Merger BUMN Karya 2026: Prospek Saham dan Dampaknya Bagi Investor

Shoesmart.co.id JAKARTA. Rencana merger Badan Usaha Milik Negara (BUMN) karya yang ditargetkan rampung pada tahun 2026, dinilai belum akan menjadi katalis signifikan bagi kinerja emiten-emiten BUMN konstruksi sepanjang tahun ini.

Danantara menargetkan proses merger tujuh BUMN karya ini akan selesai pada semester II tahun 2026, setelah dilakukan pembersihan laporan keuangan atau *impairment asset*. Target ini mengalami kemunduran dari rencana awal, yang semula diharapkan selesai pada akhir tahun 2025 dan kemudian kuartal I tahun 2026.

Ketujuh BUMN karya yang akan dikonsolidasikan adalah PT Waskita Karya Tbk (WSKT), PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), Hutama Karya, PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT PP Tbk (PTPP), Brantas Abipraya, dan Nindya Karya.

Menanggapi rencana merger yang diproyeksikan terealisasi pada pertengahan 2026, WIKA menyatakan fokus utamanya saat ini adalah menjaga kinerja operasional, meningkatkan tata kelola perusahaan dan digitalisasi, serta melakukan inovasi metode kerja untuk mendukung penyelesaian proyek-proyek yang sedang berjalan.

Rupiah Fluktuatif di Tengah Pelemahan Dolar, Ini Proyeksi Terbarunya Rabu (18/2)

Corporate Secretary WIKA, Ngatemin alias Emin, menjelaskan bahwa langkah-langkah ini diambil agar merger dapat terlaksana sesuai target yang telah ditetapkan. Dengan demikian, WIKA akan siap dan relevan dengan kebijakan yang diambil oleh para pemangku kepentingan utama.

“Apa pun keputusan yang nantinya diambil, kami meyakini tentunya hal ini sudah melalui berbagai aspek kajian, termasuk aspek keberlanjutan,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (13/2).

Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, berpendapat bahwa rencana merger BUMN Karya belum akan berjalan dalam waktu dekat. Pasalnya, penggabungan saat ini justru berisiko membebani perusahaan yang kondisinya relatif lebih sehat dengan permasalahan yang dihadapi perusahaan yang neracanya masih bermasalah.

“Merger baru masuk akal setelah fase beres-beres selesai dulu, terutama restrukturisasi utang, perbaikan arus kas, dan merapikan portofolio proyek,” jelasnya kepada Kontan, Senin (16/2).

Menurutnya, merger baru akan menjadi katalis positif bagi emiten BUMN karya jika utang sudah berkurang dan struktur pendanaan lebih ringan. Dampaknya akan lebih terasa, skala usaha akan lebih besar, biaya operasional menjadi lebih efisien karena tumpang tindih fungsi berkurang, daya tawar ke perbankan dan supplier meningkat, serta peluang untuk mendapatkan proyek besar akan lebih terbuka.

“Di fase itu, merger bukan lagi ‘menyatukan masalah’, tapi menyatukan kapasitas yang sudah lebih stabil,” ungkapnya.

Sebaliknya, jika merger dipaksakan tanpa pembersihan neraca, risikonya adalah menggabungkan masalah yang ada. Hal ini dapat menyebabkan utang semakin menumpuk, arus kas semakin ketat karena kebutuhan modal kerja yang besar, beban bunga tetap tinggi, dan pasar cenderung berhati-hati karena risiko eksekusi yang besar.

“Ujungnya, valuasi bisa tetap tertekan meskipun secara *headline* terdengar ‘merger’,” katanya.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menyampaikan bahwa merger BUMN karya dapat menjadi solusi cepat dalam jangka menengah dan pendek.

“Namun, dia melihat tahun 2026 masih akan menjadi ‘tahun transisi’ untuk emiten konstruksi pelat merah itu dengan risiko eksekusi, laba yang tertekan, dan volatilitas harga saham yang tinggi,” ujarnya kepada Kontan, Senin (16/2).

Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer, menilai bahwa rencana merger BUMN Karya di bawah Danantara pada pertengahan 2026 pada dasarnya adalah solusi jangka panjang untuk merapikan struktur.

Cermati Rekomendasi Saham DSSA, WIIM, INDY untuk Rabu (18/2)

Selain itu, merger juga direncanakan untuk mengurangi tumpang tindih proyek, serta memperkuat posisi keuangan melalui konsolidasi aset dan potensi restrukturisasi utang.

Aksi korporasi ini dinilai sebagai langkah positif jika integrasinya berjalan mulus, serta efisiensi dan daya tawar dalam tender dapat meningkat.

“Namun di fase awal tetap ada risiko, seperti biaya integrasi dan penyesuaian organisasi yang bisa menekan kinerja dalam jangka pendek,” katanya kepada Kontan, Jumat (13/2).

Ekky melihat bahwa kinerja emiten BUMN karya di tahun 2026 cenderung belum terlalu baik. Fokus utama emiten masih akan tertuju pada penyelesaian isu utang dan arus kas negatif. Sementara itu, arah prioritas pemerintah yang baru dapat menyebabkan porsi proyek infrastruktur tidak seagresif periode sebelumnya.

Jika *pipeline* proyek baru lebih selektif, maka potensi pertumbuhan pendapatan juga akan lebih terbatas.

“Jadi tantangannya masih banyak, yaitu dari *refinancing*, pembayaran proyek, sampai menjaga margin di tengah persaingan ketat,” tuturnya.

Rully berpendapat bahwa kinerja BUMN karya di tahun 2026 juga masih akan tertekan. Namun, merger dapat meningkatkan efisiensi, menurunkan *cost of fund* (CoF) bagi emiten dengan beban tinggi, dan memberikan kepastian bagi proyek-proyek strategis.

“Apakah akan lebih baik (di tahun 2026)? Belum tentu. Jadi, tidak perlu terburu-buru (untuk merger),” katanya.

Khaer menambahkan bahwa peluang perbaikan kinerja emiten BUMN karya tetap terbuka pada tahun 2026.

“Ini seiring dengan kebutuhan proyek infrastruktur dan *backlog* yang ada, tetapi sangat bergantung pada disiplin eksekusi, pengelolaan utang, serta arus kas,” tuturnya.

Alhasil, belum ada rekomendasi saham untuk emiten BUMN karya.

Soal Rencana Utang Whoosh Dibayar Menggunakan Dana APBN, Ini Respons WIKA

Ringkasan

Merger BUMN karya yang ditargetkan selesai pada semester II 2026, dinilai belum akan menjadi katalis signifikan bagi kinerja emiten konstruksi di tahun ini. Proses merger tujuh BUMN karya ini, termasuk Waskita Karya (WSKT) dan Wijaya Karya (WIKA), akan dilakukan setelah pembersihan laporan keuangan dan impairment asset. Analis menilai merger baru akan masuk akal setelah restrukturisasi utang, perbaikan arus kas, dan perapihan portofolio proyek selesai.

Merger ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang untuk merapikan struktur, mengurangi tumpang tindih proyek, dan memperkuat posisi keuangan. Namun, risiko seperti biaya integrasi dan penyesuaian organisasi dapat menekan kinerja dalam jangka pendek. Kinerja emiten BUMN karya di tahun 2026 diprediksi masih akan tertekan, dengan fokus pada penyelesaian utang dan arus kas negatif. Belum ada rekomendasi saham untuk emiten BUMN karya saat ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *