Shoesmart.co.id JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan tanggapan resmi terkait pengumuman rebalancing atau penyesuaian berkala indeks oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI). Penyesuaian ini merupakan hasil tinjauan berkala MSCI untuk periode Maret 2026.
Pengumuman yang dirilis pada Selasa (10 Februari) malam oleh MSCI menyebutkan bahwa perubahan komposisi indeks akan berlaku efektif setelah penutupan perdagangan pada tanggal 27 Februari 2026 dan mulai diimplementasikan pada 2 Maret 2026. Perubahan ini tentu menjadi perhatian pelaku pasar modal di Indonesia.
Dalam hasil rebalancing kali ini, terdapat satu saham emiten Indonesia yang dikeluarkan dari daftar MSCI Global Standard Indexes, yaitu saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF). Namun, INDF tidak sepenuhnya “menghilang” dari pantauan MSCI, melainkan dimasukkan ke dalam kategori MSCI Small Cap Indexes.
Penerbitan Obligasi Korporasi Melonjak 89,87% di 2025, Tembus Rp 284,3 Triliun
Sementara itu, pada MSCI Small Cap Indexes, terdapat dua saham yang justru dikeluarkan dari daftar tersebut, yaitu PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) dan PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO). Perubahan ini memicu berbagai pertanyaan di kalangan investor.
Menanggapi hal ini, Jeffrey Hendrik, Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, mengingatkan bahwa MSCI sebelumnya telah mengumumkan kebijakan pembekuan (freeze) terhadap beberapa penyesuaian indeks untuk saham-saham di Indonesia. Kebijakan ini penting untuk dipahami agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Dalam pengumuman MSCI pada akhir Januari 2026, kebijakan freeze sementara ini mencakup penundaan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS). Artinya, bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI tidak akan mengalami kenaikan signifikan dalam waktu dekat.
Selain itu, MSCI juga memutuskan untuk tidak menambahkan saham baru ke dalam indeks mereka. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas dan prediktabilitas indeks.
“MSCI juga menunda setiap kenaikan klasifikasi antar segmen indeks, termasuk promosi naik dari kategori small cap ke standard indeks,” jelas Jeffrey kepada Kontan pada Rabu (11 Februari). Penundaan ini berdampak pada potensi pergerakan saham-saham yang berada di ambang batas kenaikan kelas.
Sebagai informasi tambahan, dalam pengumuman terpisah, MSCI juga menyampaikan langkah-langkah untuk mengurangi potensi reverse turnover pada Index Review Mei 2026. Reverse turnover adalah kondisi di mana saham yang baru saja masuk ke dalam indeks, kemudian dikeluarkan kembali dalam waktu singkat. Hal ini dapat menimbulkan ketidakpastian dan biaya transaksi bagi investor. Upaya ini dilakukan akibat penerapan metodologi pembulatan free float yang ditingkatkan.
Oleh karena itu, pada Index Review Februari 2026, MSCI hanya akan menerapkan perubahan free float yang bersifat signifikan. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir dampak perubahan metodologi terhadap komposisi indeks.
Secara spesifik, perubahan yang diimplementasikan terbatas pada Foreign Inclusion Factor (FIF) atau Domestic Inclusion Factor (DIF) dengan kriteria tertentu, yakni perubahan absolut sebesar 0,15 atau lebih. Batasan ini diberlakukan untuk menghindari perubahan kecil yang tidak substantif.
Kemudian, penurunan FIF/DIF untuk sekuritas dengan FIF/DIF pro forma di bawah 0,15, serta penurunan yang disebabkan oleh perubahan Foreign Ownership Limit (FOL) atau faktor penyesuaian lainnya juga akan diimplementasikan. Hal ini dilakukan untuk menjaga akurasi dan representasi kepemilikan saham asing dalam indeks.
IHSG Menguat ke 8.261,9 di Akhir Sesi Pertama, Top Gainers LQ45: BUMI, BRPT, INCO
Sementara itu, untuk sekuritas yang perubahan FIF/DIF-nya tidak diimplementasikan dalam Index Review Februari 2026, MSCI juga tidak akan menerapkan perubahan pada Number of Shares (NOS). Konsistensi ini diharapkan dapat memberikan kepastian bagi para investor yang menggunakan indeks MSCI sebagai acuan investasi.
Ringkasan
Bursa Efek Indonesia (BEI) menanggapi pengumuman rebalancing indeks MSCI Maret 2026. Dalam penyesuaian ini, saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dikeluarkan dari MSCI Global Standard Indexes dan dimasukkan ke MSCI Small Cap Indexes, sementara PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) dan PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) dikeluarkan dari MSCI Small Cap Indexes.
BEI mengingatkan bahwa MSCI sebelumnya telah membekukan penyesuaian indeks untuk saham Indonesia, menunda kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), serta tidak menambahkan saham baru. MSCI juga berupaya mengurangi potensi reverse turnover dengan hanya menerapkan perubahan free float signifikan pada Index Review Februari 2026.