
Shoesmart.co.id – JAKARTA. Merencanakan keuangan untuk masa pensiun adalah langkah krusial yang sebaiknya dimulai sedini mungkin. Salah satu strategi utama untuk mencapai kesiapan finansial yang matang di hari tua adalah melalui diversifikasi investasi.
Ligwina Hananto, Founder & CEO sekaligus Lead Financial Trainer di QM Financial, menegaskan bahwa kesiapan pensiun tidak hanya bergantung pada ketersediaan dana semata. Bagi banyak individu, masa pensiun menghadirkan perubahan signifikan dalam rutinitas harian, peran sosial, dan bahkan rasa tujuan hidup. Tanpa persiapan yang terencana, transisi ini seringkali terasa mengejutkan dan penuh tantangan. Oleh karena itu, memahami kebutuhan dan ekspektasi sejak dini menjadi fondasi penting agar masa pensiun dapat dijalani dengan aktif, bermakna, dan tetap produktif.
Ligwina mengamati bahwa banyak orang cenderung menunda perencanaan pensiun, menunggu momen ideal seperti saat penghasilan stabil, tanggungan berkurang, atau kondisi ekonomi membaik. Padahal, esensi perencanaan pensiun bukanlah tentang kesempurnaan waktu memulai, melainkan tentang kesinambungan. Baik dimulai di usia 20-an maupun 40-an, keputusan paling fundamental adalah memulai saat ini juga. Dengan pendekatan yang relevan terhadap kondisi keuangan terkini, strategi yang dibangun akan lebih adaptif dan mampu berkembang seiring fase kehidupan.
“Salah satu strategi praktis yang bisa diterapkan adalah formula pos pengeluaran 10/20/30/40. Dari pendapatan bulanan, idealnya minimal 10% dialokasikan untuk menabung atau investasi, maksimal 20% untuk gaya hidup, maksimal 30% untuk cicilan, dan sisanya 40% untuk kebutuhan rutin sehari-hari,” jelas Ligwina dalam sebuah acara Bank DBS pada Senin (19/1/2026).
Menyambung pentingnya diversifikasi, Djoko Sulistyo, Head of Investment & Insurance Products, Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia, turut menekankan betapa krusialnya diversifikasi investasi dalam merancang masa pensiun yang aman. Diversifikasi ini berfungsi sebagai perisai untuk mengantisipasi potensi risiko kerugian yang dapat timbul jika seorang investor hanya menempatkan modalnya pada satu jenis investasi tertentu.
“Saya ambil contoh kalau kita hanya menaruh di satu tempat misalnya di saham global tahun 2022, minusnya besar hampir 20%,” ungkap Djoko. Guna meminimalisir risiko serupa, Djoko menyarankan investor untuk menerapkan strategi portofolio barbel, yaitu pendekatan yang menggabungkan dua jenis investasi sekaligus. Strategi ini mencakup investasi pada aset yang berfokus pada pertumbuhan, seperti saham, dan di sisi lain juga berinvestasi pada aset yang menawarkan pendapatan reguler, seperti obligasi berdurasi pendek (1 hingga 3 tahun). “Di antara ini boleh tidak yang lain? Boleh. Biasanya ditaruh di tengah-tengah itu adalah emas,” tambah Djoko, mengindikasikan fleksibilitas dalam menyeimbangkan portofolio.
Secara umum, Djoko mengelompokkan instrumen investasi ke dalam empat kategori utama yang dapat dipertimbangkan:
Pertama, reksadana. Instrumen ini cocok untuk investor dengan profil konservatif hingga agresif. Reksadana memungkinkan akses ke portofolio yang dikelola oleh para ahli di berbagai kelas aset dan wilayah geografis, yang secara efektif mengurangi risiko investasi tunggal dan mendorong investasi yang disiplin dari waktu ke waktu.
Kedua, obligasi. Investasi ini menawarkan stabilitas modal dan aliran pendapatan yang dapat diprediksi, menjadikannya pilihan ideal bagi investor yang ingin meminimalkan risiko atau mencari inti portofolio. Obligasi juga dapat dimanfaatkan dalam perencanaan likuiditas dan sesuai untuk investor konservatif hingga moderat.
Ketiga, produk terstruktur. Ini adalah produk investasi yang dirancang secara khusus, misalnya derivatif. Produk ini merupakan solusi siap pakai yang terkait dengan aset dasar (seperti saham, valuta asing, suku bunga), dengan struktur pembayaran yang disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan spesifik investor.
Keempat, valuta asing (valas). Investasi ini memungkinkan investor untuk meraih keuntungan dari pergerakan mata uang atau mengelola risiko nilai tukar. Melalui deposito valas terstruktur atau strategi nilai tukar yang terkait pasar, valas dapat meningkatkan pengembalian portofolio. Instrumen ini juga dapat digunakan untuk lindung nilai terhadap kewajiban dalam mata uang asing.
“Selaraskan produk investasi dengan profil risiko dan tujuan finansial,” tegas Djoko, menekankan pentingnya personalisasi dalam strategi investasi.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengindikasikan perubahan demografi yang signifikan di Indonesia. Pada tahun 2035, diperkirakan lebih dari 14% penduduk akan berusia di atas 60 tahun, dan angka ini diproyeksikan melonjak menjadi 20% atau sekitar 63 juta jiwa pada tahun 2045. Pergeseran ini menunjukkan penyusutan bonus demografi dan peningkatan proporsi penduduk lanjut usia.
Dalam konteks perubahan struktural penduduk ini, kebutuhan akan ekosistem, kebijakan, dan infrastruktur yang memadai menjadi semakin penting. Hal ini bertujuan untuk memastikan proses penuaan yang sehat, inklusif, dan tetap produktif bagi kelompok lansia. Dengan dukungan yang tepat, kelompok usia lanjut dapat terus berkontribusi secara optimal dalam kehidupan sosial dan ekonomi, mewujudkan masa pensiun yang bermartabat dan produktif.
Ringkasan
Merencanakan keuangan masa pensiun adalah langkah krusial yang harus dimulai sedini mungkin, tidak hanya melibatkan dana tetapi juga perubahan rutinitas dan tujuan hidup. Ligwina Hananto dari QM Financial menekankan pentingnya memulai perencanaan segera, tanpa menunda, dan menyarankan formula 10/20/30/40 untuk alokasi pendapatan bulanan. Formula ini mengalokasikan minimal 10% untuk menabung atau investasi, maksimal 20% gaya hidup, 30% cicilan, dan 40% kebutuhan rutin sehari-hari.
Djoko Sulistyo dari Bank DBS menyoroti diversifikasi investasi sebagai kunci untuk mengurangi risiko, menyarankan strategi portofolio barbel yang menggabungkan aset pertumbuhan seperti saham dengan aset pendapatan seperti obligasi pendek, serta emas sebagai penyeimbang. Ia mengelompokkan instrumen investasi ke dalam reksadana, obligasi, produk terstruktur, dan valuta asing, masing-masing dengan karakteristik risiko dan manfaat yang berbeda. Pilihan investasi harus diselaraskan dengan profil risiko dan tujuan finansial, mengingat proyeksi peningkatan signifikan populasi lansia di Indonesia yang membutuhkan persiapan matang.