Menanti persetujuan RKAB, ini prospek kinerja Antam (ANTM) pada 2026

Shoesmart.co.id – JAKARTA. PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) tengah menanti lampu hijau atas Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk sejumlah tambang nikelnya. Persetujuan RKAB ini menjadi salah satu faktor krusial yang akan menentukan arah kinerja perusahaan pada tahun 2026.

Miftahul Khaer, Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, memprediksi bahwa kinerja ANTM di awal tahun masih akan cukup solid. Menurutnya, segmen emas akan menjadi jangkar utama karena cenderung lebih resisten terhadap gejolak di tengah ketidakstabilan global. Sementara itu, performa nikel akan sangat bergantung pada dinamika harga dan volume penjualan di pasar internasional.

“Tantangan terbesarnya terletak pada fluktuasi harga komoditas, terutama nikel yang sangat sensitif terhadap pasokan global, serta faktor biaya produksi dan kebijakan kuota RKAB,” jelas Miftahul kepada Kontan, Kamis (5/3/2026).

Miftahul menyarankan agar investor terus memantau pergerakan harga emas dan nikel di pasar dunia. Lebih lanjut, progres proyek hilirisasi dapat menjadi katalis positif berikutnya bagi ANTM, di samping realisasi ekspor perseroan.

Terkait dengan konflik di Timur Tengah, Miftahul berpendapat bahwa eskalasi geopolitik umumnya memicu kenaikan harga emas. Hal ini berpotensi menjadi angin segar bagi ANTM dalam jangka pendek.

Harga Emas & Nikel Naik, Pendapatan Antam (ANTM) Diproyeksi Tembus Rp 126 Triliun

“Namun, pada akhirnya, keberlanjutan kinerja tetap ditentukan oleh konsistensi operasional dan kemampuan perusahaan dalam menjaga margin di tengah dinamika pasar yang kompleks,” tegas Miftahul.

Devi Harjoto, analis OCBC Sekuritas, menambahkan bahwa peningkatan kinerja ANTM akan didorong oleh harga komoditas yang menguntungkan pada tahun 2026. ANTM diperkirakan akan mencatatkan pendapatan yang kuat, dengan proyeksi laba bersih mencapai Rp 11 triliun, didukung oleh lonjakan pendapatan sebesar Rp 125,9 triliun.

“Pertumbuhan pendapatan terutama didorong oleh lingkungan harga komoditas yang mendukung, khususnya untuk produk emas dan nikel,” ungkap Devi dalam risetnya pada 10 Februari 2026.

Devi memproyeksikan harga emas akan mencapai US$ 4.600 per troy ons pada tahun 2026. Asumsi ini mencerminkan peningkatan volatilitas pasar global dan permintaan aset safe haven di pasar ritel domestik. Volume penjualan emas diperkirakan akan pulih secara moderat, didukung oleh normalisasi pasokan secara bertahap dari Grasberg mulai kuartal II-2026.

ANTM juga berupaya memastikan kelangsungan pasokan bahan baku melalui penandatanganan gold sales and purchase agreement (GSPA) dengan PT Bumi Suksesindo (BSI) dan PT Puncak Emas Tani Sejahtera (PETS), yang merupakan bagian dari holding Merdeka Group. Dalam perjanjian ini, BSI dan PETS bertindak sebagai penjual, sementara Antam sebagai pembeli, dengan volume transaksi sebesar 3 metrik ton emas per tahun.

Selain itu, penerapan bea cukai ekspor yang lebih tinggi oleh pemerintah untuk penambang emas diperkirakan akan mendorong peningkatan penjualan domestik, yang diharapkan dapat mempersempit kesenjangan pasokan setelah gangguan dari Grasberg saat ini.

Sementara itu, terkait dengan nikel, izin Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang lebih ketat diperkirakan akan meningkatkan persaingan untuk bijih nikel, sehingga berpotensi mempertahankan harga yang lebih tinggi. Devi memperkirakan harga jual rata-rata (ASP) bijih nikel akan tetap premium sebesar US$ 56 per wet metric ton (WMT) pada tahun 2026.

