Shoesmart.co.id – JAKARTA. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) telah memulai proses seleksi atau lelang untuk pengguna pita frekuensi radio 700 MHz dan 2,6 GHz. Lelang ini ditujukan untuk mendukung penyelenggaraan jaringan bergerak seluler pada tahun 2026. Pengumuman pemenang lelang diharapkan dapat dilakukan pada akhir Juli 2026.
Bob Setiadi, Analis CGS International Sekuritas Indonesia, mengungkapkan bahwa PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) sedang mempertimbangkan persyaratan penawaran dan berambisi untuk mengamankan spektrum frekuensi sebanyak mungkin. Manajemen TLKM mencatat bahwa hanya dua operator telekomunikasi lain yang turut serta dalam penawaran untuk kedua pita frekuensi tersebut.
Selain itu, persyaratan pembayaran dalam lelang ini dinilai lebih menguntungkan. Pemerintah kini menetapkan biaya spektrum tahunan sebesar dua kali lipat pada tahun pertama, lebih rendah dibandingkan ketentuan sebelumnya yang mencapai tiga kali lipat.
“Manajemen juga menyampaikan bahwa peluncuran 5G akan dilakukan secara hati-hati, dengan mempertimbangkan kesiapan pasar dan tingkat penetrasi perangkat yang mendukung 5G,” jelas Bob dalam risetnya tertanggal 12 Mei 2026.
Peningkatan Efisiensi Operasional, Begini Prospek Kinerja Telkom (TLKM)
Analis OCBC Sekuritas, Gani, memproyeksikan bahwa seluruh segmen bisnis TLKM akan mencatatkan pertumbuhan pada tahun ini.
Meskipun demikian, terdapat tantangan yang perlu diwaspadai, termasuk kondisi makroekonomi yang kurang mendukung, daya beli konsumen yang terbatas, persaingan yang semakin ketat di industri telekomunikasi, serta perkembangan eksekusi unlocking asset. Faktor-faktor ini akan memengaruhi kinerja TLKM di masa mendatang.
“Pendapatan dan laba bersih pada tahun 2026 diperkirakan akan meningkat, didorong oleh perbaikan Average Revenue Per User (ARPU) di bisnis seluler dan pertumbuhan di lini bisnis lainnya,” ungkap Gani kepada Kontan, pada hari Selasa, 26 Mei 2026.
Manajemen TLKM memprediksi pertumbuhan pendapatan yang dinormalisasi sebesar 1% – 3% pada tahun 2026. Angka ini mengindikasikan pemulihan bertahap setelah penurunan pendapatan sebesar 2,2% pada tahun 2025.
“Kami memprediksi tahun 2026 akan menjadi awal dari normalisasi pendapatan, yang didorong oleh peningkatan efisiensi operasional dan struktur biaya yang lebih sehat,” kata Leonardo Lijuwardi, Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia, dalam risetnya pada 20 Mei 2026.
Leonardo menambahkan bahwa valuasi TLKM saat ini terbilang menarik, didukung oleh tekanan jual asing yang relatif terbatas, yang tercermin dalam pergerakan harga sahamnya baru-baru ini. Selain itu, karakteristik defensif saham TLKM menjadikannya aset lindung nilai portofolio yang ideal di tengah volatilitas tinggi di pasar ekuitas Indonesia.
Bumi Resources (BUMI) Terbitkan Obligasi Senilai Rp 1,84 Triliun
Di luar profil bisnisnya yang tangguh dan stabil, inisiatif strategis TLKM, termasuk perampingan operasional, pelepasan nilai dari aset fiber melalui Infranexia, dan perluasan bisnis pusat datanya, berpotensi memberikan katalis positif jangka menengah seiring dengan transisi perusahaan menuju fase bisnis yang lebih matang.
Dalam jangka pendek, Leonardo menilai bahwa katalis positif untuk TLKM mencakup keberhasilan pelaksanaan inisiatif efisiensi operasional, serta potensi peningkatan ARPU yang sejalan dengan pemulihan kondisi industri.
“Risiko penurunan utama meliputi pelemahan daya beli konsumen yang dapat mengurangi permintaan layanan data, persaingan yang semakin ketat antar operator telekomunikasi, terutama dalam hal penetapan harga, serta potensi penundaan dalam proses transformasi bisnis TLKM,” jelas Leonardo.
Sementara itu, John Te, Analis UBS Sekuritas Indonesia, mencatat bahwa tahap 2 dari pemisahan aset serat optik mengalami penundaan selama satu kuartal akibat masalah perizinan dan diperkirakan akan selesai pada kuartal III – 2026. Telkom juga menjajaki kemungkinan konsolidasi aset serat optik yang dimiliki oleh BUMN lain ke dalam penawaran Infranexia-nya.
“Meskipun terjadi penurunan laba, Telkom berencana untuk menyamai atau melampaui jumlah dividen absolut untuk laba tahun 2025,” kata John dalam risetnya pada 12 Mei 2026.
Leonardo memproyeksikan bahwa pendapatan dan laba bersih TLKM pada tahun 2026 masing-masing akan mencapai Rp 151,04 triliun dan Rp 23,78 triliun. Sebagai perbandingan, pada tahun 2025, TLKM membukukan pendapatan sebesar Rp 146,7 triliun dan laba bersih sebesar Rp 17,8 triliun.
TLKM Chart by TradingView
Leonardo, John, dan Gani memberikan rekomendasi saham buy untuk TLKM dengan target harga masing-masing Rp 3.700 per saham, Rp 3.600 per saham, dan Rp 4.200 per saham.
Sedangkan Bob merekomendasikan add saham TLKM dengan target harga Rp 4.100 per saham.
Ringkasan
Kementerian Kominfo membuka lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz untuk mendukung jaringan seluler tahun 2026. Telkom (TLKM) berminat mengamankan spektrum frekuensi sebanyak mungkin dan menilai persyaratan pembayaran lelang lebih menguntungkan. Peluncuran 5G akan dilakukan hati-hati mempertimbangkan kesiapan pasar.
Analis memproyeksikan pertumbuhan di semua segmen bisnis TLKM pada tahun 2026, meskipun ada tantangan makroekonomi dan persaingan. Pendapatan dan laba bersih diperkirakan meningkat, didorong oleh ARPU seluler dan efisiensi operasional. Beberapa analis memberikan rekomendasi ‘beli’ untuk saham TLKM dengan target harga bervariasi.