Net Buy Asing Rp3,2 Triliun: Rekomendasi Saham dari IPOT

Shoesmart.co.id – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menorehkan kinerja positif sepanjang sepekan terakhir, ditutup menguat signifikan 1,55% mencapai level 9.075 pada Kamis (14/1/2026).

Kenaikan indeks ini turut didukung oleh aksi beli bersih (net buy) investor asing yang mencapai Rp3,2 triliun dalam periode yang sama. Arus dana masuk yang substansial ini merupakan cerminan dari respons positif terhadap stabilitas makroekonomi domestik, terutama di tengah meningkatnya volatilitas yang mewarnai pasar global.

Imam Gunadi, Equity Analyst dari PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), menjelaskan bahwa pergerakan pasar global pekan lalu didominasi oleh dua kekuatan yang saling tarik-menarik: stabilnya data ekonomi Amerika Serikat dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Keseimbangan inilah yang membentuk dinamika pasar.

“Inflasi AS menunjukkan stabilitas dan aktivitas ekonomi tetap kuat, namun sentimen global terganggu oleh rencana pengenaan tarif baru dari Presiden Donald Trump yang menyasar sejumlah negara Eropa,” ungkap Imam dalam keterangan resminya, Minggu (18/1/2026).

Data terbaru menunjukkan inflasi AS pada Desember 2025 tercatat 2,7% secara tahunan (YoY), sejalan dengan ekspektasi pasar, sementara inflasi inti bertahan di 2,6%. Aktivitas ekonomi juga terlihat solid, dengan pertumbuhan penjualan ritel sebesar 3,3% YoY dan klaim pengangguran awal (initial jobless claims) yang turun drastis ke 198 ribu, jauh di bawah perkiraan pasar.

Meskipun demikian, kebijakan tarif baru Amerika Serikat yang ditujukan pada negara-negara NATO memicu reaksi keras dari Uni Eropa, menciptakan hambatan di pasar global. “Hingga akhir pekan, dasar hukum dan mekanisme implementasi tarif tersebut masih belum jelas, kondisi ini secara berkelanjutan menjaga ketidakpastian di pasar global,” tambah Imam.

Dari kawasan China, terlihat kontras tajam antara kinerja eksternal dan domestik. Sepanjang tahun 2025, China mencatatkan rekor surplus perdagangan fantastis sebesar USD 1,189 triliun, dengan ekspor tumbuh 5,5% sementara impor relatif stabil. Namun, di sisi domestik, pertumbuhan kredit melemah secara signifikan, dengan pertumbuhan pinjaman yuan (outstanding yuan loan growth) bertahan di level 6,4%, angka terendah dalam sejarah. Bank Rakyat China (PBOC) sendiri telah memberikan sinyal adanya ruang untuk penurunan suku bunga dan giro wajib minimum (GWM) guna mendorong ekonomi.

Berbeda dengan dinamika global, kinerja pasar domestik Indonesia justru bergerak positif dan solid. Penjualan ritel mencatat pertumbuhan impresif sebesar 6,3% YoY pada November 2025, menjadi laju tercepat sejak Maret 2024. “Pertumbuhan ini merata di berbagai kategori, termasuk makanan dan minuman, suku cadang otomotif, dan barang rekreasi. Secara bulanan, penjualan juga naik 1,5 persen, tertinggi dalam delapan bulan terakhir,” jelas Imam.

Selain konsumsi, Foreign Direct Investment (FDI) pada kuartal IV 2025 juga menunjukkan pembalikan arah yang positif, tumbuh 4,3% YoY menjadi Rp256,3 triliun, setelah sebelumnya mengalami kontraksi. Sektor logam dasar dan pertambangan tetap menjadi magnet utama bagi investasi ini, menunjukkan potensi pertumbuhan berkelanjutan.

Pergerakan harga komoditas global juga menunjukkan dinamika menarik. Harga minyak WTI naik tipis 0,4% ke level USD 59,44 per barel, sementara batu bara menguat mendekati USD 110 per ton, didorong oleh persiapan China untuk mengoperasikan lebih dari 100 pembangkit listrik baru. Harga timah melonjak drastis ke USD 53.400 per ton, sedangkan emas sedikit terkoreksi 1% menjadi USD 4.560 per ons.

