
Shoesmart.co.id – JAKARTA. Serangan militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026, yang dikabarkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, telah mengguncang dunia. Konflik ini tidak hanya mendorong kawasan Timur Tengah ke jurang konflik baru, tetapi juga memicu kekhawatiran mendalam di pasar komoditas global.
Rahma Gafmi, Guru Besar Universitas Airlangga (Unair), menjelaskan betapa strategisnya posisi geografis Iran. Terletak di antara Teluk Persia dan Laut Oman, Iran memegang kendali atas Selat Hormuz, jalur laut vital yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia.
“Jika Selat Hormuz sampai ditutup, dampaknya akan sangat besar terhadap pasokan minyak global. Kita bisa melihat harga minyak melonjak dan ekonomi global terganggu,” tegas Rahma saat dikonfirmasi Kontan, Minggu (1/3/2026).
Penjualan Salim Ivomas Pratama (SIMP) Naik 32% ke Rp 21,06 Triliun di 2025
Selain Selat Hormuz, Rahma juga menyoroti pentingnya Bab el-Mandeb, jalur laut yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Dengan demikian, Iran memiliki potensi besar untuk mempengaruhi ekonomi global melalui posisinya yang strategis, bahkan tanpa harus memiliki senjata nuklir.
“Namun, kita harus selalu ingat bahwa situasi geopolitik di Timur Tengah sangat kompleks dan dinamis. Perubahan bisa terjadi dengan sangat cepat, sehingga kewaspadaan dan pemantauan yang seksama sangat diperlukan,” imbuhnya.
Selat Hormuz, lanjut Rahma, bukanlah sekadar jalur perairan biasa. Ia adalah titik krusial yang memengaruhi denyut nadi ekonomi dunia. Meskipun lebarnya hanya 21 mil, hampir 30% pasokan minyak dunia, atau sekitar 20 juta barel per hari, melewati selat ini. Belum lagi pasokan LNG yang sangat penting bagi Eropa. Bahan bakar untuk mobil, pesawat, dan pabrik, semuanya bergantung pada jalur tersebut.
“Sejarah telah membuktikan dampaknya. Kita lihat saja Perang Tanker tahun 1980-an dan kejadian di tahun 2019. Bahkan serangan terbatas saja sudah cukup membuat harga minyak melonjak tajam karena kekhawatiran terhambatnya pasokan,” ungkap Rahma.
Ekonom Bright Institute, Yanuar Rizky, menambahkan bahwa bulan Maret biasanya diwarnai koreksi pasar akibat re-balancing portofolio hedge fund.
Menurutnya, banyak proyeksi tentang rebalancing (market allocation) portofolio di bulan Maret-Mei mengaitkan harga minyak sebagai variabel kunci yang akan mendorong koreksi di pasar ekuitas global, mulai dari level moderat hingga yang paling ekstrem, yaitu crash.
“Asumsi outlook rebalancing ini muncul sebelum serangan ke Iran, dengan skenario harga minyak (WTI) di bawah US$ 65 per barel, di kisaran US$ 65-US$ 70 per barel, dan di atas US$ 70 per barel,” jelas Yanuar.
Dengan krisis yang terjadi di Iran saat ini, Yanuar melihat kemungkinan harga minyak WTI akan bergerak ke skenario moderat di level US$ 65-US$ 70 per barel, atau bahkan skenario crash dengan harga minyak WTI di atas US$ 70 per barel.
“Jika harga minyak reli di atas US$ 70 pada Maret-Mei, kemungkinan besar bursa saham dan surat utang pemerintah akan terkoreksi tajam. Jika di kisaran US$ 65-US$ 70, kita mungkin akan melihat inflasi yang meningkat, tetapi daya beli konsumen energi juga akan tertahan. Jadi, volatilitas saham dan yield akan meningkat,” papar Yanuar.
KISI Bakal Bawa 8 Perusahaan IPO di 2026, Ada Lighthouse Company
Sementara itu, Analis Komoditas Ibrahim Assuaibi menyoroti babak baru memanasnya geopolitik di Timur Tengah. Situasi ini berpotensi memicu kekhawatiran besar pada sejumlah komoditas global.