Aneka Tambang (ANTM) Luncurkan Emas Batangan Edisi Spesial Lebaran

Devi juga memperkirakan harga nikel akan meningkat menjadi US$ 16.500 per ton, dengan harga jual rata-rata feronikel (FeNi) meningkat menjadi sekitar US$ 13.000 per ton nikel (TNi) dan volume produksi sebesar 17.000 ton nikel (TNi).

Lebih lanjut, volume penjualan bauksit diperkirakan akan meningkat seiring dengan peningkatan kapasitas Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR). Perusahaan juga berencana untuk menggandakan kapasitas SGAR menjadi 2 juta ton, dengan pembangunan peningkatan kapasitas yang diperkirakan akan dimulai pada tahun 2026.

“Kami memperkirakan volume penjualan bijih bauksit sekitar 2 juta WMT pada tahun 2026, dengan ASP tetap stabil di US$ 35/WMT,” ujar Devi.

Hasan Barakwan, analis Maybank Sekuritas, memproyeksikan bahwa ANTM akan mencatatkan volume penjualan emas tahun 2026 sebesar 40 ton, naik 8% secara year on year (yoy). Proyeksi ini didorong oleh minat investasi ritel yang kuat, yang ditandai dengan “demam emas” yang sedang berlangsung, dan diperkirakan akan berlanjut sepanjang tahun fiskal.

Hasan menyoroti bahwa tren positif emas tetap terjaga. Menurutnya, pergeseran strategis ANTM menuju pengadaan domestik – menggantikan volume impor yang berbiaya lebih tinggi – akan mendorong ekspansi margin di segmen perdagangan emas dengan secara efektif menghilangkan premium impor.

“Menurut pandangan kami, peningkatan biaya struktural ini, ditambah dengan lingkungan harga tinggi yang berlaku, akan memberikan dasar yang kokoh untuk pertumbuhan pendapatan ANTM di 2026,” ucap Hasan dalam risetnya pada 6 Februari 2026.

ANTM Chart by TradingView

Hasan memperkirakan pendapatan ANTM tahun 2025 – 2027 meningkat di kisaran 8,5% – 22%, dengan memasukkan asumsi harga emas yang melonjak di atas US$ 5.000 per troi ons dan harga bijih nikel yang lebih tinggi sebesar US$ 50 per ton.

Dia menandai persetujuan RKAB tahun 2026 sebagai risiko utama, namun Hasan mempertahankan asumsi volume penjualan bijih nikel sebesar 16 juta ton per tahun untuk tahun 2026 – 2027 sesuai dengan kuota sebelumnya.

Devi memproyeksikan pendapatan dan laba bersih ANTM tahun 2026 masing-masing sebesar Rp 125,93 triliun dan Rp 11,03 triliun. Pendapatan dan laba bersih tahun 2025 diproyeksikan mencapai Rp 86,12 triliun dan Rp 7,29 triliun. Sementara itu, pada tahun 2024, ANTM mengantongi pendapatan Rp 69,19 triliun dan laba bersih Rp 3,85 triliun.

Devi dan Hasan merekomendasikan Beli saham ANTM dengan target harga masing-masing Rp 5.000 per saham dan Rp 4.500 per saham. Sementara Miftahul merekomendasikan Tahan saham ANTM dengan target harga Rp 4.900 per saham.

Ringkasan

Kinerja PT Aneka Tambang (ANTM) pada tahun 2026 diproyeksikan meningkat, didorong oleh harga komoditas yang menguntungkan, terutama emas dan nikel. Persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk tambang nikel menjadi krusial, sementara segmen emas diyakini tetap menjadi penopang utama karena ketahanannya terhadap gejolak global.

Analis memprediksi pendapatan ANTM dapat mencapai Rp 125,9 triliun dengan laba bersih Rp 11 triliun, didukung oleh kenaikan harga emas dan nikel, serta peningkatan volume penjualan bauksit seiring peningkatan kapasitas Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR). Investor disarankan untuk memantau pergerakan harga komoditas dan progres hilirisasi sebagai katalis positif bagi ANTM.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *