Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang akan digulirkan pada tahun 2026 diproyeksikan sebagai katalis positif yang sangat signifikan bagi beragam emiten di pasar modal Indonesia. Program ini secara fundamental akan menciptakan permintaan struktural jangka menengah, khususnya pada sektor pangan dan konsumsi, yang berpotensi mengubah lanskap bisnis di Tanah Air.
Menurut Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, alokasi anggaran fantastis sebesar Rp 335 triliun—melonjak hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya—menunjukkan komitmen pemerintah yang kuat. Dana sebesar ini tidak hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga diyakini mampu menstabilkan harga komoditas penting seperti daging ayam dan telur. Mekanisme penyerapan potensi kelebihan pasokan di pasar diharapkan dapat mencegah fluktuasi harga yang merugikan produsen dan konsumen. Lebih jauh lagi, program MBG ini dipercaya akan mendorong volume penjualan dan memulihkan margin laba emiten konsumsi melalui penguatan daya beli masyarakat secara luas, memberikan efek domino positif bagi perekonomian nasional.
Sejumlah emiten yang diprediksi akan menjadi penerima manfaat utama dari program ini mencakup sektor perunggasan. Emiten seperti PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), dan PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) siap meraup keuntungan besar. Lonjakan permintaan protein hewani diperkirakan akan menyerap ratusan ribu ton daging ayam dan telur untuk memenuhi kebutuhan program gizi nasional, menciptakan peluang pertumbuhan yang masif bagi perusahaan-perusahaan ini.
Selain itu, sektor produk susu juga tidak kalah prospektif. Emiten seperti PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ), PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY), dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) melalui merek Indomilk, berpotensi memimpin pasar. Posisi mereka sebagai produsen utama susu UHT yang efisien dalam distribusi skala besar ke seluruh Indonesia menjadi keunggulan kompetitif yang tak terbantahkan. Tak berhenti di situ, emiten beras seperti PT Buyung Poetra Sembada Tbk (HOKI) dan PT Wahana Inti Makmur Tbk (NASI), serta emiten peternakan seperti PT Janu Putra Sejahtera Tbk (AYAM), juga akan diuntungkan oleh peningkatan volume produksi guna memenuhi standar gizi karbohidrat dan protein yang telah ditetapkan dalam setiap porsi makanan program MBG.
Melihat potensi besar ini, Abida menyarankan para investor untuk jeli mencermati peluang melalui strategi buy on weakness pada saham-saham sektor konsumsi dan perunggasan. Fokuslah pada emiten yang memiliki fundamental kuat dan pangsa pasar dominan, karena merekalah yang paling siap menyambut gelombang permintaan dari program MBG. Ia juga menekankan pentingnya memantau realisasi penyerapan anggaran harian yang ditargetkan mencapai Rp 1,2 triliun. Pemantauan ini krusial guna memastikan bahwa momentum pertumbuhan pendapatan emiten berjalan selaras dengan target operasional pemerintah, memberikan indikasi yang jelas mengenai keberlanjutan dampak positif program.
Di sisi lain, investor juga diingatkan untuk tetap memperhatikan faktor-faktor eksternal yang dapat mempengaruhi kinerja emiten. Stabilitas nilai tukar Rupiah dan fluktuasi harga bahan baku pakan ternak global adalah dua variabel krusial yang dapat mempengaruhi margin keuntungan bersih perusahaan di tengah kenaikan permintaan domestik. Dalam konteks ini, Abida merekomendasikan mayoritas emiten di sektor terkait pada posisi buy dengan target harga yang mencerminkan potensi pertumbuhan yang kuat. Misalnya, JPFA diproyeksikan mencapai Rp 2.800 dan CPIN di level Rp 6.400. Di sektor konsumsi dan produk susu, CMRY memiliki target harga Rp 6.000, didukung oleh tren pertumbuhan laba dan inovasi produk yang konsisten. Sementara itu, emiten barang konsumsi lainnya seperti ICBP ditargetkan pada Rp 11.500, disusul MYOR dengan target Rp 2.700, yang didukung oleh potensi pemulihan konsumsi rumah tangga secara bertahap.
Ringkasan
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang akan dimulai pada tahun 2026 diproyeksikan menjadi katalis positif signifikan bagi emiten di pasar modal Indonesia. Dengan alokasi anggaran Rp 335 triliun, program ini akan menciptakan permintaan struktural pada sektor pangan dan konsumsi, serta diyakini mampu menstabilkan harga komoditas penting seperti daging ayam dan telur. Hal ini diharapkan dapat mendorong volume penjualan dan memulihkan margin laba emiten konsumsi melalui penguatan daya beli masyarakat.
Analis Abida Massi Armand memprediksi sejumlah emiten di sektor perunggasan (CPIN, JPFA, MAIN), produk susu (ULTJ, CMRY, ICBP), beras (HOKI, NASI), dan peternakan (AYAM) akan menjadi penerima manfaat utama. Ia menyarankan investor untuk melakukan strategi buy on weakness pada saham-saham sektor ini, fokus pada emiten fundamental kuat dan pangsa pasar dominan. Investor juga perlu memantau realisasi penyerapan anggaran serta memperhatikan faktor eksternal seperti stabilitas Rupiah dan fluktuasi harga bahan baku.