JAKARTA. Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan awal pekan ini, Senin (2/3/2026), dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pada pukul 07.26 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April 2026 di New York Mercantile Exchange berada di level US$ 71,78 per barel, melonjak signifikan sebesar 7,10% dibandingkan dengan penutupan akhir pekan lalu yang berada di US$ 67,02 per barel.
Lonjakan harga minyak Brent bahkan lebih dramatis, meroket hingga 13% dan menembus level US$ 82 per barel. Ini merupakan level tertinggi yang dicapai minyak Brent sejak Januari 2025. Kenaikan ini menandai lonjakan harga minyak tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Mengutip laporan Bloomberg, pemicu utama kenaikan harga minyak ini adalah konflik yang melibatkan AS dan Israel melawan Iran. Eskalasi konflik ini menciptakan kekacauan di pasar minyak mentah global, terutama akibat potensi penutupan Selat Hormuz, jalur vital bagi perdagangan minyak dunia.
Lalu lintas kapal tanker yang melewati Selat Hormuz, titik rawan di lepas pantai Iran, dilaporkan terhenti sementara waktu. Pemilik kapal dan pedagang memilih untuk menunda pelayaran seiring dengan semakin meluasnya konflik.
Meningkatnya eskalasi geopolitik Iran juga berpotensi melemahkan nilai tukar Rupiah pada pekan ini.
Meskipun otoritas Iran mengklaim bahwa jalur air utama tersebut tetap terbuka, mereka juga mengumumkan telah menyerang tiga kapal tanker minyak. Klaim ini semakin memperkeruh situasi dan meningkatkan kekhawatiran pasar.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pasukan AS telah menenggelamkan tiga kapal tanker dan sembilan kapal angkatan laut Iran. Trump juga menegaskan bahwa operasi tempur akan terus berlanjut hingga semua tujuan tercapai.
Sebagai respons terhadap meluasnya konflik, negara-negara anggota OPEC+ dikabarkan telah mencapai kesepakatan pada pertemuan akhir pekan ini untuk menaikkan kuota produksi bulan depan sebesar 206.000 barel per hari. Kesepakatan ini mencakup Iran, Arab Saudi, dan Rusia, yang merupakan pemain kunci dalam pasar minyak global.
Analis Citigroup Inc, termasuk Max Layton, dalam sebuah catatan yang dikutip Bloomberg memperkirakan bahwa harga minyak Brent akan diperdagangkan di kisaran US$ 80 hingga US$ 90 per barel, setidaknya selama pekan mendatang.
Layton menambahkan, “Dalam skenario dasar kami, kami memperkirakan bahwa kepemimpinan Iran berubah, atau rezim berubah cukup signifikan, sehingga menghentikan perang dalam waktu satu hingga dua minggu, atau AS akan mengurangi ketegangan setelah melihat perubahan kepemimpinan dan kemunduran program rudal dan nuklir Iran dalam jangka waktu yang sama.”
BBRI akan menggelar RUPST pada 10 April 2026, memberikan sinyal dividen yang lebih tinggi meskipun laba tahun 2025 mengalami penurunan.
Analis Goldman Sachs Group Inc, termasuk Daan Struyven, dalam sebuah catatan menambahkan bahwa lalu lintas kapal tanker tampaknya terganggu secara signifikan. Banyak pengirim barang, produsen minyak, dan perusahaan asuransi beralih ke strategi “wait and see” untuk mengamati perkembangan situasi.
“Sepengetahuan kami, belum ada kerusakan yang terkonfirmasi pada produksi minyak atau infrastruktur ekspor minyak,” tulis Struyven.
Menurut Wood Mackenzie, jika arus kapal tanker di Selat Hormuz tidak segera dipulihkan, harga minyak berpotensi meroket melampaui batas yang bisa diprediksi saat ini. Situasi ini menyoroti betapa rentannya pasar minyak global terhadap ketegangan geopolitik.
Ringkasan
Harga minyak dunia melonjak signifikan akibat konflik yang memanas antara AS dan Israel melawan Iran. Harga minyak WTI naik 7,10% menjadi US$ 71,78 per barel, sementara harga minyak Brent meroket hingga 13% dan menembus US$ 82 per barel, mencapai level tertinggi sejak Januari 2025. Eskalasi konflik ini menyebabkan kekhawatiran penutupan Selat Hormuz dan terganggunya lalu lintas kapal tanker.
Sebagai respons, negara-negara OPEC+ sepakat menaikkan kuota produksi, sementara analis memperkirakan harga minyak Brent akan diperdagangkan di kisaran US$ 80 hingga US$ 90 per barel. Gangguan pada lalu lintas kapal tanker serta strategi “wait and see” dari perusahaan pengirim dan asuransi semakin memperburuk situasi. Jika arus kapal tanker di Selat Hormuz tidak segera dipulihkan, harga minyak berpotensi meroket lebih jauh.