Peluang Cuan Saat IHSG Koreksi: Saham Defensif Pilihan Hari Ini

Shoesmart.co.id – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan vitalitasnya kembali, berhasil menguat setelah sempat tertekan tajam pada sesi perdagangan sebelumnya. Pada penutupan perdagangan Selasa (13/1/2026), IHSG mencatatkan kenaikan 0,72%, kokoh di level 8.948,30.

Perjalanan IHSG di awal pekan memang penuh gejolak. Pada Senin (12/1) pukul 14.35 WIB, indeks sempat anjlok signifikan hingga 2,38%, menyentuh level 8.723 dalam perdagangan intraday. Padahal, saat pembukaan pasar, IHSG sempat perkasa melaju hingga menyentuh angka 9.000.

Menurut Reza Diofanda, seorang Analis dari BRI Danareksa Sekuritas, IHSG memang tengah menghadapi tekanan bertubi-tubi dalam beberapa hari terakhir, menandakan bahwa indeks berada dalam fase koreksi. Kondisi ini menuntut kehati-hatian dari para investor.

4 Saham ARA Kala Saham Konglomerasi Di Zona Merah, Mana yang Layak Beli?

Pelemahan yang terjadi ini diyakini dipicu oleh serangkaian faktor. Di antaranya adalah aksi ambil untung (profit taking) pada saham-saham konglomerasi yang sebelumnya telah membukukan kenaikan, meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik, serta dinamika teknikal pasar menjelang penyesuaian indeks MSCI yang dijadwalkan pada akhir Januari 2026.

“Dari sisi domestik, tekanan terhadap IHSG juga diperparah oleh pelemahan nilai tukar rupiah. Kondisi ini tak lepas dari pengaruh defisit APBN yang kini mendekati level 3%, menambah sentimen negatif bagi pergerakan pasar saham kita,” terang Reza kepada Kontan, Selasa malam (13/1/2026).

Kendati demikian, Reza menegaskan bahwa secara fundamental dan teknikal, koreksi yang terjadi saat ini belum mengubah tren utama IHSG. Selama indeks mampu mempertahankan posisinya di atas area support krusial 8.715–8.778, potensi penguatan lebih lanjut masih terbuka lebar. Namun, ia mengingatkan para investor untuk tetap mewaspadai volatilitas jangka pendek yang diperkirakan masih akan membayangi pasar.

Dalam menghadapi kondisi pasar yang cenderung bergejolak, Reza menyarankan agar investor tetap selektif dalam memilih aset dan disiplin dalam menerapkan manajemen risiko. Ia mengimbau investor untuk tidak terpancing melakukan aksi panic selling selama IHSG masih mampu bertahan di atas level support kunci. Sebaliknya, fase koreksi ini justru dapat dimanfaatkan sebagai peluang strategis untuk melakukan akumulasi bertahap pada saham-saham yang memiliki fundamental dan teknikal yang kokoh.

Lebih lanjut, Reza menyarankan agar investor memprioritaskan sektor atau saham yang memiliki sifat defensif atau yang memiliki katalis kuat berbasis komoditas. Selain itu, menjaga porsi kas yang memadai juga menjadi kunci untuk dapat mengantisipasi dan merespons volatilitas pasar dalam jangka pendek.

Secara sektoral, Reza menyoroti bahwa sektor saham komoditas masih sangat menarik untuk dicermati saat ini, khususnya emas dan nikel. Komoditas emas, misalnya, diuntungkan oleh meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global, yang secara otomatis mendorong permintaan akan aset safe haven.

Sementara itu, nikel memperoleh katalis positif dari kebijakan pemerintah Indonesia yang membatasi produksi sekitar 34%. Kebijakan ini berpotensi besar menjaga keseimbangan suplai dan pada akhirnya menopang harga nikel di pasar global.

Melihat potensi tersebut, beberapa emiten saham yang dinilai Reza menarik untuk dipantau dan dipertimbangkan oleh investor antara lain ANTM, MBMA, NCKL, dan MDKA.

  NCKL Chart by TradingView  

Berdasarkan berbagai pertimbangan dan analisis di atas, Reza memproyeksikan IHSG pada perdagangan hari ini, Rabu (14/1), berpeluang bergerak dalam rentang support 8.840 – 8.855 dan resistance 8.950 – 8.990.

Ringkasan

IHSG menunjukkan penguatan sebelum terkoreksi tajam karena aksi ambil untung, ketidakpastian global, dan pelemahan rupiah. Analis Reza Diofanda menyebut koreksi ini belum mengubah tren utama selama IHSG bertahan di atas support krusial 8.715–8.778. Investor diimbau waspada terhadap volatilitas jangka pendek yang masih membayangi pasar.

Dalam kondisi pasar yang bergejolak, investor disarankan selektif, disiplin manajemen risiko, dan memanfaatkan koreksi untuk akumulasi saham fundamental kuat. Prioritaskan saham defensif atau berbasis komoditas seperti emas dan nikel, dengan emiten rekomendasi antara lain ANTM, MBMA, NCKL, dan MDKA. IHSG diproyeksikan bergerak dalam rentang support 8.840 – 8.855 dan resistance 8.950 – 8.990 pada perdagangan berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *