MSCI Sentil Transparansi, OJK dan BEI Bergerak Benahi Pasar Modal

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama dengan Self Regulatory Organization (SRO) dan para pelaku industri pasar modal aktif menanggapi sejumlah masukan dari penyedia indeks global MSCI. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap perlunya peningkatan transparansi dan kredibilitas pasar modal domestik. Serangkaian agenda perbaikan tengah disiapkan untuk menjawab tantangan tersebut.

Hasan Fawzi, Pjs Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, menekankan bahwa masukan dari penyedia indeks global menjadi momentum penting untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pasar modal nasional.

“Pasar modal nasional baru saja mendapatkan banyak wake up call dari MSCI dan pihak lainnya. Kami, bersama SRO dan pelaku industri, telah merespons tuntutan tersebut. Bersama seluruh elemen pemerintah, kami berkomitmen menjadikan ini sebagai momentum perbaikan,” ungkap Hasan dalam acara CNBC Indonesia Market Outlook 2026 di Jakarta, Selasa (3/3/2026).

OJK Optimis 75% Emiten Bursa Memenuhi Aturan Free-Float 15% di Tahun Pertama

Lebih lanjut, Hasan menjelaskan bahwa tujuan utama dari berbagai program yang diluncurkan adalah untuk meningkatkan kredibilitas pasar modal Indonesia di mata investor, baik domestik maupun global. Ia menambahkan bahwa secara umum, penyedia indeks global memberikan respons positif terhadap agenda proposal yang diajukan oleh regulator.

Salah satu praktik yang diadopsi adalah penerapan high concentration shareholder list. Menurut Hasan, penyedia indeks global sangat sensitif terhadap informasi mengenai struktur kepemilikan saham, terutama jika saham terkonsentrasi pada pihak-pihak yang cenderung tidak melepas kepemilikannya ke pasar.

“Informasi ini sangat penting bagi mereka untuk memutuskan apakah akan mengikutsertakan (include) atau mengeluarkan (exclude) porsi tersebut dalam perhitungan bobot indeks mereka,” jelasnya.

Pjs Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, menegaskan bahwa free float bukanlah satu-satunya perhatian utama MSCI. Namun, kebijakan tersebut tetap menjadi bagian dari proposal karena dinilai sejalan dengan upaya penguatan kualitas pasar secara keseluruhan.

“Tujuan utama kami adalah agar dana asing tidak hanya bertahan, tetapi juga terus bertambah,” ujarnya.

Dalam upaya meningkatkan transparansi, BEI berencana mengadopsi praktik terbaik dari berbagai negara. Contohnya, India telah menerapkan pengungkapan kepemilikan di atas 1%, sementara Hong Kong menerbitkan shareholders concentration list. Model-model ini akan diadaptasi di Indonesia untuk memperkuat keterbukaan informasi di pasar modal.

Sementara itu, Direktur Utama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Samsul Hidayat, menyampaikan bahwa pada tahun 2026, KSEI melakukan pembenahan struktur data investor untuk mendukung kebutuhan transparansi yang semakin meningkat.

OJK Targetkan 75% Emiten Penuhi Free Float Minimum 15% di Tahun Pertama

Perbaikan ini dilakukan dengan memisahkan data investor lokal dan asing, serta data investor individu dan institusi. Selain itu, sistem kepemilikan di Indonesia tetap mengacu pada prinsip Ultimate Beneficial Ownership (UBO) yang memungkinkan penelusuran hingga pemilik manfaat akhir.

“Jika diperlukan, identitas pemilik akhir dapat diketahui,” tegasnya.

Hasan menambahkan bahwa secara fundamental, kondisi pasar modal nasional saat ini tetap solid. Sejak awal tahun hingga akhir Februari 2026, kapitalisasi pasar telah mencapai sekitar Rp14.000 triliun.

Jumlah investor tercatat mencapai 22 juta, dengan 9,2 juta di antaranya merupakan investor saham. Rata-rata nilai transaksi harian sepanjang tahun ini juga melampaui Rp30 triliun per hari.

“Ini menunjukkan bahwa pasar modal nasional kita adalah yang terbesar di kawasan ini,” pungkas Hasan.

Ringkasan

OJK, SRO, dan pelaku industri pasar modal merespons masukan MSCI terkait perlunya peningkatan transparansi dan kredibilitas pasar modal Indonesia. Serangkaian agenda perbaikan disiapkan, termasuk penerapan high concentration shareholder list dan pengungkapan kepemilikan saham yang lebih detail. Tujuannya adalah meningkatkan daya tarik pasar modal Indonesia bagi investor domestik dan global.

BEI berencana mengadopsi praktik terbaik dari negara lain untuk meningkatkan transparansi, sementara KSEI membenahi struktur data investor dengan memisahkan data investor lokal dan asing, individu dan institusi. OJK menekankan fundamental pasar modal Indonesia yang solid dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp14.000 triliun dan rata-rata nilai transaksi harian di atas Rp30 triliun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *