MDKA, MBMA, EMAS: Rekomendasi Saham Saat Produksi Diprediksi Naik!


Shoesmart.co.id JAKARTA. Tahun 2026 menjadi tahun yang dinanti bagi emiten-emiten Grup Merdeka. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) optimis untuk mendongkrak kinerja mereka. Optimisme ini didorong oleh dua faktor utama: beroperasinya Tambang Emas Pani dan tingginya permintaan komoditas nikel di pasar global.

Sebagai informasi, MDKA, MBMA, dan EMAS telah mempublikasikan laporan kinerja operasional mereka sepanjang tahun 2025.

Di sektor emas, Tambang Emas Tujuh Bukit (TB Gold) yang dikelola oleh MDKA berhasil mencatatkan produksi emas sebanyak 103.156 ounces. Capaian ini didukung oleh kinerja penambangan yang konsisten, optimalisasi armada, serta disiplin operasional yang ketat.

Komisaris Merdeka Copper Gold (MDKA) Belanja Saham MDKA di Harga Rp 3.078

Penjualan emas MDKA di tahun 2025 mencapai 104.168 ounces dengan harga jual rata-rata US$ 3.138 per ounce. Angka ini menunjukkan kenaikan signifikan sebesar 32% secara tahunan (year on year/yoy), yang berdampak positif pada peningkatan margin dan arus kas perusahaan.

Sementara itu, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) terus mematangkan persiapan Tambang Emas Pani. Sepanjang kuartal IV-2025, serangkaian proses commissioning telah dilakukan, meliputi kegiatan penambangan, penghancuran bijih, hingga penumpukan bijih hasil penghancuran di area heap leach.

Proses commissioning fasilitas Adsorption, Desorption and Recovery (ADR) juga berjalan sesuai jadwal. Hal ini semakin mempertegas kesiapan Tambang Emas Pani untuk memasuki tahap irigasi dan memulai produksi emas perdana yang ditargetkan pada kuartal I-2026.

Di sisi lain, Tambang Tembaga Wetar yang juga dioperasikan oleh MDKA, turut berkontribusi dengan mencatatkan produksi tembaga sebanyak 10.454 ton sepanjang tahun 2025.

Selain itu, MDKA telah menyusun perencanaan tambang terintegrasi, program metalurgi, serta optimalisasi proses pengolahan untuk mendukung pengembangan proyek Tembaga Tujuh Bukit.

Simak Capaian Produksi Mineral Merdeka Copper Gold (MDKA) hingga Kuartal III-2025

Beralih ke sektor nikel, tambang nikel Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) yang dikelola oleh PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mencatat lonjakan produksi bijih nikel saprolit sebesar 42% yoy, menjadi 7 juta wet metric tonnes (wmt) pada tahun 2025.

Pada periode yang sama, produksi bijih limonit juga mengalami peningkatan signifikan sebesar 45% yoy, mencapai 14,7 juta wmt.

Fasilitas pengolahan hilir MBMA, termasuk proyek NPI, AIM, dan HPAL, terus mengalami perkembangan sesuai rencana. Hal ini semakin memperkuat posisi Grup Merdeka sebagai pemain terintegrasi dalam rantai nilai bahan baku baterai, sekaligus mendukung peran Indonesia dalam transisi energi global.

Memasuki tahun 2026, Grup Merdeka menargetkan produksi emas sekitar 180.000–205.000 ounces. Target ini masih menunggu persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026. Kontribusi utama diharapkan datang dari Tambang Emas Pani milik EMAS serta produksi berkelanjutan dari Tambang Tujuh Bukit.

Melalui MBMA, Grup Merdeka juga menargetkan produksi 8 juta–10 juta wmt saprolit dan 20 juta–25 juta wmt limonit, yang juga masih menunggu persetujuan RKAB. Target ini ditetapkan untuk mendukung peningkatan skala bisnis, arus kas, dan profitabilitas perusahaan.

Merdeka Copper Gold (MDKA) Raih Pendapatan US$ 854,6 Juta di Semester I-2025

Presiden Direktur Merdeka Copper Gold, Albert Saputro, menyatakan bahwa tahun 2025 merupakan tahun yang penuh dengan kedisiplinan dan pencapaian solid bagi Grup Merdeka.

“Dengan Tambang Emas Pani yang semakin dekat dengan produksi perdana, kinerja berkelanjutan di Tambang Tujuh Bukit, serta peningkatan skala bisnis nikel kami, Merdeka berada pada posisi yang kuat untuk memasuki fase pertumbuhan berikutnya dan menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham dan para pemangku kepentingan,” ujarnya dalam keterangan resmi pada Selasa (3/2).

