Shoesmart.co.id SINGAPURA. Moody’s Ratings secara resmi mengonfirmasi kembali peringkat kredit Baa3 untuk PT Indosat Tbk (ISAT) dengan outlook stabil. Penegasan peringkat ini menjadi cerminan nyata dari posisi pasar Indosat yang sangat kompetitif dan kuat dalam industri seluler Indonesia, didukung oleh profil kredit yang tetap solid dan konsisten dengan level peringkat saat ini.
Anthony Prayugo, Analis Moody’s Ratings, menjelaskan dalam rilisnya, “Penegasan ini secara khusus menyoroti fundamental pasar Indosat yang telah mapan di pasar seluler Indonesia, serta metrik kreditnya yang kuat dan selaras dengan peringkat yang diberikan saat ini.” Ini menunjukkan kepercayaan Moody’s terhadap stabilitas operasional dan finansial perusahaan.
Lebih lanjut, kekuatan kredit Indosat diperkokoh oleh struktur kepemilikan strategisnya. Perusahaan ini secara tidak langsung dikendalikan bersama oleh Ooredoo Q.P.S.C. dan CK Hutchison Holdings Limited, masing-masing dengan kepemilikan 32,8% saham. Kedua pemegang saham utama tersebut sama-sama memiliki peringkat kredit A2 dengan outlook stabil, memberikan fondasi dukungan yang kuat bagi Indosat.
Meskipun demikian, ada beberapa faktor yang membatasi potensi peningkatan peringkat Indosat. Keterbatasan ini terutama berasal dari skala usaha perusahaan yang secara relatif lebih kecil dibandingkan dengan para pesaing global serta konsentrasi geografis operasionalnya yang sepenuhnya berada di Indonesia.
Untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada September 2025, Indosat mencatat sedikit penurunan pendapatan sebesar 1,6% dan EBITDA sebesar 3,3% secara tahunan. Penurunan ini terutama diakibatkan oleh strategi rasionalisasi pelanggan yang diterapkan perusahaan. Namun, langkah strategis tersebut terbukti berhasil meningkatkan ARPU Indosat menjadi Rp 40.000, melampaui Rp 37.200 pada periode yang sama tahun sebelumnya, menandakan kualitas pelanggan yang lebih baik.
Melihat ke depan, Moody’s memproyeksikan bahwa pertumbuhan ARPU yang berkelanjutan dan ekspansi segmen enterprise akan menjadi pendorong utama pertumbuhan pendapatan dasar Indosat, diperkirakan mencapai sekitar 2%–3% pada tahun 2026. Proyeksi ini tidak termasuk dampak dari divestasi aset fiber yang signifikan.
Pada Desember 2025, Indosat telah mengumumkan langkah strategis divestasi aset fiber kepada FiberCo, sebuah perusahaan patungan yang dibentuk bersama dengan Arsari Group dan Northstar Group. Nilai transaksi Indosat ini diperkirakan mencapai sekitar Rp 14,6 triliun dan akan menghasilkan arus kas sekitar Rp 8 triliun bagi Indosat.
Moody’s menilai bahwa langkah strategis ini akan memberikan berbagai keuntungan penting. Divestasi aset ini tidak hanya memperkuat likuiditas Indosat secara substansial, tetapi juga mengurangi intensitas belanja modal dalam jangka panjang. Lebih jauh lagi, inisiatif ini mendukung transformasi Indosat menuju model bisnis asset-light yang lebih efisien, tanpa mengganggu arah pertumbuhan jangka panjang perusahaan.
Profitabilitas Indosat diperkirakan akan tetap kuat, dengan margin EBITDA yang bertahan di kisaran 48%, didukung oleh efisiensi biaya yang berkelanjutan. Belanja modal tahunan, tidak termasuk pembayaran sewa, diproyeksikan sekitar Rp 13 triliun, sementara arus kas operasional dinilai lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pendanaan tanpa ketergantungan signifikan pada utang baru.
Selain itu, Moody’s memperkirakan Indosat akan membagikan dividen tahunan di atas Rp 3 triliun. Angka ini sejalan dengan kebijakan terbaru perusahaan yang menargetkan pembagian dividen hingga 70% dari laba bersih konsolidasi yang dinormalisasi pada tahun 2026, menunjukkan komitmen kepada pemegang saham.
