Logam Industri Berfluktuasi: Analis Ungkap Proyeksi Terbaru!

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar logam industri saat ini tengah menghadapi turbulensi akibat ketidakpastian ekonomi global dan tensi geopolitik yang membara di Timur Tengah.

Data dari Trading Economics pada hari Selasa (10/3), pukul 17.08 WIB menunjukkan adanya pergerakan harga yang signifikan. Harga aluminium mengalami penurunan sebesar 1,71% dibandingkan hari sebelumnya, berada di level US$ 3.326 per ton. Padahal, sebelumnya aluminium sempat mencapai puncak harga US$ 3.425 pada hari Jumat (6/3).

Sementara itu, nikel justru menunjukkan tren positif dengan kenaikan 0,25% dalam sehari, menjadi US$ 17.474 per ton. Timah juga mengalami kenaikan harga, mencapai US$ 50.685 per ton pada hari Senin (09/03), atau naik 1,24% dibandingkan hari sebelumnya.

Wahyu Laksono, seorang analis komoditas sekaligus founder Traderindo.com, menjelaskan bahwa dinamika harga logam industri ini merupakan cerminan dari kombinasi antara kekhawatiran pasokan (supply-side risk) yang dipicu oleh kondisi geopolitik dan sentimen permintaan yang kuat dari sektor teknologi.

Konflik Timur Tengah Picu Fluktuasi Harga Logam Industri

Untuk proyeksi ke depan, Wahyu memperkirakan harga aluminium pada semester I tahun 2026 akan bergerak dalam rentang US$ 2.700 – US$ 3.700 per ton. Timah diperkirakan akan berada di kisaran US$ 40.000 – US$ 50.000 per ton, sedangkan nikel diprediksi akan bergerak antara US$ 16.000–US$ 20.000 per ton.

Senada dengan Wahyu, Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, juga memproyeksikan bahwa harga pada semester pertama tahun 2026 akan terkonsolidasi pada level yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata tahun sebelumnya.

“Aluminium berpotensi menyentuh level psikologis US$ 3.600 per ton jika krisis pengiriman di Selat Hormuz belum menemukan titik terang. Nikel diperkirakan akan kembali stabil di kisaran US$ 18.500 – US$ 19.500 per ton seiring dengan penyesuaian pasar terhadap kuota baru Indonesia,” ungkap Sutopo kepada Kontan, Selasa (10/3/2026).

Fluktuasi Harga Logam Industri, Konflik Timur Tengah Berdampak ke Sejumlah Negara

Lebih lanjut, Sutopo memprediksi harga timah akan berada di kisaran US$ 54.000 per ton, sejalan dengan pemulihan permintaan dari sektor semikonduktor global.

Sementara itu, Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, memberikan proyeksi harga aluminium di kisaran US$ 3.200- US$ 3.600 per ton, nikel berada di rentang US$ 16.000-19.000 per ton, dan timah di antara US$ 45.000-55.000 per ton.

Harga Logam Industri Terangkat Permintaan Global

Ringkasan

Pasar logam industri mengalami fluktuasi harga akibat ketidakpastian ekonomi global dan tensi geopolitik. Pada tanggal 10 Maret, aluminium turun 1,71%, nikel naik 0,25%, dan timah naik 1,24%. Analis menyebut dinamika ini dipengaruhi kekhawatiran pasokan dan permintaan kuat dari sektor teknologi.

Analis memproyeksikan harga logam pada semester I tahun 2026: aluminium antara US$ 2.700 – US$ 3.700 per ton, timah antara US$ 40.000 – US$ 50.000 per ton, dan nikel antara US$ 16.000 – US$ 20.000 per ton. Krisis pengiriman di Selat Hormuz berpotensi mendorong aluminium ke US$ 3.600 per ton, sementara pemulihan sektor semikonduktor global dapat mendorong timah ke US$ 54.000 per ton.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *