OJK: Target 75% Emiten Penuhi Free Float 15% di Tahun Pertama

JAKARTA, KONTAN.CO.ID – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memasang target ambisius: 70% hingga 75% emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) diharapkan telah memenuhi ketentuan free float minimum sebesar 15% pada akhir tahun pertama implementasi aturan baru. Langkah ini diharapkan dapat menggairahkan pasar modal dan meningkatkan kepercayaan investor.

Hasan Fawzi, Pejabat Sementara Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, menegaskan komitmen regulator untuk terus meningkatkan batasan free float hingga mencapai level minimal 15%. Hal ini sejalan dengan upaya menciptakan pasar yang lebih likuid dan transparan.

“Prinsipnya, tentu secara umum, kita bersepakat akan terus meningkatkan besaran free float ini ke minimum 15%,” ungkap Hasan dalam acara CNBC Indonesia Market Outlook 2026, Selasa (3/3/2026). Pernyataan ini menggarisbawahi keseriusan OJK dalam mereformasi pasar modal Indonesia.

BEI Revisi Aturan Liquidity Provider Saham, Perluas Likuiditas dan Free Float

Lebih lanjut, Hasan menjelaskan bahwa detail teknis terkait implementasi, termasuk strategi pentahapan dan exit policy, akan dituangkan dalam perubahan Peraturan Nomor I-A di Bursa Efek Indonesia. Saat ini, OJK tengah mempercepat proses finalisasi aturan tersebut agar segera dapat diimplementasikan.

Implementasi kebijakan ini akan dilakukan bertahap, dengan target-target pencapaian yang jelas dalam satu, dua, hingga tiga tahun mendatang. Pada akhir tahun pertama, OJK menargetkan mayoritas emiten telah memenuhi batasan minimum free float yang ditetapkan.

“Di akhir tahun pertama, kita harapkan sekitar 70% sampai 75% emiten kita sudah mencapai angka minimum 15%,” jelas Hasan, memberikan gambaran yang lebih konkret tentang target yang ingin dicapai.

Meskipun batas maksimal pemenuhan ditetapkan dalam jangka waktu tiga tahun, OJK juga menyiapkan mekanisme evaluasi bagi emiten yang menghadapi kendala dalam memenuhi ketentuan tersebut.

Hasan menambahkan bahwa jika ada emiten yang secara umum tidak memungkinkan untuk memenuhi ketentuan free float, regulator dapat memfasilitasi delisting. Sementara itu, bagi emiten yang masih memerlukan waktu tambahan, evaluasi akan dilakukan secara case by case, menunjukkan pendekatan yang fleksibel dan mempertimbangkan kondisi masing-masing emiten.

Sementara itu, Pjs Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, menyampaikan bahwa pemenuhan minimum free float 15% akan dilakukan dengan masa transisi yang cukup agresif. Hal ini menunjukkan optimisme BEI terhadap kemampuan emiten dalam menyesuaikan diri dengan aturan baru.

Porsi Free Float Unilever (UNVR) Belum Capai 15%, Ini Penjelasan Manajemen

Jeffrey juga menekankan bahwa pembentukan harga saham akan tetap diserahkan kepada mekanisme pasar. Namun, pada saat yang bersamaan, emiten perlu meningkatkan fundamental dan kinerja usaha agar tetap menarik bagi investor. Dengan kata lain, peningkatan free float harus diimbangi dengan peningkatan kualitas perusahaan.

“Kalau kita sama-sama percaya dengan mekanisme pasar dan sudah baik mekanismenya, tentu kita harap mekanisme itu berlanjut,” ujarnya, menegaskan pentingnya menjaga kepercayaan terhadap mekanisme pasar yang sehat.

Kebijakan peningkatan free float ini diharapkan dapat memperdalam likuiditas pasar, memperkuat tata kelola emiten, serta mendorong terciptanya perdagangan yang lebih sehat di pasar modal domestik. Dengan demikian, pasar modal Indonesia diharapkan menjadi lebih menarik bagi investor domestik maupun asing.

Ringkasan

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan 70% hingga 75% emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) memenuhi ketentuan free float minimum 15% pada akhir tahun pertama implementasi aturan baru. Hasan Fawzi dari OJK menegaskan komitmen untuk meningkatkan batasan free float demi pasar yang lebih likuid dan transparan. Detail implementasi akan dituangkan dalam perubahan Peraturan Nomor I-A di BEI dan dilakukan bertahap.

OJK akan mengevaluasi emiten yang kesulitan memenuhi ketentuan free float, bahkan memfasilitasi delisting jika diperlukan. Pjs Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyatakan pemenuhan dilakukan dengan masa transisi yang agresif. Peningkatan free float diharapkan memperdalam likuiditas pasar, memperkuat tata kelola emiten, dan mendorong perdagangan yang lebih sehat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *