Shoesmart.co.id, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) telah memetakan potensi dampak eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran, terhadap perekonomian Indonesia. Ada tiga jalur utama yang diidentifikasi sebagai rambatan risiko.
Menurut Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, ketegangan geopolitik ini dapat memicu efek multisektoral dan memengaruhi pasar global secara luas. BI membagi potensi risiko tersebut ke dalam tiga jalur utama: jalur finansial, jalur harga komoditas, dan jalur perdagangan. Ketiga jalur ini perlu diwaspadai dampaknya terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Pada jalur finansial, Destry menjelaskan bahwa dampak langsung dari konflik Iran-Israel terhadap sektor keuangan tidak terlalu signifikan, mengingat kedua negara tersebut bukanlah pusat keuangan global utama. Akan tetapi, dampak tidak langsungnya berpotensi besar karena melibatkan peran sentral Amerika Serikat.
Posisi AS sebagai pusat keuangan dunia menjadikan setiap ketidakpastian pasar dan peningkatan sentimen risiko dapat memicu perilaku *risk-off* di kalangan investor. Dalam situasi ini, investor cenderung menghindari aset berisiko dan mengalihkan dana mereka ke aset yang lebih aman, terutama di negara-negara maju.
“Arus modal ke *emerging market* [negara berkembang] mengalami penurunan. Indonesia juga merasakan dampaknya. Meskipun mulai ada *inflow* [arus masuk] ke Surat Berharga Negara (SBN), saham, dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), secara keseluruhan kita masih mencatat *outflow* [arus keluar] sekitar Rp21 triliun,” jelas Destry dalam Central Banking Forum 2026 di Jakarta, Senin (13/4/2026).
Tekanan pada jalur finansial juga tercermin dari menguatnya indeks dolar AS (DXY), kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury yang mencapai level 4,5%—4,6%, serta meningkatnya ekspektasi inflasi dan premi risiko. Kombinasi faktor-faktor ini berujung pada peningkatan tekanan terhadap nilai tukar mata uang global, termasuk rupiah.
Beralih ke jalur harga komoditas, Destry memaparkan bahwa secara langsung, harga minyak mentah global mengalami kenaikan. Meskipun pangsa produksi minyak Iran hanya 5% dari total produksi global, keberadaan Selat Hormuz sebagai jalur transit utama bagi 20% pasokan minyak dunia menjadikan potensi gangguan distribusi sangat krusial dan berdampak besar.
Dampak tidak langsung (indirect impact) dari jalur ini adalah kenaikan harga komoditas lainnya. Emas melonjak sebagai aset *safe haven*, diikuti oleh kenaikan harga batu bara, LNG, aluminium, hingga minyak kelapa sawit mentah (CPO). Kenaikan harga batu bara dipicu oleh sejumlah negara yang mulai bersiap dengan energi alternatif.
Menariknya, Destry menilai bahwa rambatan tidak langsung dari jalur komoditas ini justru memberikan dampak ganda yang menguntungkan bagi kinerja ekspor Indonesia. Hal ini karena Indonesia merupakan produsen dan eksportir komoditas seperti batu bara, CPO, dan emas.
“Jadi sebenarnya *indirect impact*-nya ini cukup bagus buat Indonesia, karena kita menghasilkan batu bara, CPO, dan emas yang bisa kita ekspor. Jadi kita perlu *balance* dalam menganalisa, memang harga minyak naik, tapi harga komoditas andalan ekspor RI juga meningkat,” paparnya.
Terakhir, pada jalur perdagangan, Destry menjelaskan bahwa kontribusi produk domestik bruto (PDB) maupun pangsa ekspor-impor Iran terhadap perdagangan global relatif kecil, yaitu di bawah 1%. Namun demikian, potensi hambatan distribusi di Selat Hormuz dapat memicu disrupsi rantai pasok (supply chain) bagi negara-negara seperti Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi. Kondisi ini dapat merambat kepada mitra dagang utama di kawasan tersebut, seperti China, India, Irak, dan Turki.
“Ini meningkatkan biaya pengapalan dan premi asuransi, jadi logistiknya juga naik. Sehingga terjadi gangguan terhadap global supply chain,” terang Destry.
Sebagai kesimpulan, Bank Indonesia memproyeksikan bahwa akumulasi dari ketiga jalur transmisi tersebut akan bermuara pada naiknya harga komoditas secara luas, termasuk produk pertanian dan plastik manufaktur.
Pada skala makroekonomi, situasi ini berpotensi menyebabkan pertumbuhan PDB global melambat dibandingkan tahun 2025, namun dibayangi oleh tingkat inflasi yang lebih tinggi.
“Ini kondisi yang tidak terlalu bagus buat ekonomi global ya, yang namanya stagflasi. Ekonominya stagnan, inflasinya naik. Nah jadi ini yang tentu dampaknya respon kebijakan ini menjadi penting,” pungkas Destry.
Ringkasan
Bank Indonesia (BI) memetakan tiga potensi dampak eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah terhadap perekonomian Indonesia. Ketiga jalur utama risiko tersebut adalah jalur finansial, jalur harga komoditas, dan jalur perdagangan. Konflik ini dapat memicu efek multisektoral dan memengaruhi pasar global, sehingga perlu diwaspadai dampaknya terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Pada jalur finansial, investor cenderung menghindari aset berisiko dan mengalihkan dana ke aset yang lebih aman, menyebabkan *outflow* dari *emerging market* termasuk Indonesia. Sementara itu, pada jalur harga komoditas, kenaikan harga minyak mentah global dan komoditas lainnya seperti batu bara dan CPO dapat memberikan dampak ganda bagi ekspor Indonesia. Terakhir, pada jalur perdagangan, potensi hambatan distribusi di Selat Hormuz dapat memicu disrupsi rantai pasok global.