Shoesmart.co.id JAKARTA. Pasar saham Indonesia tengah menanti pengumuman penting dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait pembaruan metodologi perhitungan free float saham. Pengumuman ini dijadwalkan pada Jumat, 30 Januari 2026, dan menimbulkan kekhawatiran akan potensi keluarnya arus dana asing (outflow) dari pasar modal domestik.
MSCI akan menentukan apakah akan memperketat definisi free float, yaitu porsi saham perusahaan yang tersedia untuk diperdagangkan secara bebas di pasar. Free float menjadi faktor krusial dalam menentukan bobot suatu saham dalam indeks MSCI.
Kekhawatirannya adalah, jika MSCI menilai bahwa emiten-emiten Indonesia dengan rata-rata free float terendah di Asia sebenarnya memiliki porsi saham yang lebih kecil dari yang dilaporkan, maka investor pasif yang mengikuti indeks MSCI akan terdorong untuk mengurangi kepemilikan mereka di saham-saham tersebut.
Menurut laporan Bloomberg yang dirilis pada Senin, 26 Januari 2026, perubahan metodologi ini rencananya akan mulai diterapkan pada saat peninjauan indeks MSCI di bulan Mei.
Para ahli strategi dari Goldman Sachs Group Inc., termasuk Alvin So, memperkirakan bahwa penyesuaian perhitungan free float oleh MSCI ini berpotensi memicu keluarnya dana pasif dari pasar saham Indonesia hingga mencapai sekitar US$ 2,3 miliar dalam beberapa bulan mendatang. Dampak yang cukup signifikan bagi stabilitas pasar.
IHSG Berpotensi Menguat Terbatas pada Selasa (27/1), Cek Rekomendasi saham pilihannya
Ernest Chew, Head of ASEAN Equities BNP Paribas Asset Management, menambahkan bahwa peninjauan free float oleh MSCI ini meningkatkan kewaspadaan di kalangan pelaku pasar. Sentimen kehati-hatian ini cukup beralasan mengingat dampaknya bisa cukup besar.
“Arus keluar dana belakangan ini lebih mencerminkan strategi pengurangan risiko dan penyesuaian posisi, bukan perubahan fundamental,” jelas Ernest, mencoba menenangkan kekhawatiran pasar.
Tanggapan BEI
Menanggapi potensi arus dana keluar tersebut, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa Efek Indonesia (BEI), Irvan Susandy, menyatakan bahwa pihaknya masih menunggu hasil final dari MSCI terkait rencana perubahan metodologi free float ini.
“Kita tunggu keputusan MSCI tanggal 30 Januari. Kami berharap hal itu tidak terjadi karena Indonesia saat ini masih sangat menarik sebagai tempat berinvestasi dari investor asing,” ujar Irvan saat ditemui di Gedung BEI, Senin (26/1/2026).
Irvan menegaskan keyakinannya terhadap daya tarik pasar modal Indonesia. Ia menunjuk pada pertumbuhan jumlah investor, peningkatan likuiditas pasar, serta nilai transaksi harian yang hampir mencapai US$ 2 miliar sebagai indikator positif. “BEI yakin bursa kita menarik,” tegas Irvan.
Selain itu, BEI terus berupaya melakukan inovasi di berbagai bidang, mulai dari produk investasi, mekanisme perdagangan, hingga pengembangan layanan bagi investor dan emiten. Upaya ini dilakukan untuk menjaga daya saing dan meningkatkan kepercayaan investor.
“Kita selalu berharap yang positif bahwa kita akan selalu dapat inflow, baik dari ritel, institusi lokal, maupun institusi asing. Jadi menurut saya, kita tunggu keputusan MSCI akan seperti apa, baru kita berhitung,” paparnya, menunjukkan sikap optimis namun tetap realistis.
Irvan juga mengungkapkan bahwa MSCI telah melakukan konsultasi publik pada akhir tahun lalu dan akan mengumumkan keputusan final terkait metodologi free float pada Jumat, 30 Januari 2026 mendatang. Proses konsultasi ini menunjukkan adanya keterbukaan dan upaya untuk mengakomodasi masukan dari berbagai pihak.
IHSG Menguat 0,27% ke 8.975 pada Senin (26/1/2026), ANTM, AMMN, DSSA Top Gainers LQ45
“MSCI melakukan konsultasi publik berdasarkan masukan klien mereka dan mencoba mengubah metodologi perhitungan free float. Karena konsultasi publik tersebut, kita sudah berkoordinasi dengan MSCI terkait hal ini,” terang Irvan, menekankan pentingnya komunikasi dan koordinasi antara BEI dan MSCI.
BEI menyampaikan dua keberatan utama terkait rencana perubahan metodologi tersebut. Pertama, metode perhitungan seharusnya diterapkan secara setara di seluruh negara, tanpa diskriminasi. Kedua, metode yang diusulkan dinilai kurang akurat karena mengabaikan data free float yang telah diungkapkan secara resmi oleh emiten.
Menurut BEI, data free float yang disampaikan oleh perusahaan tercatat adalah data publik yang diawasi secara ketat oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jika terbukti ada pembohongan publik, OJK berhak memberikan tindakan tegas sesuai dengan peraturan yang berlaku.
“Ada metode lain yang sebenarnya bisa mereka (MSCI) gunakan. Data free float ini adalah data sebenarnya yang diungkapkan oleh perusahaan tercatat,” pungkas Irvan, menyuarakan harapan agar MSCI mempertimbangkan metode perhitungan yang lebih akurat dan transparan.
Ringkasan
Pasar saham Indonesia menanti pengumuman MSCI terkait perubahan metodologi perhitungan free float saham, yang dijadwalkan pada 30 Januari 2026. Perubahan ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi keluarnya dana asing, terutama jika MSCI memperketat definisi free float dan menilai emiten Indonesia memiliki porsi saham yang lebih kecil dari yang dilaporkan. Goldman Sachs memperkirakan potensi outflow dana pasif mencapai US$ 2,3 miliar.
BEI menyatakan masih menunggu hasil final dari MSCI dan berharap perubahan tersebut tidak terjadi. Direktur Perdagangan BEI, Irvan Susandy, meyakini daya tarik pasar modal Indonesia tetap kuat dan BEI terus berinovasi untuk meningkatkan kepercayaan investor. BEI telah menyampaikan keberatan kepada MSCI terkait metode yang diusulkan dan berharap MSCI mempertimbangkan metode perhitungan yang lebih akurat dan transparan, berdasarkan data free float yang telah diungkapkan oleh emiten.