Pesta Media AJI Jakarta 2024 menggelar talkshow menarik yang mengangkat tema krusial, “Terlena Ringkasan Berita Hasil AI: Apakah Berita di Situs Bakal Tetap Laku?” Diskusi ini menyoroti tantangan yang dihadapi perusahaan media di era kebanjiran teknologi kecerdasan buatan (AI).
Dipandu oleh Nuran Wibisono, editor Tirto.id, sesi ini mengupas tuntas bagaimana penggunaan AI yang semakin meluas memengaruhi kunjungan ke situs berita. Ika Idris, Co-Director & Co-Founder Data & Democracy Research Hub Monash University Indonesia, menjelaskan perubahan perilaku pembaca yang kini lebih mengandalkan *AI Overview* daripada langsung mengakses situs berita.
“Masalahnya sekarang, banyak audiens yang berhenti di *AI Overview*. Jangankan mengklik laman berita, masuk ke berita saja jarang,” ungkap Ika seperti dikutip dari keterangan tertulis yang dirilis pada Minggu (12/5). “Perilaku audiens yang terus berubah akibat *Generative AI* ini secara otomatis berdampak pada penghasilan media.”
Riset yang dilakukan Data & Democracy Research Hub Monash University Indonesia terhadap media anggota Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) menunjukkan penurunan drastis pada pendapatan media daring dari *traffic* pengunjung situs. Penurunan ini mencapai angka yang signifikan, antara 20% hingga 70%, sejak Google mulai mengimplementasikan *AI Overview*.
“Yang paling terpukul adalah media level menengah. Media dengan jumlah pekerja di atas 30 orang adalah yang paling terdampak,” imbuh Ika, menekankan bahwa dampak AI tidak merata, melainkan lebih terasa bagi media dengan skala tertentu.
Citra Dyah, Wakil Ketua Umum AMSI, mengamini hasil riset tersebut. Ia menjelaskan bahwa masyarakat kini memperlakukan platform AI seperti ChatGPT dan Gemini layaknya mesin pencari Google. Akibatnya, masyarakat cenderung “berhenti” pada ringkasan yang dihasilkan AI tanpa perlu mengunjungi situs berita secara langsung.
Ironisnya, platform AI ini mengambil informasi dari situs-situs media untuk membuat ringkasan tersebut melalui *crawling bots*, yaitu program otomatis yang digunakan untuk mengunduh informasi dari berbagai situs web.
“Jadi, ada pengambilan konten tanpa izin, tanpa kompensasi kepada perusahaan media. Konten tersebut kemudian hadir di platform lain dan dikonsumsi oleh audiens yang bahkan tidak mampir ke ‘warung’ kita sama sekali,” keluh Citra, mengibaratkan situs berita sebagai warung yang kehilangan pelanggan.
Citra menambahkan bahwa AMSI aktif bernegosiasi dengan platform digital seperti Google dan Meta untuk mendorong penerapan *Publisher Rights*. *Publisher Rights* merupakan implementasi dari Peraturan Presiden (Perpres) No. 32 Tahun 2024 yang mewajibkan platform digital untuk memberikan kompensasi atas konten berita yang mereka ambil dari media.
“Arahnya adalah menyambung produk terhubung itu sebagai punya *copyright*. Ini menjadi dasar negosiasi kita dengan perusahaan AI saat kita meminta kompensasi,” jelas Citra, menekankan pentingnya hak cipta dalam melindungi konten berita.
Ika Idris menyoroti bahwa media skala besar dengan kesadaran tinggi akan dampak AI pada model bisnis mereka cenderung lebih aktif memperjuangkan hak kompensasi. Sebaliknya, media skala kecil sering kali belum merasakan urgensi untuk melakukan advokasi serupa. Padahal, media-media kecil, terutama yang beroperasi di daerah, memiliki keunggulan karena liputan mereka justru dicari oleh audiens maupun platform digital.
“Sayangnya, media kecil di daerah tidak menyadari bahwa konten mereka adalah ‘emas’ yang bisa digunakan untuk negosiasi dengan perusahaan platform besar. Mereka melakukan *pull data* dengan media-media daerah, dan itu bisa dijual lewat asosiasi ke platform media,” kata Ika. “Kalau emas itu harus dilindungi. Jangan dibagikan gratis.”
Lebih lanjut, Ika menyarankan agar audiens mendukung keberlangsungan media konvensional maupun media alternatif favorit mereka dengan mengakses informasi langsung dari situs berita, bukan melalui perantara seperti Google, ChatGPT, atau Claude.
“Jangan langsung ke Google dulu, tapi ke situsnya langsung. Itu akan sangat berarti bagi media karena Anda menyumbang *traffic* langsung pada media,” pungkasnya, mengajak audiens untuk menjadi bagian dari solusi.
Pesta Media 2024 tidak hanya menyajikan diskusi, tetapi juga beragam kegiatan menarik lainnya, mulai dari pameran foto, lokakarya, pemutaran film, pembuatan zine, hingga penampilan seni.
Diskusi yang dihadirkan AJI Jakarta di Pesta Media mengangkat topik-topik yang beragam dan relevan, seperti kerentanan jurnalis perempuan di ruang redaksi, nasib media saat ini, konservasi dan perlindungan satwa liar, keanekaragaman hayati, pengelolaan sampah, perubahan iklim dan kaum muda, ekstraksi batubara dan ekspansi nikel, hingga isu perempuan adat.
Pesta Media juga menawarkan lokakarya khusus bagi jurnalis terkait *personal branding*, jurnalisme solusi, dan jurnalisme konservasi. Selain itu, ada pula lokakarya zine bertema hutan dan pemutaran film yang menampilkan ketahanan masyarakat adat terhadap ekspansi pembangunan di Papua.
Saat ini, Pesta Media melibatkan 16 lembaga yang bergerak di bidang lingkungan dan media, 26 media partner, serta 6 rekan universitas. Mereka berpartisipasi baik dalam mengisi acara maupun mengisi 30 *booth/stand* promosi yang tersedia di Selasar dan Lantai 2 Gedung Teater Wahyu Sihombing. Sebagai tambahan, Pesta Media menyediakan *booth* medis untuk pemeriksaan kesehatan gratis selama dua hari.
Ringkasan
Diskusi di Pesta Media AJI Jakarta 2024 menyoroti dampak AI Overview terhadap kunjungan situs berita dan pendapatan media. Riset menunjukkan penurunan drastis traffic dan pendapatan media daring, terutama bagi media menengah, akibat audiens yang lebih memilih ringkasan AI daripada mengakses langsung situs berita. Platform AI menggunakan crawling bots untuk mengambil konten berita tanpa izin dan kompensasi.
AMSI aktif bernegosiasi dengan platform digital untuk menerapkan Publisher Rights sesuai Perpres No. 32 Tahun 2024, menuntut kompensasi atas penggunaan konten berita. Media kecil di daerah, meskipun memiliki konten bernilai, seringkali belum menyadari potensi negosiasi mereka. Audiens diimbau untuk langsung mengunjungi situs berita guna mendukung keberlangsungan media.