Pengendalian Emisi: Strategi Bisnis Baru, Bukan Sekadar Kepatuhan

Pengendalian emisi kini bukan lagi sekadar pemenuhan regulasi, melainkan telah terintegrasi ke dalam strategi Environmental, Social, and Governance (ESG) perusahaan. Hal ini menandakan perubahan paradigma dalam dunia bisnis yang semakin menyadari pentingnya keberlanjutan.

Mita Guritno, Managing Partner HHP Law Firm, menegaskan bahwa pengendalian polusi dan emisi harus menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi bisnis jangka panjang. “Pengendalian polusi dan emisi bukan lagi sekadar kewajiban kepatuhan, tetapi menjadi bagian integral dari strategi bisnis,” ujarnya dalam diskusi bertajuk Corporate Responsibility for Cleaner Air and Sustainable Growth di Jakarta Selatan, Rabu (22/4).

Peran pembiayaan berkelanjutan menjadi krusial dalam mendukung upaya pengendalian emisi ini. Berbagai skema pembiayaan seperti green loans, sustainability-linked loans, dan transition finance dapat dimanfaatkan untuk membiayai inisiatif-inisiatif yang berorientasi pada pengurangan emisi.

Namun, Bicara Udara menyoroti adanya kesenjangan pemahaman di kalangan perusahaan terkait eratnya hubungan antara polusi udara dan perubahan iklim. Padahal, keduanya memiliki dampak langsung terhadap keberlanjutan operasional perusahaan, kesehatan masyarakat, serta stabilitas ekonomi secara keseluruhan.

Ratna Kartadjoemena, Co-Founder Bicara Udara, menunjuk sektor industri sebagai kontributor utama polusi udara di wilayah Jabodetabek, khususnya di daerah penyangga. “Industri menjadi penyumbang terbesar polusi udara di Jabodetabek. Polusi udara menyebar melalui angin, sehingga meskipun sumbernya di luar Jakarta, dampaknya tetap dirasakan di wilayah lain,” jelas Ratna.

Menanggapi permasalahan ini, Environmental Economist The World Bank, Marissa Malahayati, menyampaikan bahwa pengendalian polusi udara di Jabodetabek sebaiknya diprioritaskan pada tiga area utama: konversi energi, penggunaan bahan bakar yang lebih bersih, dan penguatan sistem data kualitas udara yang terintegrasi.

Lebih lanjut, Marissa menjelaskan, “Program pengendalian polusi di Jabodetabek berpotensi menurunkan PM2.5 hingga 39,5% dengan investasi sekitar US$1,25 miliar dalam 5 hingga 10 tahun.” Ini menunjukkan bahwa investasi dalam pengendalian polusi udara bukan hanya penting untuk kesehatan dan lingkungan, tetapi juga memberikan potensi pengembalian yang signifikan.

Ringkasan

Pengendalian emisi telah bertransformasi dari sekadar kepatuhan regulasi menjadi bagian integral dari strategi bisnis, khususnya dalam kerangka Environmental, Social, and Governance (ESG). Pembiayaan berkelanjutan, termasuk green loans dan sustainability-linked loans, memegang peranan penting dalam mendukung inisiatif pengurangan emisi.

Sektor industri di wilayah Jabodetabek diidentifikasi sebagai penyumbang utama polusi udara. Untuk mengatasi masalah ini, disarankan fokus pada konversi energi, penggunaan bahan bakar bersih, dan penguatan sistem data kualitas udara yang terintegrasi. Investasi dalam pengendalian polusi udara berpotensi menurunkan PM2.5 secara signifikan dan memberikan pengembalian yang substansial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *