Shoesmart.co.id – Sentimen negatif menyelimuti pasar saham Asia pada perdagangan Senin (23 Maret 2026) akibat meningkatnya tensi antara Amerika Serikat dan Iran, yang sekaligus mendorong penguatan nilai dolar AS. Eskalasi ini, diperparah dengan peringatan Israel terkait rencana pertempuran “berminggu-minggu,” memicu volatilitas ekstrem pada harga minyak global.
Ketegangan mencapai titik didih setelah Iran, pada hari Minggu (22 Maret 2026), mengancam akan menyerang infrastruktur energi dan air negara-negara tetangganya di kawasan Teluk jika Presiden Donald Trump merealisasikan ancamannya untuk menyerang jaringan listrik Iran dalam kurun waktu 48 jam.
Presiden Trump sendiri memberikan ultimatum kepada Iran, menuntut pembukaan Selat Hormuz dalam waktu 48 jam. Selat strategis ini dilaporkan hampir tertutup bagi lalu lintas kapal.
Apexindo Pratama Duta (APEX) Raih Pendapatan US$ 84,24 Juta pada 2025
Reaksi pasar terhadap ancaman konflik ini terlihat jelas pada penurunan indeks saham Australia sebesar 1,7% dan Selandia Baru sebesar 1,1% di awal perdagangan. Sementara itu, futures Nikkei Jepang diperdagangkan di level 50.850, lebih rendah dibandingkan penutupan hari Jumat di 53.372.
Di bursa Wall Street, futures S&P 500 mengalami penurunan sebesar 0,1% dan Nasdaq turun 0,2%, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap potensi dampak konflik terhadap harga energi dunia.
Shane Oliver, Kepala Strategi Investasi di AMP, memberikan proyeksi yang cukup suram, dengan menyatakan, “Perang ini dapat berlangsung selama berminggu-minggu, dan harga minyak berpotensi melonjak hingga US$150 per barel. Kerusakan berkelanjutan pada infrastruktur energi akan memperlambat pemulihan pasokan.”
Lebih lanjut, Oliver menambahkan, “Berkaca pada pengalaman sebelumnya, kenaikan harga minyak akibat krisis umumnya berlangsung selama beberapa bulan. Krisis tahun 1973 membutuhkan waktu sekitar 4 bulan, sementara krisis tahun 1979 memakan waktu hingga satu tahun.”
Obligasi Lontar Papyrus (LPPI) Senilai Rp 2,72 Triliun Jatuh Tempo pada Juli 2026
Harga Energi Bergolak Akibat Ketegangan Geopolitik
Harga minyak di pasar Asia menunjukkan volatilitas yang tinggi. Minyak mentah Brent mengalami penurunan sebesar 0,3% menjadi US$111,82 per barel, meskipun secara keseluruhan mengalami kenaikan sebesar 55% sepanjang bulan ini. Sementara itu, WTI turun 0,2% menjadi US$98,01 per barel. Kondisi ini menggambarkan betapa sensitifnya pasar energi terhadap perkembangan geopolitik.
Analis dari HSBC menyoroti kenaikan signifikan pada harga jet fuel di Singapura, yang melonjak 175% sepanjang tahun ini dan mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade. Selain itu, harga LNG Asia naik 130%, dan harga bunker fuel untuk kapal juga mengalami peningkatan tajam, yang secara langsung meningkatkan biaya transportasi barang secara global.
Lonjakan harga pupuk juga menjadi perhatian, karena berpotensi memicu kenaikan harga pangan, yang akan semakin memperburuk situasi ekonomi global.
Konflik Timur Tengah Masih Memanas, Harga Minyak Mentah Diproyeksi Terus Naik
Tekanan Inflasi Meningkat, Pasar Bereaksi
Kenaikan harga energi yang berkelanjutan telah memupuskan harapan pasar terhadap potensi pelonggaran moneter lebih lanjut secara global. Akibatnya, banyak negara maju mulai mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunga guna mengendalikan inflasi.
“Kombinasi antara lonjakan biaya produksi dan melemahnya permintaan konsumen membayangi prospek laba perusahaan. Sementara itu, kenaikan imbal hasil obligasi membuat valuasi ekuitas terlihat semakin mahal,” ungkap seorang analis pasar.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun saat ini berada di level 4,3856%, naik 42 basis poin sejak konflik dimulai. Pergerakan ini menunjukkan bagaimana pasar obligasi bereaksi terhadap ketidakpastian dan risiko inflasi yang meningkat.
Volatilitas pasar turut menguntungkan dolar AS sebagai aset safe haven yang likuid, terutama mengingat posisi AS sebagai eksportir energi bersih, berbanding terbalik dengan Eropa dan sebagian besar negara Asia yang merupakan importir energi.
BEI Tunda Implementasi Short Selling hingga September 2026, Ini Alasannya
Dolar AS menguat 0,2% menjadi 159,44 yen, sedikit di bawah level tertinggi dalam 20 bulan terakhir di 159,88 yen. Sementara itu, euro sedikit melemah terhadap dolar AS menjadi US$1,1545, mendekati level support utama di US$1,1409–1,1392.
Di pasar komoditas, harga emas menguat 0,4% menjadi US$4.511 per ons setelah mengalami pelemahan pada pekan sebelumnya. Investor terus mencermati prospek kenaikan suku bunga global, yang dapat memengaruhi daya tarik emas sebagai aset investasi.
Ringkasan
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran telah memicu kekhawatiran global, menyebabkan bursa saham Asia mengalami penurunan signifikan dan harga minyak serta dolar AS bergejolak. Ancaman serangan terhadap infrastruktur energi dan ultimatum terkait Selat Hormuz memperparah situasi, mendorong investor untuk mencari aset safe haven seperti dolar AS.
Kenaikan harga energi, terutama jet fuel dan LNG, berpotensi meningkatkan biaya transportasi global dan harga pangan, menambah tekanan inflasi. Pasar kini mengurangi ekspektasi pelonggaran moneter dan mempertimbangkan kenaikan suku bunga untuk mengendalikan inflasi, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS juga mengalami kenaikan.