Konflik Global: Ekonomi Indonesia Aman? Kata BI Jatim!

SURABAYA – Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, Ibrahim, menyampaikan kekhawatiran mengenai potensi risiko ekonomi, baik di tingkat regional maupun nasional, yang dapat dipicu oleh konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah.

Namun, Ibrahim meyakinkan bahwa Indonesia, seperti banyak negara lainnya, memiliki kemampuan adaptasi yang cukup baik untuk menghadapi potensi krisis akibat ketegangan geopolitik global ini.

Dalam analisis ekonomi, Ibrahim menjelaskan tiga skenario risiko yang umum dipertimbangkan: skenario dasar (baseline scenario), risiko potensial (potential risk), dan risiko ekstrim (tail risk).

Tail risk memiliki probabilitas yang sangat rendah, tetapi dampaknya akan sangat signifikan jika terjadi. Kita tidak boleh mengabaikan potensi yang terkandung dalam tingkatan tail risk ini,” jelas Ibrahim di Surabaya, Kamis (2/4/2026).

Ibrahim mengilustrasikan konsep ini dengan analogi perjalanan. Dalam kondisi normal, perjalanan akan berjalan lancar tanpa hambatan. Namun, cuaca buruk dapat menyebabkan keterlambatan.

Dalam konteks tail risk, Ibrahim melanjutkan, keterlambatan perjalanan bisa jauh lebih parah akibat kejadian tak terduga (force majeure), seperti kendaraan mogok atau ban pecah.

“Probabilitas krisis saat ini sangat bergantung pada durasi konflik dan bagaimana adaptasi ekonomi global terhadap tantangan yang ada,” ujarnya.

Menurutnya, eskalasi perang yang melibatkan Iran dengan Israel-Amerika Serikat, serta konflik geopolitik global lainnya, tidak selalu berdampak langsung. Namun, Ibrahim menekankan bahwa dampaknya dapat menimbulkan risiko besar pada sektor finansial, komoditas, dan perdagangan.

“Ini sangat erat kaitannya, terutama dengan jalur perdagangan dan komoditas. Dampak langsungnya mungkin kecil, misalnya, seberapa besar ekspor Iran ke negara-negara lain. Namun, dampak tidak langsungnya perlu kita kalkulasi,” tambahnya.

Lebih lanjut, Ibrahim menyoroti bahwa ketidakpastian global mendorong banyak negara untuk mengambil langkah antisipatif dengan mengamankan pasokan dalam negeri dan membatasi ekspor, yang berdampak pada rantai pasok internasional. Fenomena ini disebut sebagai fragmentasi perdagangan.

“Fragmentasi terjadi ketika setiap negara berusaha mengamankan pasokannya masing-masing. Mereka membatasi ekspor untuk memastikan kebutuhan domestik terpenuhi. Terjadi inward looking di semua negara. Inilah yang perlu kita pahami,” jelasnya.

Ibrahim menegaskan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk bertahan di tengah potensi krisis ekonomi global. Struktur impor Indonesia telah menerapkan sistem diversifikasi, sehingga tidak hanya bergantung pada satu negara tertentu.

“Harga mungkin meningkat, tetapi pasokan relatif merata. Akan berbahaya jika harga naik dan barang menjadi langka. Kita patut bersyukur bahwa meskipun ada fragmentasi perdagangan, pasokan dari berbagai negara sumber bahan baku kita masih tersedia,” ungkapnya.

Selain itu, Ibrahim menekankan pentingnya kekuatan konsumsi domestik sebagai penopang utama perekonomian Jawa Timur dan nasional dalam menghadapi dampak eksternal dari potensi krisis akibat situasi geopolitik.

“Proporsi konsumsi rumah tangga yang besar, mencapai 60%, menjadi penyangga (buffer) ketika ada dampak eksternal. Kita harus menjaga daya beli, mengendalikan inflasi, dan memastikan bantuan sosial (bansos) tetap berjalan dengan baik. Dengan demikian, dampak eksternal dapat mengurangi tingkat keterbukaan (degree of openness) profil ekonomi Jawa Timur,” paparnya.

Namun, Ibrahim mengingatkan semua pihak untuk tidak terlena. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara kewaspadaan dan optimisme dalam menghadapi situasi global yang masih belum stabil sepenuhnya.

“Kita harus seimbang, jangan terlalu pesimis. Sebetulnya, kita juga memiliki optimisme yang perlu dikelola untuk mengimbangi pesimisme ini. Secara keseluruhan (on the net balance), kita mungkin terdampak, tetapi tidak terlalu besar karena kita telah mensiasatinya dengan lebih baik,” pungkasnya.

Ringkasan

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, Ibrahim, menyatakan kekhawatiran mengenai potensi risiko ekonomi akibat konflik global di Timur Tengah, tetapi meyakinkan bahwa Indonesia memiliki kemampuan adaptasi yang baik. BI Jatim mempertimbangkan tiga skenario risiko, termasuk tail risk yang memiliki probabilitas rendah namun berdampak signifikan, menekankan perlunya kewaspadaan terhadap dampaknya pada sektor finansial, komoditas, dan perdagangan.

Ibrahim menyoroti fragmentasi perdagangan akibat negara-negara yang mengamankan pasokan dalam negeri, namun menekankan bahwa diversifikasi impor Indonesia dan kekuatan konsumsi domestik menjadi penopang utama perekonomian. Ia mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kewaspadaan dan optimisme, serta menjaga daya beli masyarakat untuk meminimalisir dampak eksternal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *