Shoesmart.co.id – JAKARTA. Pasar obligasi Indonesia diperkirakan akan menghadapi gelombang tantangan yang lebih besar pada tahun 2026 dibandingkan tahun sebelumnya. Dinamika pasar diprediksi akan semakin kompleks, terutama untuk obligasi pemerintah atau Surat Utang Negara (SUN), akibat ketidakpastian global yang meningkat dan ekspektasi perubahan suku bunga yang terus berkembang.
Menurut Kepala Ekonom Bank Syariah Indonesia (BSI), Banjaran Surya Indrastomo, pergerakan harga obligasi pemerintah dalam jangka pendek akan sangat dipengaruhi oleh sentimen eksternal. Ketegangan geopolitik yang masih membara di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang perlu diwaspadai.
Selain itu, perkiraan pemangkasan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) yang baru akan terjadi pada pertengahan tahun 2026, berpotensi menyebabkan imbal hasil (return) obligasi pada semester pertama tahun tersebut menjadi lebih moderat dibandingkan dengan capaian yang diraih sepanjang tahun 2025.
Bangun Kosambi Sukses (CBDK) Catatkan Kinerja Positif Sepanjang 2025
Sepanjang tahun 2025, pasar Surat Berharga Negara (SBN) mencatatkan tren positif dengan penurunan yield yang signifikan, sejalan dengan penurunan BI Rate dan inflasi yang berhasil dikendalikan. Yield SBN tenor 10 tahun bahkan tercatat turun hingga 95 basis poin (bps), yang menghasilkan capital gain yang cukup menjanjikan bagi para investor.
Kondisi ini mendorong return obligasi pemerintah sepanjang tahun 2025 mencapai angka yang menarik, yaitu 12,43%.
Namun, memasuki awal tahun 2026, arah pergerakan pasar obligasi mengalami perubahan. Yield mulai menunjukkan tren kenaikan, dipicu oleh ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang cenderung lebih hawkish dari perkiraan awal tahun. Selain itu, kenaikan yield US Treasury dan meningkatnya ketegangan geopolitik turut memperburuk sentimen pasar. Akibatnya, hingga akhir Februari 2026, imbal hasil SBN tenor 10 tahun naik sekitar 34 bps.
Berbeda dengan dinamika yang terjadi pada obligasi pemerintah, yield obligasi korporasi menunjukkan stabilitas yang lebih baik dan cenderung mengalami penurunan.
Banjaran menjelaskan kepada Kontan, pada Selasa (3/2/2026), bahwa selama kondisi likuiditas perbankan dan pasar keuangan domestik tetap terjaga dengan baik, serta tidak terjadi shock kredit yang signifikan, return obligasi korporasi berpotensi tetap positif dengan profil risiko yang lebih terkontrol dibandingkan dengan SUN.
Data dari Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) menunjukkan bahwa imbal hasil obligasi korporasi dengan peringkat AAA mengalami penurunan dari 7,81% pada akhir tahun 2024 menjadi 6,85%. Sementara itu, obligasi korporasi dengan peringkat AA juga mengalami penurunan imbal hasil dari 8,37% menjadi 7,22%.
Untuk sepanjang tahun 2026, pergerakan imbal hasil obligasi korporasi diperkirakan akan berfluktuasi di kisaran 6,9%–7,1%.
IHSG Menguat 1,67% ke 7.703 di Sesi I Kamis (5/3), SMGR, SCMA, MDKA Top Gainers LQ45
Ringkasan
Pasar obligasi Indonesia diperkirakan menghadapi tantangan lebih besar pada tahun 2026 dibandingkan 2025, terutama untuk SUN akibat ketidakpastian global dan perubahan suku bunga. Pergerakan harga obligasi pemerintah jangka pendek akan sangat dipengaruhi sentimen eksternal seperti ketegangan geopolitik. Pemangkasan suku bunga acuan BI yang diperkirakan baru terjadi pertengahan 2026 berpotensi memoderasi return obligasi pada semester pertama.
Berbeda dengan SUN, yield obligasi korporasi menunjukkan stabilitas yang lebih baik dan cenderung mengalami penurunan. Selama likuiditas perbankan dan pasar keuangan domestik terjaga, return obligasi korporasi berpotensi tetap positif dengan profil risiko lebih terkontrol. Imbal hasil obligasi korporasi peringkat AAA dan AA mengalami penurunan dan diperkirakan akan berfluktuasi di kisaran 6,9%–7,1% sepanjang tahun 2026.