Shoesmart.co.id JAKARTA. Kinerja bursa saham Asia diprediksi akan sangat dipengaruhi oleh sentimen global dan regional pada awal pekan depan, Senin (16 Februari), di tengah potensi penurunan volume perdagangan akibat libur Tahun Baru Imlek.
Seperti yang kita ketahui, sebagian besar bursa saham di Asia menunjukkan tren positif selama pekan lalu. Sebagai contoh, Indeks Hang Seng Hongkong mengalami kenaikan sebesar 0,30% dalam seminggu terakhir, mencapai level 26.567,12 pada hari Jumat (13 Februari). Indeks Nikkei 225 Jepang juga mencatat penguatan signifikan sebesar 4,96% dalam periode yang sama, mencapai 56.941,97. Tidak ketinggalan, Indeks Kospi Korea Selatan juga ikut meroket dengan kenaikan sebesar 8,21% menjadi 5.507,01.
Indeks Shanghai Composite China juga mengalami kenaikan tipis sebesar 0,41% dalam sepekan terakhir, berada di level 4.082,07. Sementara itu, Indeks Strait Times Singapura mencatatkan kenaikan sebesar 0,07%, mencapai 4.937,78.
Momen Imlek dan Ramadan Bawa Berkah ke Emiten Ritel, Ini Pilihan Sahamnya
Namun, secara khusus pada hari Jumat (13 Februari), bursa saham Asia terlihat mengalami pelemahan. Hal ini tercermin dari penurunan Hang Seng sebesar 1,72%, koreksi Nikkei 225 sebesar 1,21%, penurunan Kospi sebesar 0,28%, pelemahan Shanghai sebesar 1,26%, dan penyusutan Strait Times sebesar 1,57%.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyampaikan bahwa sentimen global, terutama perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat (AS), masih akan menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan bursa Asia pada Senin mendatang. Saat ini, perhatian pelaku pasar tertuju pada kepastian terkait kebijakan suku bunga acuan The Fed.
Pasalnya, pada pertengahan pekan lalu, AS merilis data non-farm payrolls (NFP) yang menunjukkan angka lebih kuat dari perkiraan. NFP, sebagai indikator jumlah tenaga kerja di luar sektor pertanian, menjadi acuan penting bagi The Fed dalam membaca kondisi pasar tenaga kerja dan menentukan arah kebijakan suku bunga acuan. Munculnya data NFP ini meningkatkan kemungkinan The Fed mempertahankan suku bunga acuan pada level tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama. Akan tetapi, di sisi lain, data indeks harga konsumen AS yang menunjukkan penurunan pada Januari 2026 memberikan sedikit harapan bahwa penurunan suku bunga acuan dapat dipercepat.
Selain itu, menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, terdapat kemungkinan penurunan volume transaksi di bursa Asia, yang berpotensi memicu pergerakan pasar yang cenderung sideways pada awal pekan. “Namun, tetap ada peluang window dressing dari sebagian pelaku pasar sebelum Imlek,” jelasnya pada hari Minggu (15 Februari).
Nafan menambahkan bahwa indeks saham Nikkei 225 dan Kospi berpotensi mengalami penguatan seiring dengan sentimen positif dari laporan kinerja keuangan emiten. Sebaliknya, indeks Shanghai cenderung rentan terhadap tekanan karena pelaku pasar masih menantikan stimulus tambahan dari pemerintah China.
Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Indonesia, Fath Aliansyah Budiman, menyatakan bahwa secara umum sentimen global masih cenderung positif bagi bursa Asia pada awal pekan mendatang.
Momentum Festive dan MBG Topang Prospek Saham Konsumer 2026, Ini Rekomendasi Analis
Indeks Kospi diperkirakan akan menjadi salah satu indeks saham Asia yang berkinerja unggul pada Senin mendatang, didorong oleh tren kenaikan saham-saham yang terkait dengan sektor teknologi. Kospi juga diuntungkan oleh sentimen dari MSCI yang berpotensi menaikkan status pasar saham Korea Selatan dari emerging market menjadi developed market. “Hal ini menjadikannya lebih menarik,” ujarnya pada hari Minggu (15 Februari 2026).
Ringkasan
Kinerja bursa saham Asia diprediksi dipengaruhi oleh sentimen global dan regional, terutama kebijakan moneter AS, dengan fokus pada data non-farm payrolls dan indeks harga konsumen. Meskipun sebagian besar bursa saham Asia mencatat tren positif selama pekan lalu, pelemahan terjadi pada hari Jumat (13 Februari). Volume perdagangan diperkirakan menurun menjelang Tahun Baru Imlek, yang berpotensi memicu pergerakan pasar sideways.
Indeks Nikkei 225 dan Kospi berpotensi menguat didorong sentimen positif dari laporan kinerja keuangan emiten, sementara indeks Shanghai cenderung rentan terhadap tekanan karena penantian stimulus tambahan dari pemerintah China. Indeks Kospi juga diperkirakan unggul didorong tren kenaikan sektor teknologi dan potensi peningkatan status pasar saham Korea Selatan oleh MSCI.