Multiplier effect dari serangan ini tidak hanya berdampak pada harga komoditas minyak global, tetapi juga dapat mendongkrak harga emas dunia.
“Kemungkinan besar harga emas akan naik,” ujar Ibrahim.
Jika perang terus berkecamuk, Ibrahim memperkirakan harga emas dunia akan berada di level US$ 6.000 per troi ons pada akhir kuartal I – 2026. Sedangkan harga emas Antam berpotensi mencapai Rp 3,5 juta per gram. Sementara harga minyak WTI diproyeksi mencapai US$ 80 per barel pada akhir kuartal I – 2026.
Lebih lanjut, Rahma menjelaskan potensi dampak perang AS-Iran terhadap Indonesia. Pertama, jika terjadi gangguan di Selat Hormuz, harga minyak global bisa melonjak, sehingga meningkatkan beban subsidi BBM dan listrik di Indonesia.
“Ini bisa memaksa pemerintah untuk merealokasi anggaran pembangunan ke arah perlindungan sosial,” jelas Rahma.
Kedua, pelemahan rupiah bisa semakin dalam, bahkan bisa mencapai Rp 17.000 per dolar AS. Pelemahan rupiah tersebut akan memicu inflasi barang impor karena banyak bahan baku industri manufaktur Indonesia masih bergantung pada pasar luar negeri.
IHSG Berpotensi Konsolidasi pada Maret 2026 di Tengah Eskalasi Konflik Iran
Ketiga, instabilitas di Timur Tengah bisa memicu gerakan radikal transnasional, dan sentimen anti-Barat yang meningkat bisa dimanfaatkan oleh aktor non-negara untuk mengaktifkan kembali sel-sel tidur di Asia Tenggara.
Rahma mendorong pemerintah memperkuat fondasi ekonomi dengan fokus pada pembangunan ekonomi dalam negeri, terutama sektor energi. Hal ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada impor minyak dan menghadapi fluktuasi harga minyak dunia.
Diversifikasi energi dapat meningkatkan penggunaan energi baru dan terbarukan (EBT) untuk mengurangi ketergantungan pada minyak dan gas.
Indonesia juga dapat mendorong diplomasi aktif, yaitu meningkatkan kerja sama dengan negara-negara di kawasan Timur Tengah dan organisasi internasional untuk mendorong penyelesaian damai konflik. Penguatan keamanan siber dan intelijen untuk mengantisipasi ancaman radikalisasi dan terorisme juga perlu dilakukan.
Rahma menyebut, situasi geopolitik di Timur Tengah saat ini sangat kompleks dan tidak stabil. Konflik antara Iran dan Israel saja telah menyebabkan lonjakan harga minyak dan meningkatkan ketegangan di kawasan. Apalagi Amerika sekarang terang-terangan mengancam Iran dengan serangannya.
“Indonesia perlu mengambil langkah-langkah untuk menghadapi dampak ekonomi dan keamanan dari konflik ini,” pungkas Rahma.
Ringkasan
Serangan gabungan AS-Israel ke Iran memicu kekhawatiran global, terutama di pasar komoditas. Iran yang strategis, mengendalikan Selat Hormuz, memiliki potensi besar mempengaruhi pasokan minyak dunia. Penutupan selat ini dapat mendorong harga minyak melonjak dan mengganggu ekonomi global, demikian disampaikan Guru Besar Unair, Rahma Gafmi.
Konflik ini tidak hanya berdampak pada harga minyak, tetapi juga berpotensi menaikkan harga emas. Analis memprediksi harga emas dapat mencapai US$ 6.000 per troi ons dan minyak WTI mencapai US$ 80 per barel pada akhir kuartal I-2026. Indonesia perlu mewaspadai dampak ekonomi dan keamanan, termasuk lonjakan harga minyak, pelemahan rupiah, dan potensi radikalisasi.