Open Interest Bitcoin Anjlok: TradFi Tinggalkan BTC? Harga Terpengaruh?

Shoesmart.co.id – Open interest atau posisi terbuka pada kontrak berjangka Bitcoin telah menyentuh level terendahnya sejak November 2024. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan serius: apakah investor institusional, atau pelaku pasar keuangan tradisional (TradFi), mulai meninggalkan aset kripto terpopuler ini?

Mengutip Cointelegraph edisi Jumat (13/2/2026), harga Bitcoin saat ini berkutat di area US$66.982. Dalam sepekan terakhir, Bitcoin tampak kesulitan untuk mempertahankan posisinya di atas level US$72.000.

Di tengah tekanan jual yang kuat, total open interest futures BTC anjlok ke angka US$34 miliar pada Kamis (12/2/2026). Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 28% dibandingkan dengan 30 hari sebelumnya.

Genjot Komponen Kendaraan Listrik, Darma Polimetal (DRMA) Incar Target Rp 6,5 Triliun

Namun, jika diukur dalam denominasi Bitcoin, open interest tampak relatif stabil di kisaran 502.450 BTC. Hal ini mengindikasikan bahwa permintaan terhadap penggunaan leverage sebenarnya tidak mengalami penurunan yang signifikan. Penurunan nilai dalam denominasi dolar lebih banyak dipengaruhi oleh koreksi harga dan likuidasi paksa (forced liquidation) yang mencapai US$5,2 miliar dalam dua pekan terakhir.

Minimnya Leverage Bullish dan Kekhawatiran Makro AS

Penurunan harga Bitcoin sebesar 28% dalam sebulan terakhir tentu membuat investor merasa frustrasi, terlebih karena tidak ada katalis negatif yang jelas. Situasi ini semakin kontras dengan performa aset lain. Emas, misalnya, berhasil menembus level psikologis US$5.000. Sementara itu, indeks saham S&P 500 hanya terpaut sekitar 1% dari rekor tertingginya.

Marketing Sales Ciputra Development 2025 Tak Capai Target, Ini Rekomendasi Sahamnya

Beberapa analis berpendapat bahwa sikap risk-off ini dipicu oleh sinyal-sinyal pelemahan di pasar tenaga kerja Amerika Serikat. Data dari Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan bahwa ekonomi hanya menciptakan 181.000 lapangan kerja pada tahun 2025, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya. Meskipun demikian, Gedung Putih meremehkan kekhawatiran tersebut dengan menyatakan bahwa perlambatan pertumbuhan populasi akibat kebijakan imigrasi telah mengurangi kebutuhan akan penciptaan lapangan kerja.

Jika pertumbuhan ekonomi AS benar-benar melambat, peluang bagi Federal Reserve (The Fed) untuk menurunkan suku bunga akan meningkat. Penurunan suku bunga umumnya akan menurunkan biaya modal dan melonggarkan kondisi pembiayaan, yang dapat menjelaskan kekuatan pasar saham sepanjang tahun 2026.

Menguat 0,23% Dalam Sepekan, Rupiah Ditutup di Rp 16.836 per Dolar AS

Derivatif Tunjukkan Sentimen Lemah

Kurangnya kepercayaan terhadap Bitcoin juga tercermin dari rendahnya permintaan untuk posisi leveraged bullish. Funding rate tahunan untuk kontrak futures BTC bertahan di bawah ambang netral 12% selama empat bulan terakhir. Ini merupakan indikasi dominasi sentimen kehati-hatian di pasar.

Di pasar opsi, delta skew Bitcoin di bursa kripto Deribit melonjak ke 22%, menunjukkan bahwa opsi jual (put) diperdagangkan dengan premi yang lebih tinggi dibandingkan dengan opsi beli (call). Dalam kondisi normal, indikator ini biasanya berada di rentang -6% hingga +6%. Skew terakhir kali berubah bullish pada Mei 2025, ketika Bitcoin kembali menembus level US$93.000 setelah sempat menguji US$75.000.

Sugianto Kusuma dan Tomy Winata di Balik Jakarta International (JIHD)

Meskipun metrik derivatif mencerminkan adanya tekanan, volume perdagangan harian rata-rata sebesar US$5,4 miliar pada ETF Bitcoin yang terdaftar di AS justru membantah spekulasi bahwa minat investor institusional telah sepenuhnya menghilang.

Ke depan, pemulihan Bitcoin kemungkinan besar akan sangat bergantung pada kejelasan kondisi ekonomi AS, terutama pasar tenaga kerja. Faktor-faktor inilah yang akan menjadi penentu utama dalam arah kebijakan moneter dan sentimen risiko global.

Ringkasan

Open interest Bitcoin telah anjlok ke level terendah sejak November 2024, menimbulkan pertanyaan apakah investor institusional mulai meninggalkan aset ini. Harga Bitcoin saat ini kesulitan bertahan di atas US$72.000, dan total open interest futures BTC turun menjadi US$34 miliar, penurunan sebesar 28% dalam 30 hari.

Penurunan ini sebagian disebabkan oleh koreksi harga dan likuidasi paksa, meskipun open interest dalam denominasi Bitcoin relatif stabil. Kurangnya kepercayaan tercermin dari rendahnya permintaan posisi leveraged bullish dan tingginya premi opsi jual, namun volume perdagangan ETF Bitcoin tetap tinggi, mengindikasikan minat investor institusional belum sepenuhnya hilang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *