Shoesmart.co.id – JAKARTA. Kabar baik bagi pasar modal di awal tahun! PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat bahwa minat perusahaan untuk menerbitkan surat utang atau obligasi korporasi masih sangat tinggi. Ini menjadi sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Hingga 31 Januari 2026, Pefindo telah mengantongi mandat penerbitan obligasi korporasi dengan nilai fantastis, mencapai Rp 71,35 triliun. Angka ini berasal dari rencana 43 perusahaan yang ingin merilis surat utang sepanjang tahun 2026. Perlu dicatat, angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan periode yang sama di tahun 2025, di mana mandat yang terkumpul sebesar Rp 56,7 triliun.
Menurut Pefindo, lonjakan nilai mandat ini mencerminkan pertumbuhan rencana emisi yang telah masuk dalam *pipeline*, terutama dari perusahaan-perusahaan yang sudah memiliki peringkat kredit dan berencana menerbitkan obligasi dalam waktu dekat. Hal ini menunjukkan kepercayaan diri pelaku usaha terhadap kondisi pasar dan prospek bisnis ke depan.
Resmi Jadi Perusahaan Holding, Leyand International (LAPD) Ubah Logo
Chief Economist Pefindo, Suhindarto, menjelaskan bahwa tingginya minat penerbitan obligasi di awal tahun 2026 ini tak lepas dari munculnya sejumlah program Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) baru sepanjang tahun sebelumnya. Keberadaan PUB baru ini memberikan ruang bagi perusahaan untuk melanjutkan penerbitan obligasi mereka di tahun 2026.
“Berbeda dengan kondisi Januari 2025, di mana sebagian besar mandat merupakan sisa mandat atau sisa PUB dari periode sebelumnya, sehingga nilainya relatif lebih rendah,” ujar Suhindarto dalam konferensi pers yang diadakan Pefindo pada hari Rabu, 11 Februari 2026. Perbedaan ini menunjukkan dinamika pasar obligasi yang semakin berkembang.
Jika dilihat berdasarkan sektornya, perusahaan multifinance menjadi kontributor terbesar dengan rencana penerbitan obligasi senilai Rp 17,65 triliun yang berasal dari tujuh perusahaan. Posisi kedua ditempati oleh industri bubur kertas dan tisu dengan nilai Rp 8,92 triliun dari tiga perusahaan, diikuti oleh sektor perbankan dengan nilai Rp 7,71 triliun dari dua entitas.
“Kemudian, sektor perusahaan induk (holding) juga masih cukup besar, dengan empat perusahaan yang berencana menerbitkan obligasi senilai Rp 6,05 triliun,” imbuh Suhindarto. Diversifikasi sektor ini menunjukkan bahwa kebutuhan pendanaan melalui obligasi merata di berbagai industri.
Sektor-sektor lain yang juga turut meramaikan *pipeline* penerbitan obligasi antara lain sektor kimia (Rp 4,5 triliun) dan pertambangan (Rp 3,21 triliun). Selain itu, ada juga rencana penerbitan dari sektor menara telekomunikasi (Rp 3 triliun), telekomunikasi (Rp 2,85 triliun), lembaga keuangan khusus (Rp 2,78 triliun), perkebunan (Rp 2,22 triliun), serta jalan tol (Rp 2,06 triliun).
Sektor perdagangan dan distributor, pelayaran, manufaktur, minyak dan gas, hingga utilitas juga tercatat memiliki rencana penerbitan obligasi, meskipun dengan nilai yang lebih kecil. Hal ini menunjukkan bahwa pasar obligasi menjadi alternatif pendanaan yang menarik bagi berbagai jenis perusahaan.
Dari sisi jenis instrumen, Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) obligasi masih menjadi primadona dengan nilai mandat mencapai Rp 47,46 triliun. PUB sukuk menyusul di posisi kedua dengan nilai Rp 14,15 triliun.
MSCI Rebalancing Emiten Indonesia Periode Maret 2026, Ini Penjelasan BEI
Sementara itu, obligasi non-PUB tercatat sebesar Rp 6,1 triliun dan sukuk non-PUB sebesar Rp 2,05 triliun. Instrumen lainnya yang juga diminati meliputi *medium term notes* (MTN) sebesar Rp 1,09 triliun dan sekuritisasi sebesar Rp 500 miliar.
Meskipun demikian, Suhindarto mengingatkan bahwa angka mandat penerbitan obligasi ini bersifat dinamis dan sangat bergantung pada periode *cut-off* pencatatan. Angka tersebut dapat bertambah jika ada perusahaan baru yang menyampaikan rencana penerbitan, tetapi juga bisa berkurang seiring dengan realisasi obligasi yang sudah diterbitkan. Oleh karena itu, pelaku pasar perlu terus memantau perkembangan terbaru terkait penerbitan obligasi korporasi.
Ringkasan
Pefindo mencatat minat penerbitan obligasi korporasi yang tinggi di awal tahun 2026, dengan mandat mencapai Rp 71,35 triliun hingga 31 Januari. Angka ini berasal dari rencana 43 perusahaan dan meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Lonjakan ini mencerminkan pertumbuhan rencana emisi dalam *pipeline*, menunjukkan kepercayaan diri pelaku usaha terhadap pasar.
Sektor multifinance menjadi kontributor terbesar dengan rencana penerbitan Rp 17,65 triliun, diikuti bubur kertas dan tisu serta perbankan. Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) obligasi masih menjadi instrumen utama dengan nilai mandat Rp 47,46 triliun. Pefindo mengingatkan bahwa angka ini dinamis dan bergantung pada periode *cut-off* pencatatan.