Dengan kondisi finansial yang solid ini, rasio utang terhadap EBITDA yang disesuaikan oleh Moody’s diperkirakan akan bertahan di sekitar 2,0 kali hingga tahun 2027. Level ini dinilai sangat nyaman dan mendukung peringkat Indosat saat ini. Meskipun demikian, keterbatasan skala Indosat dan fokus geografis masih menjadi faktor pembatas peluang kenaikan peringkat dalam waktu dekat.
Likuiditas Indosat dinilai sangat kuat oleh Moody’s. Per 30 September 2025, perusahaan memiliki kas dan setara kas sebesar Rp 2,4 triliun. Ditambah dengan proyeksi arus kas operasi sekitar Rp 30 triliun dan fasilitas kredit komitmen yang belum ditarik sebesar Rp 5,4 triliun, total likuiditas ini lebih dari cukup untuk menutup kebutuhan belanja modal, pembayaran kepada pemegang saham, serta jatuh tempo utang hingga Maret 2027.
Akses Indosat yang baik ke pasar perbankan dan obligasi domestik juga menjadi faktor pendukung signifikan yang memperkuat posisi likuiditas perusahaan.
Outlook stabil Indosat ini mencerminkan ekspektasi Moody’s bahwa perusahaan akan terus menghasilkan pendapatan dan arus kas yang kuat, sehingga metrik kreditnya tetap konsisten dengan peringkat Baa3. Ini menunjukkan kepercayaan terhadap kinerja dan manajemen keuangan Indosat di masa mendatang.
Peluang kenaikan peringkat Indosat dapat muncul jika perusahaan berhasil meningkatkan skala operasi secara signifikan, memperkuat posisi pasar, dan melakukan diversifikasi geografis. Syarat tambahan untuk kenaikan peringkat adalah rasio utang/EBITDA tetap di bawah 2,5 kali dan rasio arus kas ditahan terhadap utang berada di atas 35%–40% secara berkelanjutan.
Sebaliknya, tekanan penurunan peringkat dapat terjadi jika profil kredit Indosat memburuk secara signifikan akibat persaingan yang semakin ketat, perubahan regulasi yang merugikan, penurunan pangsa pasar, atau melemahnya profitabilitas dan arus kas. Kenaikan utang Indosat yang substansial juga dapat menekan peringkat yang ada.
Moody’s secara spesifik menyebutkan indikator penurunan peringkat ke Ba1, antara lain jika rasio utang/EBITDA bergerak di atas 3,0 kali atau rasio arus kas ditahan terhadap utang berada di bawah 30%–35% secara berkelanjutan.
Ringkasan
Moody’s Ratings secara resmi mengonfirmasi peringkat kredit Baa3 untuk PT Indosat Tbk (ISAT) dengan outlook stabil. Penegasan ini mencerminkan posisi pasar Indosat yang kompetitif dan kuat di industri seluler Indonesia, didukung oleh profil kredit yang solid. Kekuatan kredit Indosat diperkuat oleh struktur kepemilikan strategis bersama Ooredoo dan CK Hutchison yang sama-sama memiliki peringkat A2 dengan outlook stabil. Meskipun demikian, skala usaha perusahaan yang relatif lebih kecil dan konsentrasi geografis di Indonesia menjadi faktor pembatas potensi peningkatan peringkat.
Indosat berhasil meningkatkan ARPU meskipun ada sedikit penurunan pendapatan akibat rasionalisasi pelanggan, dengan proyeksi pertumbuhan pendapatan berkelanjutan dari ARPU dan segmen enterprise. Langkah divestasi aset fiber senilai Rp 14,6 triliun akan memperkuat likuiditas, mengurangi belanja modal, dan mendukung transformasi ke model bisnis asset-light. Moody’s memperkirakan profitabilitas Indosat akan tetap kuat, dengan rasio utang/EBITDA yang disesuaikan stabil di sekitar 2,0 kali hingga 2027. Likuiditas perusahaan juga dinilai sangat kuat, memastikan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pendanaan dan kewajiban.