Memasuki pekan perdagangan 19–23 Januari 2026, IHSG diproyeksikan akan bergerak konsolidatif dengan level support kuat di 9.000 dan resistance di 9.200. Fokus pasar akan tertuju pada rilis data penting seperti pertumbuhan ekonomi China kuartal IV-2025, data ritel dan tingkat pengangguran negara tersebut, serta keputusan Loan Prime Rate (LPR) China.

Dari dalam negeri, perhatian utama akan tertuju pada keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI), yang secara konsensus diperkirakan akan dipertahankan di level 4,75%. Sementara itu, dari Amerika Serikat, rilis Core PCE Price Index akan menjadi indikator ekonomi makro yang paling dicermati oleh investor global.

Menyikapi kondisi pasar yang dinamis tersebut, IPOT menganjurkan strategi investasi yang mengkombinasikan saham-saham favorit investor asing dengan instrumen pendapatan tetap. Imam Gunadi secara spesifik merekomendasikan beberapa pilihan strategis.

JPFA masih menjadi pilihan menarik di tengah lonjakan anggaran Program Makan Bergizi Gratis 2026 yang meningkat menjadi Rp335 triliun. Sebagai salah satu pemain unggas terintegrasi terbesar di Indonesia, JPFA dinilai berada pada posisi yang sangat strategis untuk menangkap potensi kenaikan permintaan protein hewani yang signifikan.

Di sektor perbankan, saham BBRI direkomendasikan berkat kuatnya aliran dana asing, yang tercatat membukukan net buy sebesar Rp575,7 miliar dalam sepekan terakhir. Menurut Imam, masuknya kembali investor global ini mengindikasikan kepercayaan yang tinggi terhadap fundamental perbankan besar Indonesia di tengah fluktuasi pasar regional.

Sementara itu, AADI dinilai memiliki prospek positif, seiring dengan penguatan harga batu bara yang kembali mendekati USD 110 per ton. Kenaikan harga ini didorong oleh persiapan China untuk mengoperasikan lebih dari 100 pembangkit listrik baru, yang secara otomatis akan meningkatkan permintaan batu bara.

Guna menjaga keseimbangan dan stabilitas portofolio di tengah potensi volatilitas pasar global, IPOT juga merekomendasikan akumulasi Obligasi Berkelanjutan III Bussan Auto Finance Tahap IV Tahun 2025 Seri B (BAFI03BCN4). Obligasi berperingkat idAAA ini menawarkan kupon 5,65% dengan jatuh tempo pada 19 November 2028, menjadikannya instrumen pendapatan tetap yang stabil dan menarik.

Ringkasan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat signifikan 1,55% mencapai 9.075 pekan lalu, didukung oleh aksi beli bersih investor asing sebesar Rp3,2 triliun yang menunjukkan respons positif terhadap stabilitas makroekonomi domestik. Meskipun pasar global diwarnai ketidakpastian geopolitik dan rencana tarif AS, data inflasi dan aktivitas ekonomi AS tetap stabil. Berbeda, kinerja domestik Indonesia solid dengan pertumbuhan penjualan ritel 6,3% YoY dan pembalikan arah positif pada Foreign Direct Investment (FDI) kuartal IV 2025 yang tumbuh 4,3% YoY.

Untuk pekan perdagangan 19–23 Januari 2026, IPOT memproyeksikan IHSG akan bergerak konsolidatif di level 9.000-9.200. IPOT merekomendasikan saham JPFA yang diuntungkan dari peningkatan anggaran Program Makan Bergizi Gratis 2026, BBRI karena kuatnya net buy asing, serta AADI seiring penguatan harga batu bara. Untuk menjaga stabilitas portofolio, IPOT juga menyarankan akumulasi Obligasi Berkelanjutan III Bussan Auto Finance Tahap IV Tahun 2025 Seri B (BAFI03BCN4).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *