OMED: Prospek Cerah 2026? Analisis & Rekomendasi Saham Terbaru

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED) membidik pendapatan sebesar Rp 2,3 triliun pada tahun 2026. Target ambisius ini mencerminkan pertumbuhan 10%-15% dibandingkan tahun sebelumnya dan dinilai realistis, didukung oleh prospek industri alat kesehatan yang terus menunjukkan ketahanan.

Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas, menyoroti karakter defensif produk alat kesehatan habis pakai sebagai fondasi utama kinerja OMED. Permintaan yang stabil terhadap produk-produk ini memberikan jaminan bagi pertumbuhan berkelanjutan.

“Target tersebut realistis karena sifat produk alat kesehatan habis pakai yang permintaannya cenderung inelastis. Ekspansi rumah sakit swasta dan perluasan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) akan menjadi pendorong utama pertumbuhan volume penjualan,” jelas Wafi kepada Kontan, Kamis (12/2/2026).

Manajemen OMED sejalan dengan pandangan optimis ini. Mereka meyakini target dapat dicapai, terutama dengan adanya dukungan signifikan dari peningkatan anggaran kesehatan pemerintah di tahun 2026.

“Kami optimistis target tersebut realistis, terutama dengan adanya katalis peningkatan anggaran kesehatan oleh pemerintah pada 2026 sebesar Rp244 triliun atau naik sekitar 15%–16% dibanding tahun lalu. Selain itu, permintaan dari sektor swasta juga stabil dan resilien,” ungkap manajemen OMED dalam keterangan tertulis.

Kenaikan anggaran kesehatan ini dipandang sebagai angin segar bagi kinerja OMED. Wafi menekankan bahwa posisi OMED sebagai pemimpin pasar, diperkuat dengan sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang tinggi, menempatkan perusahaan dalam posisi strategis untuk memanfaatkan peluang belanja pemerintah yang besar.

Lebih lanjut, manajemen OMED mengungkapkan bahwa pada kuartal I-2026, perseroan telah berhasil menyepakati pemenuhan permintaan pengadaan Barang Medis Habis Pakai (BMHP) dari Kementerian Kesehatan. “Kami melihat komitmen pemerintah terhadap layanan kesehatan menjadi prioritas dalam jangka panjang,” imbuh manajemen.

Dari sisi belanja modal, OMED mengalokasikan capex sebesar Rp 62 miliar pada tahun 2026. Wafi menilai sentralisasi logistik melalui National Distribution Center (NDC) di Pulo Gadung sebagai langkah cerdas yang dapat memangkas biaya distribusi dan persediaan, berpotensi meningkatkan margin laba perusahaan. Selain itu, langkah ini dinilai strategis untuk mempercepat lead time pengiriman di wilayah Jabodetabek, yang merupakan pasar terbesar bagi OMED.

Manajemen OMED menjelaskan bahwa capex tahun ini relatif lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya karena sejumlah ekspansi telah berhasil diselesaikan, termasuk akuisisi NDC Pulo Gadung, perluasan fasilitas di Mojoagung, serta pembangunan pabrik di Batang. “Sehingga pada 2026 margin laba baik gross, operasional, maupun laba bersih relatif stabil. Bahkan kami harapkan bisa ada kenaikan dalam jangka panjang,” tulis manajemen.

Menyinggung mengenai ketahanan margin, Wafi memperkirakan margin OMED akan tetap solid di level dua digit, berkat integrasi manufaktur lokal yang menekan ketergantungan impor. Ia juga melihat segmen swasta berpotensi memberikan margin yang lebih tinggi dibandingkan segmen BPJS karena fleksibilitas harga jual, sementara ekspor dapat menjadi mesin pertumbuhan baru meskipun kontribusinya masih bertahap.

Manajemen OMED juga memproyeksikan margin akan tetap stabil pada tahun 2026, didukung oleh harga bahan baku dan biaya logistik yang relatif terjaga. Segmen swasta dinilai masih menunjukkan ketahanan, sementara ekspor berada dalam tren yang positif.

Dari sisi rekomendasi, Wafi memberikan rekomendasi beli untuk saham OMED dengan target harga Rp 240 per saham.

Ringkasan

PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED) menargetkan pendapatan Rp 2,3 triliun di tahun 2026, didorong oleh permintaan alat kesehatan habis pakai yang stabil, ekspansi rumah sakit swasta, dan perluasan program JKN. Manajemen OMED optimis dengan target ini, didukung oleh peningkatan anggaran kesehatan pemerintah sebesar 15%-16% menjadi Rp 244 triliun. Perusahaan juga berhasil menyepakati pemenuhan permintaan pengadaan BMHP dari Kementerian Kesehatan pada kuartal I-2026.

OMED mengalokasikan capex Rp 62 miliar untuk tahun 2026, fokus pada sentralisasi logistik melalui NDC Pulo Gadung yang diharapkan dapat memangkas biaya dan meningkatkan margin laba. Analis memperkirakan margin OMED akan tetap solid berkat integrasi manufaktur lokal dan potensi margin yang lebih tinggi dari segmen swasta. KISI Sekuritas memberikan rekomendasi beli untuk saham OMED dengan target harga Rp 240 per saham.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *