Shoesmart.co.id, Jakarta – Awal tahun 2026 menjadi sorotan bagi pasar modal Indonesia, khususnya terkait pergerakan saham PT Link Net Tbk (LINK). Axiata Investment, sebagai pengendali utama emiten penyedia jasa internet dan TV kabel tersebut, dilaporkan telah mengurangi porsi kepemilikan sahamnya secara signifikan.
Berdasarkan keterbukaan informasi yang dirilis pada Jumat (2/1/2026), Axiata Investment melepas sebanyak 36.562.377 saham LINK, atau sekitar 36,56 juta lembar saham. Transaksi besar ini difasilitasi oleh Maybank Sekuritas Indonesia. Sebelum aksi divestasi tersebut, Axiata Investment tercatat menggenggam 2,02 miliar saham LINK, setara dengan 70,66% dari total modal ditempatkan dan disetor. Setelah penjualan, kepemilikan mereka menyusut menjadi sekitar 1,98 miliar saham atau 69,38%. Meski demikian, rincian mengenai nilai maupun harga transaksi dari aksi pelepasan saham ini belum diungkapkan kepada publik.
Aksi korporasi Axiata Investment ini terjadi di tengah kinerja keuangan PT Link Net Tbk (LINK) yang masih menunjukkan tantangan serius. Merujuk laporan keuangan terbaru, emiten tersebut kembali membukukan hasil yang kurang menggembirakan hingga kuartal III-2025.
Kerugian Link Net (LINK) Membengkak, Beban Jaringan dan Amortisasi Naik Tajam
Pada periode September 2025, LINK mencatatkan kerugian tahun berjalan sebesar Rp 1,02 triliun. Angka ini melonjak 28,24% dibandingkan kerugian sebesar Rp 801,54 miliar yang tercatat pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pembengkakan kerugian ini utamanya dipicu oleh lonjakan signifikan pada beberapa pos beban. Beban jaringan dan beban langsung lainnya tercatat hampir berlipat ganda, meningkat dari Rp 592,35 miliar menjadi Rp 1,21 triliun. Tak hanya itu, beban amortisasi juga mengalami kenaikan, dari Rp 50,70 miliar menjadi Rp 60,78 miliar.
Tekanan terhadap kinerja LINK semakin terasa dengan hilangnya kontribusi positif dari pos laba operasi yang dihentikan, khususnya dari segmen pelanggan residensial seperti layanan internet broadband. Pada periode yang sama tahun lalu, segmen ini masih menyumbang Rp 569,63 miliar, namun kini tercatat nihil. Ironisnya, di tengah kondisi kerugian yang membengkak, pendapatan Link Net justru melesat 45,62% secara tahunan, mencapai Rp 2,39 triliun, dibandingkan Rp 1,64 triliun per September 2024.
Kenaikan pendapatan yang impresif ini mayoritas ditopang oleh kontribusi masif dari pendapatan sewa jaringan, yang sebelumnya nihil, kini mencapai Rp 859,55 miliar. Selain itu, pendapatan dari layanan TV kabel juga menunjukkan pertumbuhan tajam, naik dari Rp 32,95 miliar menjadi Rp 800,15 miliar.
Ringkasan
Axiata Investment, pengendali utama PT Link Net Tbk (LINK), melepas sebanyak 36,56 juta saham LINK pada awal Januari 2026. Transaksi ini difasilitasi oleh Maybank Sekuritas Indonesia, mengurangi porsi kepemilikan Axiata dari 70,66% menjadi 69,38%. Nilai maupun harga transaksi dari pelepasan saham ini belum diungkapkan kepada publik.
Aksi korporasi tersebut dilakukan di tengah kinerja keuangan LINK yang kurang menggembirakan, dengan kerugian tahun berjalan mencapai Rp 1,02 triliun pada kuartal III-2025. Kerugian ini membengkak 28,24% dibanding periode sebelumnya, terutama akibat lonjakan beban jaringan dan amortisasi. Meskipun demikian, pendapatan Link Net justru melesat 45,62% menjadi Rp 2,39 triliun, ditopang oleh kontribusi pendapatan sewa jaringan dan layanan TV kabel.