Secara terpisah, Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menilai bahwa kinerja emiten Grup Merdeka berpotensi membaik pada tahun 2026. Peningkatan target produksi emas MDKA dan dimulainya produksi Tambang Emas Pani oleh EMAS diharapkan menjadi penopang utama, meskipun harga emas mengalami koreksi. Tambahan volume dan efisiensi operasional akan menjadi kunci.

Lebih lanjut, Abida menambahkan bahwa kontribusi komoditas tembaga dari Tujuh Bukit dan nikel dari MBMA juga berpotensi tumbuh signifikan seiring dengan tren harga kedua komoditas tersebut yang menguat. Permintaan struktural dari sektor kendaraan listrik (EV) juga diharapkan mampu menopang diversifikasi pendapatan grup.

Senada dengan Abida, Chief Executive Officer Edvisor Provina Visindo, Praska Putrantyo, menyebutkan bahwa produksi emas perdana Tambang Emas Pani yang diprediksi dimulai pada kuartal I-2026 berpeluang menjadi katalis positif bagi Grup Merdeka.

Saratoga (SRTG) Jual 211,10 Juta Saham Merdeka Copper Gold (MDKA), Ini Alasannya

Meskipun demikian, Praska mengingatkan bahwa harga emas saat ini sedang dalam fase koreksi. Akibatnya, meskipun volume penjualan emas meningkat, terdapat kekhawatiran bahwa margin profitabilitas akan tertekan, terutama untuk MDKA dan EMAS.

Oleh karena itu, Grup Merdeka kemungkinan akan sangat berharap pada MBMA, yang mengincar kenaikan produksi bijih nikel saprolit dan limonit pada tahun 2026, demi menjawab tingginya permintaan pasar.

“Ada potensi MBMA bisa menopang kinerja Grup Merdeka dengan potensi harga nikel yang masih akan menguat seiring dengan permintaan yang kuat dari industri baterai EV,” kata Praska pada Selasa (3/2/2026).

Di samping itu, emiten Grup Merdeka juga berpeluang meraih manfaat besar dari beberapa proyek strategis, seperti Tambang Emas Pani, pengembangan bawah tanah Tambang Tujuh Bukit, dan smelter MBMA.

Proyek-proyek ini diharapkan dapat mendongkrak kapasitas produksi dan kinerja keuangan perusahaan dalam jangka menengah hingga panjang.

“Namun, ekspansi ini tetap membawa risiko berupa volatilitas harga komoditas, potensi keterlambatan proyek, serta tekanan terhadap struktur permodalan akibat kebutuhan belanja modal besar. Oleh karena itu, disiplin eksekusi dan pengelolaan pendanaan menjadi faktor kunci,” ungkap Abida pada Selasa (3/2).

Proyek Emas Pani Milik Merdeka Copper Gold (MDKA) Bakal Menggelar IPO

Abida melanjutkan, saham-saham Grup Merdeka layak dipertimbangkan oleh investor jangka menengah hingga panjang seiring dengan pipeline proyek yang kuat dan prospek pertumbuhan produksi komoditas emas dan nikel.

Saham MDKA direkomendasikan beli oleh Abida dengan target harga Rp 3.000 per saham. Rekomendasi yang sama disematkan untuk saham MBMA dengan target harga Rp 800 per saham.

Sementara itu, Praska menyarankan investor untuk melakukan trading buy saham MDKA dengan target harga di level Rp 3.970 per saham.

Saham MBMA turut direkomendasikan beli dengan target harga sekitar Rp 900 per saham. Adapun saham EMAS direkomendasikan speculative buy dengan target harga di level Rp 6.600 per saham.

Ringkasan

Emiten Grup Merdeka, yaitu MDKA, MBMA, dan EMAS, optimis meningkatkan kinerja pada tahun 2026, didorong oleh beroperasinya Tambang Emas Pani dan tingginya permintaan nikel. Tahun 2025, MDKA mencatatkan produksi emas 103.156 ounces dari Tambang Tujuh Bukit, sementara EMAS mematangkan persiapan produksi perdana Tambang Emas Pani. MBMA juga mencatatkan lonjakan produksi bijih nikel saprolit dan limonit.

Analis merekomendasikan beli untuk saham MDKA dan MBMA karena prospek pertumbuhan produksi emas dan nikel. Peningkatan target produksi emas MDKA dan dimulainya produksi Tambang Emas Pani oleh EMAS diharapkan menjadi penopang utama. Selain itu, kontribusi komoditas tembaga dan nikel berpotensi tumbuh signifikan seiring tren harga yang menguat dan permintaan dari sektor kendaraan listrik (EV).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *