Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, meyakini bahwa sektor ekonomi kreatif dapat menjadi jangkar penyelamat ekonomi Indonesia di tengah pusaran ketidakpastian global. Pernyataan ini mengemuka seiring dampak perang di Timur Tengah yang mulai merambah ke sektor perdagangan dan memicu kenaikan harga komoditas dunia.
Berkaca pada pengalaman krisis moneter 1998 dan pandemi Covid-19, Indonesia telah membuktikan ketangguhan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) sebagai tulang punggung perekonomian. Teuku Riefky optimis, skenario serupa dapat terulang, di mana ekonomi kreatif dan kekuatan merek lokal mampu menjadi penopang utama di tengah gejolak ekonomi global. Hal ini disampaikannya dalam sebuah diskusi di Kantor Katadata.co.id, Jakarta Selatan, Jumat (27/3).
Lebih lanjut, Teuku menekankan pentingnya branding dalam ekonomi kreatif untuk mendongkrak daya saing produk dalam negeri. Di tengah situasi global yang labil, produk impor berpotensi mengalami lonjakan harga akibat disrupsi rantai pasok dan perubahan kebijakan perdagangan. Kondisi ini, justru membuka lebar peluang bagi produk lokal untuk merajai pasar domestik.
Sebagai contoh nyata, industri skincare lokal telah menunjukkan perkembangan yang sangat pesat dan mampu bersaing secara kompetitif dengan produk impor. Berbeda dengan produk impor yang hanya masuk sebagai barang jadi dan dikenakan pajak, merek lokal membangun ekosistem produksi yang solid di dalam negeri. Mulai dari pembangunan pabrik, pengemasan, penyerapan tenaga kerja, hingga pengembangan jaringan pemasaran yang luas.
Ekosistem ini menciptakan efek domino ekonomi yang signifikan, menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, dan menghasilkan sumber pendapatan baru, termasuk melalui sistem afiliasi pemasaran digital. “Ribuan afiliator merek lokal telah berhasil memperoleh penghasilan dengan memasarkan produk melalui media sosial dan berbagai platform digital, menjangkau berbagai pelosok Indonesia,” ungkapnya.
Model bisnis semacam ini membuktikan bahwa ekonomi kreatif tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga membuka lapangan kerja baru dan menggerakkan roda perekonomian daerah dari Sabang hingga Merauke.
Konflik global yang memicu kenaikan harga produk dari berbagai negara, termasuk Eropa dan Amerika Serikat, juga dapat menjadi momentum emas bagi produk Indonesia untuk merangsek masuk dan mengisi kekosongan pasar, baik di dalam negeri maupun di kancah regional.
Namun, Teuku Riefky mengingatkan bahwa produk ekonomi kreatif Indonesia tidak hanya harus unggul dari segi kualitas dan harga, tetapi juga dari kekuatan cerita atau storytelling. Nilai autentisitas, kekayaan budaya, dan identitas lokal yang melekat pada produk Indonesia menjadi daya tarik unik yang membedakannya dari produk lain.
“Oleh karena itu, pemerintah terus mendorong pelaku ekonomi kreatif untuk memahami betapa pentingnya storytelling dalam membangun merek yang kuat. Dengan demikian, produk Indonesia tidak hanya bersaing dari segi harga, tetapi juga memiliki nilai tambah yang sulit ditiru,” pungkasnya.
Ringkasan
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif meyakini bahwa ekonomi kreatif, terutama UKM, dapat menjadi penopang ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global akibat konflik Timur Tengah. Pengalaman krisis sebelumnya menunjukkan ketangguhan UKM, dan optimisme muncul bahwa merek lokal dapat merebut pasar domestik di tengah potensi kenaikan harga produk impor.
Pentingnya branding dan storytelling ditekankan untuk meningkatkan daya saing produk lokal. Industri skincare lokal menjadi contoh sukses dengan ekosistem produksi yang kuat dan penyerapan tenaga kerja yang signifikan. Momentum kenaikan harga produk impor membuka peluang bagi produk Indonesia untuk mengisi kekosongan pasar, baik di dalam negeri maupun regional.