Lebaran: Tips Investasi Cerdas dari Analis Agar Cuan Maksimal

Menjelang libur panjang Lebaran, pasar saham Indonesia diprediksi masih akan bergejolak. Para analis menyarankan investor untuk lebih waspada dan menerapkan strategi investasi yang defensif, mengingat ketidakpastian ekonomi global yang terus membayangi.

Hendra Wardana, analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, mengungkapkan bahwa sentimen *risk-off* yang meningkat di kalangan investor global menjadi pemicu utama tekanan di pasar saham saat ini.

Terbukti, pada penutupan perdagangan Jumat (13 Maret 2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 3,05% ke level 7.137,21. Hal ini mengindikasikan bahwa investor cenderung mengurangi alokasi dana pada aset-aset berisiko.

“Lonjakan harga minyak dunia yang kembali menembus US$100 per barel akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu kekhawatiran pasar akan potensi lonjakan inflasi energi,” jelas Hendra kepada Kontan, Jumat (13 Maret 2026).

Wall Street Dibuka Mixed Jumat (13/3), Investor Cermati Data Ekonomi dan Perang Iran

Kenaikan harga energi dapat membuat bank sentral global menunda pelonggaran kebijakan moneter. Akibatnya, investor global menjadi lebih berhati-hati, termasuk terhadap pasar negara berkembang seperti Indonesia.

Dalam situasi seperti ini, Hendra menyarankan investor untuk memperbesar porsi kas dan mengurangi posisi pada saham-saham yang sudah mengalami kenaikan signifikan.

“Menjelang libur Lebaran, strategi yang bijak adalah menjaga proporsi kas yang lebih besar, mengurangi posisi pada saham yang sudah naik signifikan, serta menghindari pengambilan posisi baru secara agresif sampai volatilitas pasar mereda,” paparnya.

Selain faktor global, Hendra juga menyoroti potensi tekanan dari sisi fiskal domestik jika harga minyak dunia tetap tinggi.

Menurutnya, jika harga minyak bertahan di kisaran US$90 hingga US$100 per barel, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berpotensi melebar hingga sekitar 3,6% hingga 4% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Kondisi ini dapat memengaruhi persepsi investor terhadap stabilitas makroekonomi Indonesia.

Hendra juga menekankan perlunya pemerintah mengkaji ulang skala implementasi beberapa program belanja besar, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), untuk mengurangi tekanan terhadap fiskal.

“Program MBG tidak harus dihentikan, tetapi pelaksanaannya dapat disesuaikan dari sisi waktu maupun skala implementasinya agar tetap selaras dengan kondisi fiskal yang sedang tertekan,” sarannya.

Ekspansi Regional Dorong Prospek Saham Kalbe Farma (KLBF), Ini Rekomendasinya

Sementara itu, Harry Su, Managing Director Research dan Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, menyarankan agar investor menerapkan strategi yang lebih selektif menjelang libur panjang, dengan fokus pada saham-saham berfundamental kuat.

“Dalam kondisi seperti ini, strategi yang lebih bijak bagi investor adalah menjaga posisi yang sudah ada sambil tetap selektif melakukan akumulasi pada saham dengan fundamental kuat dan likuiditas tinggi,” kata Harry.

Menurutnya, sektor-sektor yang menarik untuk dicermati saat ini antara lain perbankan besar, *consumer non-cyclical*, serta komoditas.

Harry memberikan contoh beberapa saham yang dinilai relatif defensif menjelang libur panjang, antara lain BBCA dengan target harga Rp8.600, BMRI Rp5.700, ICBP Rp11.000, ISAT Rp2.800, serta ANTM Rp4.900.

Bagi investor yang memilih untuk menahan posisi, Harry menilai bahwa momentum untuk kembali masuk ke pasar dapat diperhatikan setelah periode libur Lebaran, ketika aktivitas pasar kembali normal dan likuiditas meningkat.

“Dalam jangka pendek, pergerakan IHSG masih berpotensi bergerak dalam pola konsolidasi dengan volatilitas yang relatif tinggi seiring investor global yang masih mencermati perkembangan geopolitik,” jelasnya.

Hendra memperkirakan bahwa IHSG masih berpotensi menguji area *support* psikologis di kisaran 7.050 hingga 7.000 dalam jangka pendek.

Jika tekanan eksternal semakin meningkat dan arus dana asing terus keluar dari pasar domestik, ia menilai bahwa IHSG berpotensi bergerak lebih dalam menuju area 6.900.

Meskipun demikian, Hendra meyakini bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih relatif stabil, sehingga koreksi pasar dapat menjadi peluang bagi investor jangka menengah dan panjang untuk mengakumulasi saham-saham berkualitas.

“Secara fundamental, ekonomi Indonesia masih relatif stabil dengan pertumbuhan yang solid serta kondisi perbankan yang sehat,” pungkasnya.

Harga Minyak WTI Turun, Izin Ekspor Rusia Picu Pasokan Tambahan

Ringkasan

Menjelang libur Lebaran, analis menyarankan investor untuk lebih waspada terhadap gejolak pasar saham dan menerapkan strategi investasi yang defensif. Sentimen *risk-off* global dan lonjakan harga minyak menjadi pemicu utama tekanan di pasar. Disarankan untuk memperbesar porsi kas, mengurangi posisi pada saham yang sudah naik signifikan, dan menghindari pengambilan posisi baru secara agresif.

Investor disarankan untuk selektif dan fokus pada saham-saham berfundamental kuat seperti sektor perbankan besar, *consumer non-cyclical*, dan komoditas. Momentum untuk kembali masuk ke pasar dapat diperhatikan setelah periode libur Lebaran. IHSG diperkirakan masih berpotensi menguji area *support* psikologis, namun koreksi pasar dapat menjadi peluang akumulasi saham berkualitas bagi investor jangka panjang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *