Jakarta, IDN Times – Bank Indonesia (BI) menyoroti masih besarnya nilai kredit perbankan yang belum dicairkan atau undisbursed loan hingga Desember 2025. Angka tersebut mencapai Rp2.439,2 triliun, mewakili 22,12 persen dari total plafon kredit yang tersedia. Meskipun menunjukkan sedikit penurunan dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai Rp2.509,4 triliun (23,18 persen), kondisi ini mengindikasikan potensi ekspansi ekonomi yang belum sepenuhnya termanfaatkan.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Rabu (21/1/2026), menekankan urgensi untuk mendorong pelaku usaha agar lebih aktif dalam memanfaatkan fasilitas pinjaman yang belum digunakan ini. “Undisbursed loan masih tercatat cukup besar pada Desember 2025, yaitu mencapai Rp2.439,2 triliun atau 22,12 persen dari plafon kredit yang tersedia,” ujar Perry, menegaskan kembali pentingnya dorongan ekspansi dari sisi permintaan kredit.
Pertumbuhan Kredit Perbankan Kuat Sepanjang 2025

Melengkapi gambaran tersebut, pertumbuhan kredit perbankan sepanjang tahun 2025 tercatat memuaskan, mencapai 9,69 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini berada dalam rentang proyeksi BI yang sebelumnya diperkirakan antara 8-11 persen yoy, menunjukkan resiliensi sektor perbankan dan ekonomi secara umum.
Gubernur Perry merinci bahwa berdasarkan kelompok penggunaan, kredit investasi menunjukkan performa paling impresif dengan pertumbuhan 21,06 persen yoy. Disusul oleh kredit konsumsi yang tumbuh 6,58 persen yoy, dan kredit modal kerja sebesar 4,52 persen yoy pada tahun 2025.
Pencapaian pertumbuhan kredit ini, menurut Perry, merupakan buah dari berbagai upaya strategis BI, termasuk penurunan suku bunga dan penguatan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), ditambah dengan realisasi program-program prioritas pemerintah. Semua ini terlaksana di tengah kondisi makroekonomi dan keuangan yang tetap stabil dan terjaga dengan baik.
Kapasitas Pembiayaan Bank dan Proyeksi Kredit 2026

Di sisi penawaran, kapasitas pembiayaan bank menunjukkan kekuatan yang memadai. Hal ini didukung oleh rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang solid sebesar 28,57 persen dan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang signifikan, mencapai 13,83 persen (yoy) pada Desember 2025.
Adapun minat perbankan untuk menyalurkan kredit juga terus membaik, tercermin dari persyaratan pemberian kredit (lending requirement) yang cenderung melonggar. Namun, kondisi ini tidak berlaku untuk segmen kredit konsumsi dan UMKM, di mana risiko kredit pada kedua segmen tersebut masih tergolong tinggi, sehingga bank tetap berhati-hati.
Untuk prospek ke depan, Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan kredit pada tahun 2026 akan berada dalam kisaran 8-12 persen. Guna mencapai target ini, BI berkomitmen untuk terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), dengan fokus pada perbaikan struktur suku bunga dan pendorong pertumbuhan kredit atau pembiayaan perbankan secara berkelanjutan.
Ketahanan Perbankan Teruji Kuat Melalui Stress Test BI

Sementara itu, ketahanan sistem keuangan Indonesia tetap terjaga dengan baik. Dukungan utama datang dari likuiditas perbankan yang memadai, kapasitas permodalan yang berada pada level tinggi, dan terkendalinya risiko kredit.
Pada November 2025, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan tercatat sangat kuat, mencapai 26,05 persen. Angka ini menegaskan kemampuan sektor perbankan untuk menyerap potensi risiko dan mendukung laju pertumbuhan kredit. Selain itu, rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) perbankan secara agregat juga tetap rendah, yaitu 2,21 persen (bruto) dan 0,86 persen (neto) pada periode yang sama.
Gubernur Perry lebih lanjut menyatakan, “Hasil stress test Bank Indonesia menunjukkan ketahanan perbankan yang tetap kuat dalam menghadapi berbagai risiko.” Kekuatan ini ditopang oleh kemampuan bayar dan profitabilitas korporasi yang stabil. Bank Indonesia bertekad untuk terus memperkuat sinergi kebijakan bersama KSSK demi memitigasi berbagai risiko yang berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan nasional, memastikan fondasi ekonomi yang kokoh.
Ringkasan
Bank Indonesia (BI) menyoroti masih besarnya nilai kredit perbankan yang belum dicairkan (undisbursed loan) mencapai Rp2.439,2 triliun atau 22,12 persen dari total plafon per Desember 2025. Jumlah tersebut menunjukkan potensi ekspansi ekonomi yang belum sepenuhnya termanfaatkan. Gubernur BI Perry Warjiyo mendesak pelaku usaha untuk lebih aktif dalam memanfaatkan fasilitas pinjaman tersebut guna mendorong pertumbuhan ekonomi.
Meskipun demikian, pertumbuhan kredit perbankan sepanjang 2025 tercatat kuat sebesar 9,69 persen, terutama didorong oleh kredit investasi. Kapasitas pembiayaan bank dinilai memadai didukung likuiditas dan permodalan yang tinggi, serta rasio kredit bermasalah (NPL) yang rendah. BI memproyeksikan pertumbuhan kredit 2026 akan mencapai 8-12 persen, dengan ketahanan perbankan yang tetap kuat berdasarkan stress test.