Pendanaan Pasar Modal: Peluang Emas Pengembang Properti?

Shoesmart.co.id, JAKARTA – Dewan Pengurus Daerah (DPD) Real Estat Indonesia (REI) DKI Jakarta berkolaborasi dengan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk menyelenggarakan lokakarya (workshop) yang bertujuan mendorong para pengembang properti memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan jangka panjang. Inisiatif ini muncul sebagai respons terhadap perubahan lanskap pembiayaan properti pasca-pandemi.

Ketua DPD REI DKI Jakarta, Arvin F. Iskandar, mengungkapkan bahwa perbankan kini lebih selektif dalam menyalurkan kredit ke sektor properti setelah pandemi. Proses persetujuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) pun menjadi lebih ketat. Padahal, selama ini, struktur pembiayaan pengembang properti umumnya terdiri dari 30% modal sendiri dan 70% pinjaman bank.

“Siklus proyek properti yang panjang dan kebutuhan modal yang besar membuat ketergantungan pada bank saja tidak lagi mencukupi, terutama di tengah pasar yang fluktuatif,” ujar Arvin dalam keterangannya, Selasa (24/2). Oleh karena itu, REI DKI Jakarta berupaya membuka wawasan para pengembang mengenai alternatif pendanaan yang lebih beragam.

Melalui lokakarya ini, REI DKI Jakarta secara aktif mendorong para pengembang untuk menjajaki berbagai alternatif pendanaan, termasuk penerbitan saham, obligasi, dan Efek Beragun Aset Surat Partisipasi (EBUS). Langkah ini diharapkan dapat memberikan solusi bagi pengembang yang membutuhkan sumber modal yang lebih stabil dan fleksibel.

Arvin mengakui bahwa masih ada keraguan, terutama di kalangan pengembang menengah, terkait kompleksitas proses go public dan tuntutan tata kelola perusahaan yang tinggi. Menanggapi hal ini, BEI menyediakan tiga papan pencatatan yang berbeda, yaitu Papan Utama, Papan Pengembangan, dan Papan Akselerasi. Dua papan terakhir dirancang agar lebih adaptif bagi perusahaan-perusahaan menengah.

REI DKI Jakarta menargetkan sekitar 5% atau 25 pengembang menengah anggotanya untuk memulai proses menuju pasar modal pada periode 2026–2028. Jika setiap perusahaan berhasil menghimpun dana antara Rp 100 miliar hingga Rp 200 miliar, potensi dana yang terkumpul dapat mencapai setidaknya Rp 5 triliun. Saat ini, terdapat sekitar 92 perusahaan properti yang terdaftar di BEI.

Listyorini Dian Pratiwi, Kepala Divisi Pengembangan Perusahaan Tercatat PT Bursa Efek Indonesia, menekankan bahwa sektor properti memainkan peran strategis dalam perekonomian dan menjadi indikator kepercayaan ekonomi. Pertumbuhan sektor ini mendorong pembiayaan, menciptakan lapangan kerja, serta memicu efek berganda ke sektor konstruksi, perbankan, dan industri bahan bangunan.

Saat ini, BEI mencatat 956 perusahaan saham dan 131 penerbit obligasi, dengan 92 emiten berasal dari sektor properti dan real estate. “Potensinya masih sangat besar. Banyak pengembang yang siap untuk scale up, tetapi terkendala akses pembiayaan. Pasar modal dapat menjadi katalis untuk mewujudkan pertumbuhan tersebut,” ujarnya.

Ia mencontohkan Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) sebagai salah satu perusahaan yang berhasil memanfaatkan pasar modal sebagai strategi pendanaan jangka panjang. Sebelum melakukan IPO, BSDE telah menerbitkan obligasi dan setelahnya tetap aktif melakukan aksi korporasi, termasuk menerbitkan obligasi lanjutan dan memanfaatkan Dana Investasi Real Estat (DIRE) atau Real Estate Investment Trusts (REITs).

BEI, bersama dengan REI DKI Jakarta, berkomitmen untuk memperkuat kolaborasi melalui pendampingan dan edukasi agar para pengembang lebih mudah mengakses pasar modal. Transformasi pembiayaan ini dinilai penting untuk membangun industri properti yang lebih sehat, transparan, dan berkelanjutan.

Ringkasan

DPD REI DKI Jakarta bekerja sama dengan BEI untuk mendorong pengembang properti memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan jangka panjang, karena bank semakin selektif dalam memberikan kredit setelah pandemi. REI DKI Jakarta berupaya membuka wawasan pengembang mengenai alternatif pendanaan seperti penerbitan saham, obligasi, dan EBUS.

BEI menyediakan tiga papan pencatatan untuk mengakomodasi berbagai skala perusahaan. REI DKI Jakarta menargetkan sekitar 5% anggotanya untuk memasuki pasar modal pada 2026-2028. BEI dan REI DKI Jakarta akan berkolaborasi dalam pendampingan dan edukasi untuk mempermudah akses pengembang ke pasar modal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *