
Saham PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA), yang juga dikenal sebagai Moratelindo, tengah menunjukkan performa yang sangat mengesankan di pasar modal. Penguatan signifikan ini didorong oleh sentimen positif dari rencana merger strategisnya dengan PT Eka Mas Republik, sebuah entitas yang populer dengan merek layanan internetnya, MyRepublic.
Dalam perdagangan terbaru pada Kamis, 15 Januari 2026, saham MORA mencatatkan posisi di level Rp 13.525 per saham. Performa fantastis ini bukan tanpa alasan, mengingat dalam kurun waktu tiga bulan terakhir saja, saham perusahaan penyedia infrastruktur telekomunikasi terkemuka ini telah melonjak drastis hingga 1.152,31%, memicu antusiasme di kalangan investor.
Perlu diketahui, PT Eka Mas Republik merupakan entitas usaha dari PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). Rencana penggabungan strategis yang telah diumumkan sejak Desember 2025 ini menjadi sorotan utama. David Fernando dan Alex Susanto, Direktur Dian Swastatika Sentosa, menyatakan bahwa DSSA secara ambisius menargetkan pertumbuhan kinerja positif melalui ekspansi agresif di sektor bisnis digital, dengan merger Moratelindo dan MyRepublic sebagai pilar utamanya.
Merger Belum Berhasil Bangkitkan Harga Saham MORA, Apakah Masih Layak Investasi?
Sinergi dari merger ini akan berfokus pada pengembangan. Aset-aset dari Grup MyRepublic direncanakan untuk dialokasikan secara strategis guna pengembangan jaringan homepass, yang krusial dalam meningkatkan kapasitas dan kualitas infrastruktur serta jaringan teknologi secara keseluruhan. Dengan visi ke depan, manajemen memproyeksikan bahwa prospek bisnis penyediaan TV kabel, internet, dan layanan teknologi akan terus mengalami perbaikan signifikan, didorong oleh laju perkembangan teknologi informasi dan digitalisasi yang berkelanjutan. Dalam keterbukuan informasi pada Rabu, 14 Januari 2026, mereka menegaskan, “Dengan dukungan infrastruktur jaringan yang telah ada dan terus dikembangkan, kami memandang bahwa bisnis ini memiliki potensi untuk memberikan kontribusi yang semakin signifikan.”
MORA Chart by TradingView
Menanggapi fenomena ini, Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst dari Mirae Asset Sekuritas, menilai bahwa kenaikan harga saham MORA adalah hal yang wajar. “Pergerakan saham MORA sudah membentuk pola uptrend karena pelaku pasar dan investor sudah priced-in sentimen rencana merger Moratelindo dengan MyRepublic,” jelasnya kepada Kontan pada Sabtu, 17 Januari 2026. Menurut Nafan, ekspektasi akan pemulihan kinerja yang signifikan menjadi pendorong utama. Terlebih lagi, entitas hasil penggabungan Moratelindo dan MyRepublic menargetkan diri untuk menjadi penyedia layanan internet (ISP) dengan cakupan homepass dan customer base terbesar kedua di Indonesia, sebuah target yang ambisius dan menjanjikan.
Namun, di tengah euforia penguatan harga saham ini, Nafan justru memberikan rekomendasi yang perlu dicermati: sell on strength pada saham MORA.
Ringkasan
Saham PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) menunjukkan performa impresif, didorong oleh rencana merger strategis dengan PT Eka Mas Republik, yang dikenal sebagai MyRepublic. Saham MORA telah melonjak signifikan 1.152,31% dalam tiga bulan terakhir, mencapai level Rp 13.525 per saham pada 15 Januari 2026. Rencana merger ini merupakan pilar utama strategi PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) untuk ekspansi agresif di sektor bisnis digital.
Sinergi dari merger ini akan berfokus pada pengembangan jaringan homepass untuk meningkatkan kapasitas infrastruktur. Entitas hasil penggabungan menargetkan untuk menjadi penyedia layanan internet (ISP) terbesar kedua di Indonesia dari segi homepass dan basis pelanggan. Meskipun kenaikan harga saham MORA dianggap wajar karena pasar telah memperhitungkan sentimen merger, seorang analis merekomendasikan strategi `sell on strength`.