MSCI Bekukan, IHSG Anjlok! Investor Panik? Cek Faktanya!

Shoesmart.co.id, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam dan memasuki zona merah setelah penyedia indeks global, MSCI, mengumumkan pembekuan evaluasi indeks saham Indonesia mulai Februari 2026.

Pada pembukaan perdagangan Rabu (28/1/2028), IHSG langsung merosot 6,53% ke level 8.393,51. Padahal, pada penutupan hari sebelumnya, IHSG masih berada di posisi 8.980.23. Penurunan ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap dampak kebijakan MSCI tersebut.

Akibatnya, saham-saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pun tak luput dari tekanan jual. Saham PT Barito Renewable Energy Tbk (BREN), misalnya, dibuka anjlok 17,46% ke harga Rp 8.100 per saham.

Rupiah Dibuka Menguat ke Rp 16.717 Per Dolar AS Hari Ini (28/1), Asia Bervariasi

Senada dengan BREN, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga mengalami pelemahan signifikan. Saham bank swasta terbesar di Indonesia ini dibuka turun 6% ke level Rp 7.050. Tekanan juga dirasakan oleh saham perbankan lainnya, seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang terkoreksi 4,99%.

Sebagai informasi, MSCI telah mengumumkan penerapan perlakuan sementara terhadap pasar saham Indonesia. Kebijakan ini membekukan sejumlah perubahan dalam evaluasi indeks, yang akan efektif mulai dari penyeimbangan ulang (rebalancing) pada Februari 2026.

Lebih detail, MSCI akan menahan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS). Selain itu, tidak akan ada penambahan saham baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI) selama masa pembekuan ini.

Tak hanya itu, MSCI juga meniadakan kenaikan segmen ukuran indeks, termasuk perpindahan saham dari kategori Small Cap ke Standard. Langkah-langkah ini diambil untuk memitigasi risiko turnover indeks dan menjaga investabilitas pasar saham Indonesia.

“Tindakan ini juga memberikan waktu bagi otoritas pasar terkait untuk menghadirkan peningkatan transparansi yang lebih bermakna,” demikian bunyi pengumuman resmi dari MSCI yang dirilis pada Selasa (27/1/2026) malam.

Dalam pengumuman terpisah, MSCI juga menjelaskan langkah-langkah untuk mengurangi potensi *reverse turnover* pada *Index Review* Mei 2026. Hal ini terkait dengan penerapan metodologi pembulatan *free float* yang ditingkatkan.

Ringkasan

IHSG mengalami penurunan tajam setelah MSCI mengumumkan pembekuan evaluasi indeks saham Indonesia mulai Februari 2026. Pada pembukaan perdagangan, IHSG merosot signifikan, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap dampak kebijakan MSCI. Saham-saham dengan kapitalisasi pasar terbesar seperti BREN dan BBCA turut mengalami tekanan jual yang signifikan.

MSCI membekukan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), serta meniadakan penambahan saham baru dan kenaikan segmen ukuran indeks. Langkah ini diambil untuk memitigasi risiko turnover indeks dan menjaga investabilitas pasar saham Indonesia, serta memberikan waktu bagi otoritas pasar untuk meningkatkan transparansi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *