MSCI Perketat Aturan: Pasar Modal RI Siap Bergejolak?

Shoesmart.co.id, JAKARTA — Rencana perubahan metodologi perhitungan indeks oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) diperkirakan akan menciptakan gejolak sementara di pasar saham Indonesia.

Valdy Kurniawan, Head of Research Phintraco Sekuritas, menjelaskan bahwa penyesuaian aturan ini akan secara langsung memengaruhi bobot saham perusahaan terbuka, khususnya bagi emiten yang baru tergabung dalam indeks maupun saham dengan kapitalisasi pasar yang besar.

Metodologi baru ini menekankan pada perhitungan bobot awal yang lebih konservatif bagi saham-saham pendatang baru dalam indeks. Akibatnya, proporsi nilai saham tersebut menjadi lebih kecil dibandingkan dengan metode yang berlaku sebelumnya.

“Jika MSCI mengimplementasikan perubahan metodologi ini, potensi terjadinya volatilitas yang signifikan dalam jangka pendek sangat mungkin terjadi, terutama pada saham-saham yang berpeluang masuk ke dalam indeks MSCI,” ungkap Valdy dalam risetnya, Jumat (23/1/2026).

Selain perubahan aturan untuk saham baru, MSCI juga berencana memperketat perhitungan Foreign Inclusion Factor (FIF). FIF adalah faktor yang menentukan seberapa besar porsi saham sebuah perusahaan yang dapat dimiliki dan diperdagangkan oleh investor asing.

Menurut laporan Phintraco Sekuritas, penurunan nilai FIF suatu emiten berisiko mengurangi bobot saham tersebut dalam indeks MSCI. Kondisi ini dapat memicu aksi penyesuaian portofolio oleh investor institusi global.

Lebih lanjut, MSCI juga berencana memperbarui perhitungan free float dengan menggunakan laporan dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai sumber data tambahan. Dalam hal ini, MSCI menyiapkan dua skenario perhitungan: proposed methodology dan alternate methodology.

Dalam skenario pertama, porsi free float sejumlah emiten dengan kapitalisasi besar berpotensi menyusut secara signifikan. Hal ini disebabkan karena MSCI akan mengategorikan kepemilikan korporasi, saham warkat, serta kategori lainnya sebagai saham non-publik.

Sementara itu, skenario kedua, atau alternate methodology, diproyeksikan memberikan dampak yang lebih terbatas. Kategori non-publik dalam skenario ini hanya mencakup saham warkat dan kepemilikan korporasi.

“Penurunan free float pada skenario tersebut relatif lebih kecil dibandingkan dengan skenario pertama [proposed methodology],” jelas Valdy.

Merujuk pada data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sebesar 1,37% dalam sepekan, dari 9.075,40 menjadi 8.951,01. Indeks komposit gagal mempertahankan tren positif setelah mencapai level tertinggi sepanjang masa (ATH) pada penutupan perdagangan Selasa (20/1/2026).

Setelah menyentuh level ATH baru di 9.134, IHSG terus terkoreksi dan ditutup di zona merah selama tiga hari perdagangan berturut-turut. Pada perdagangan Jumat (23/1), indeks komposit ditutup melemah 0,46% atau 41,17 poin.

Dalam periode 19-23 Januari 2026, tercatat aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing sebesar Rp3,25 triliun. Pasar saham pada pekan ini diwarnai aksi jual oleh investor asing, berbeda dengan pekan sebelumnya yang mencatatkan aksi beli bersih (net buy) asing sebesar Rp4,20 triliun.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Ringkasan

Perubahan metodologi perhitungan indeks oleh MSCI diperkirakan akan menimbulkan volatilitas di pasar saham Indonesia, terutama pada saham-saham yang berpotensi masuk indeks. Penyesuaian ini meliputi perhitungan bobot awal yang lebih konservatif untuk saham baru dan pengetatan perhitungan Foreign Inclusion Factor (FIF), yang dapat mengurangi bobot saham emiten dalam indeks dan memicu penyesuaian portofolio oleh investor global.

MSCI juga berencana memperbarui perhitungan free float dengan data dari KSEI, dengan dua skenario: proposed methodology yang berpotensi mengurangi porsi free float secara signifikan dan alternate methodology yang dampaknya lebih terbatas. IHSG sendiri mengalami penurunan dalam sepekan terakhir dengan aksi jual bersih oleh investor asing yang tercatat sebesar Rp3,25 triliun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *