kami akan terus melakukan penilaian menyeluruh terhadap situasi keamanan dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan keselamatan WNI,” tegas Yvonne dalam pernyataan tertulisnya di Jakarta, Sabtu (28/2).
Dalam keadaan darurat, WNI dapat segera menghubungi hotline KBRI Tehran melalui nomor +98 9914668845 / +98 902 466 8889 atau Hotline Direktorat Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri melalui nomor +62 812-9007-0027.
Situasi di Timur Tengah sendiri semakin memprihatinkan. Serangan dilaporkan meluas ke sejumlah negara. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan rencana serangan besar-besaran ke Iran, menyusul serangan Israel ke Teheran pada hari Sabtu (28/2).
Serangan gabungan AS dan Israel tersebut dibalas oleh Iran dengan tembakan rudal balistik. Iran juga menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), dan Arab Saudi.
Televisi pemerintah Iran mengklaim bahwa serangan tersebut merupakan respons terhadap serangan terkoordinasi oleh AS dan Israel.
Seorang pejabat senior Iran kepada Al Jazeera menegaskan bahwa semua aset dan kepentingan Amerika dan Israel di Timur Tengah kini menjadi target yang sah. “Tidak ada garis merah setelah serangan terhadap Iran,” tegasnya.
Ledakan dilaporkan terjadi di Manama (Bahrain), Kuwait, Dubai dan Abu Dhabi (Uni Emirat Arab), seperti dilansir AFP dan Reuters.
Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab (UEA) menyatakan bahwa negaranya menjadi sasaran serangan langsung yang melibatkan rudal balistik Iran. “Sistem pertahanan udara UEA menangani rudal-rudal tersebut dengan efisiensi tinggi dan berhasil mencegat sejumlah rudal,” demikian pernyataan instansi tersebut seperti dikutip dari BBC.
Puing-puing rudal jatuh di area pemukiman di Abu Dhabi, menyebabkan kerusakan material dan menewaskan seorang warga sipil berkewarganegaraan Asia yang identitasnya belum diungkapkan.
UEA menjadi sasaran Iran karena Angkatan Udara AS beroperasi dari Pangkalan Udara Al Dhafra, yang terletak di selatan Abu Dhabi, bersama dengan Angkatan Udara UEA.
Di Bahrain, pihak berwenang mengkonfirmasi bahwa markas besar Armada Kelima Angkatan Laut AS telah menjadi sasaran serangan rudal. Asap terlihat mengepul dari distrik Juffair. Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengimbau warga untuk segera mencari tempat perlindungan.
Kementerian Pertahanan Qatar melaporkan bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat rudal Iran. Pemerintah Qatar mengeluarkan peringatan melalui telepon seluler, menyarankan warga untuk tetap berada di dalam ruangan dan menjauhi lokasi militer. Laporan terpisah menyebutkan bahwa rudal juga dicegat di atas wilayah Kuwait.
Media internasional juga melaporkan bahwa Arab Saudi, termasuk ibu kotanya, Riyadh, menjadi sasaran serangan, meskipun belum ada konfirmasi resmi dari pihak berwenang Saudi.
Eskalasi konflik ini berdampak signifikan pada perjalanan udara regional. Iran, Israel, Irak, Qatar, Kuwait, dan UEA telah menutup wilayah udara mereka. Maskapai penerbangan juga menangguhkan penerbangan ke dan dari Israel serta pusat-pusat utama di wilayah Teluk.
Ringkasan
Indonesia menyerukan semua pihak yang terlibat konflik di Timur Tengah untuk menahan diri dan mengedepankan dialog. Pemerintah Indonesia menyatakan kesiapannya memfasilitasi perundingan antara Amerika Serikat dan Iran, bahkan Presiden Prabowo bersedia melakukan mediasi di Teheran jika disetujui kedua belah pihak. Hal ini sebagai upaya meredakan ketegangan yang berpotensi mengganggu stabilitas kawasan dan keamanan dunia.
Kementerian Luar Negeri RI mengimbau WNI di wilayah terdampak agar tetap tenang, waspada, dan mengikuti arahan otoritas setempat serta menjaga komunikasi dengan Perwakilan RI. KBRI Tehran terus memantau situasi dan memberikan saran kepada WNI terkait keselamatan dan keamanan. Eskalasi konflik yang meluas telah berdampak pada penutupan wilayah udara dan penangguhan penerbangan di beberapa negara di kawasan tersebut.