PGAS: Prospek Saham & Strategi LNG, Peluang atau Risiko?

JAKARTA – Shoesmart.co.id – Saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) saat ini kurang mendapatkan sentimen positif, mengakibatkan kurangnya minat investor. Data dari Bloomberg Terminal menunjukkan bahwa mayoritas analis merekomendasikan untuk menahan (hold) saham PGAS.

Konsensus dari 23 analis memperkirakan target harga saham PGAS berada di level Rp2.025, sedikit di bawah harga saat ini yaitu Rp2.040. Pada penutupan perdagangan Jumat (13/3), saham PGAS mengalami koreksi sebesar 4,90% menjadi Rp1.940.

Dari total analis tersebut, 56,5% (13 analis) memberikan rekomendasi hold, hanya 4,3% (1 analis) merekomendasikan jual (sell), dan 39,1% (9 analis) merekomendasikan beli (buy). Salah satu perusahaan sekuritas yang memberikan rating hold adalah Sucor Sekuritas.

Menurut riset Analis Sucor Sekuritas, Niko Pandowo, yang diterbitkan pada 11 Maret 2026, PGAS mencatatkan rugi bersih sebesar US$23 juta pada kuartal IV/2025. Kinerja ini berbalik dari perolehan laba sebesar US$76 juta pada kuartal IV/2024 dan US$93 juta pada kuartal III/2025. Kerugian ini disebabkan oleh adanya impairment atau penurunan nilai aset Sesulu Selatan sebesar US$99,5 juta.

Secara keseluruhan, sepanjang tahun 2025, PGAS membukukan laba bersih sebesar US$215 juta, mengalami penurunan sebesar 37% secara tahunan (year-on-year/yoy). Penurunan laba bersih ini sebenarnya telah diprediksi sebelumnya dan bahkan sedikit lebih baik dari estimasi yang dibuat oleh Sucor Sekuritas.

Niko menjelaskan bahwa keterbatasan pasokan gas pada tahun 2025 menjadi tantangan utama bagi bisnis hilir PGAS. Laba kotor di segmen hilir mengalami penurunan sebesar 7% yoy menjadi US$592 juta. Hal ini disebabkan oleh penurunan margin distribusi menjadi sekitar US$1,9 per MMBTU (turun 5% yoy) dan penurunan volume sebesar 2% yoy menjadi 863 BBTUD.

“Situasi ini mencerminkan pasokan gas pipa yang semakin terbatas serta peningkatan penggunaan LNG yang memiliki biaya lebih tinggi, mencapai sekitar 12%,” ungkap Niko dalam risetnya, seperti dikutip pada Jumat (13/3/2026).

Sementara itu, segmen hulu juga mengalami penurunan laba kotor sebesar 47% yoy menjadi US$26 juta. Penurunan ini disebabkan oleh penurunan harga jual rata-rata (ASP) menjadi sekitar US$42 per MMBOE (turun 8% yoy), serta penurunan produksi sebesar 15% yoy menjadi 17.519 BOEPD akibat penurunan alami (deplesi) di beberapa blok.

Melihat ke depan, Niko memperkirakan bahwa PGAS akan mendapatkan dukungan dari segmen LNG. Secara konsolidasi, laba perseroan pada tahun 2026-2027 diperkirakan masing-masing sebesar US$276 juta (naik 28% yoy) dan US$290 juta (naik 5% yoy).

“Kenaikan ini didukung oleh basis laba yang lebih bersih tanpa adanya impairment seperti yang terjadi pada tahun 2025, meskipun pertumbuhan diperkirakan akan melambat seiring dengan penurunan pasokan gas pipa,” jelasnya.

Merujuk pada target operasional yang ditetapkan oleh perusahaan, PGAS menargetkan volume perdagangan gas sebesar 877 BBTUD pada tahun ini, atau tumbuh 5% yoy, dengan kontribusi LNG sekitar 20% dari total pasokan.

Saat ini, PGAS telah mengamankan 14 kargo LNG dari pemasok domestik, dan 5 kargo tambahan masih dalam tahap finalisasi.

Seiring dengan margin perdagangan gas yang diperkirakan berada di kisaran US$1,65 hingga 1,85 per MMBTU, Niko memproyeksikan produksi hulu akan pulih menjadi 19.162 BOEPD, atau tumbuh 9% yoy.

“Hal ini didukung oleh optimalisasi aset dan pengeboran sumur baru di Muara Bakau. PGAS juga menargetkan belanja modal (capex) tahun 2026 sebesar US$353 juta, atau tumbuh 25% yoy, dengan alokasi 62% untuk segmen hilir dan 38% untuk segmen hulu,” pungkasnya.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan untuk mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Ringkasan

Saham PGAS saat ini kurang diminati investor, dengan mayoritas analis memberikan rekomendasi tahan (hold). Target harga saham PGAS diperkirakan sedikit di bawah harga saat ini. PGAS mencatatkan rugi bersih pada kuartal IV/2025 akibat impairment aset, meskipun secara keseluruhan tahun 2025 masih membukukan laba bersih yang menurun 37% secara tahunan.

Keterbatasan pasokan gas menjadi tantangan utama bagi bisnis hilir PGAS. Namun, PGAS diperkirakan akan mendapatkan dukungan dari segmen LNG pada tahun 2026-2027. Perusahaan menargetkan pertumbuhan volume perdagangan gas dengan kontribusi LNG yang signifikan dan berencana untuk meningkatkan belanja modal di segmen hilir dan hulu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *