Konflik AS-Iran Memanas: Saatnya Lirik Saham-Saham Ini!

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Konflik yang memanas antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan memberikan dampak signifikan terhadap pasar keuangan global. Meningkatnya ketegangan geopolitik ini mendorong para pelaku pasar untuk mengambil posisi yang lebih defensif, dengan mengalihkan investasi mereka dari aset-aset berisiko menuju instrumen safe haven.

Hendra Wardana, seorang pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, mengamati bahwa respons pasar saat ini mencerminkan pola risk-off yang cukup jelas. Investor global cenderung mengurangi eksposur mereka pada aset berisiko seiring dengan meningkatnya ketidakpastian global.

Menurut Hendra, lonjakan harga emas lebih dari 1% dan kenaikan harga minyak mentah WTI serta Brent yang mendekati 3% mengindikasikan bahwa pasar mulai memperhitungkan ulang risiko terkait pasokan energi global.

“Pasar langsung bereaksi terhadap potensi gangguan distribusi energi, terutama dari kawasan Timur Tengah yang merupakan pusat produksi minyak dunia,” ungkapnya dalam keterangan yang disampaikan pada hari Sabtu (28/2/2026).

Gejolak Tarif AS dan Isu Iran Tekan Rupiah, Ini Proyeksinya Pekan Depan

Lebih lanjut, Hendra menjelaskan bahwa salah satu perhatian utama para investor saat ini adalah Selat Hormuz, jalur vital bagi perdagangan energi dunia. Sekitar 30% distribusi minyak global melewati kawasan tersebut, sehingga eskalasi konflik apapun berpotensi memicu lonjakan harga minyak yang lebih signifikan.

Jika jalur distribusi ini terganggu, Hendra memperingatkan, pasar akan menghadapi tekanan lanjutan berupa kenaikan inflasi global, pelemahan nilai tukar di negara-negara berkembang, hingga potensi perubahan arah kebijakan suku bunga oleh bank sentral. “Efeknya bisa berantai, tidak hanya terbatas pada sektor energi tetapi juga berimbas pada stabilitas makroekonomi global,” jelasnya.

Efek ke Indonesia

Dari sisi domestik, pasar saham Indonesia berpotensi menghadapi tekanan dari dua arah. Pertama, risiko capital outflow akibat investor asing mengurangi porsi investasi mereka di pasar negara berkembang.

Kedua, meningkatnya risiko inflasi impor seiring dengan kenaikan harga energi yang dapat menekan margin keuntungan emiten.

Hendra memperkirakan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang bergerak melemah dan menguji area support di level 8.133. Jika level tersebut ditembus, area psikologis 8.000 akan menjadi penopang berikutnya, sementara level resistance terdekat berada di kisaran 8.300.

Kendati demikian, ia melihat bahwa tidak semua sektor akan terdampak negatif. Sektor berbasis komoditas justru berpotensi menjadi penopang pasar di tengah volatilitas global. Kenaikan harga emas dan minyak membuka peluang investasi pada saham-saham komoditas dan energi.

Rupiah Tertekan ke Rp16.787, Diproyeksi Bergerak Volatil Pekan Depan

Hendra merekomendasikan saham MDKA sebagai trading buy dengan target harga Rp 3.900, serta saham ANTM dengan rekomendasi buy dan target harga Rp 4.500.

Di sektor energi, Hendra merekomendasikan trading buy saham ELSA dengan target Rp 900 dan trading buy ENRG menuju Rp 1.900. Sementara itu, AKRA dinilai layak untuk speculative buy dengan target Rp1.400, serta SOCI dengan rekomendasi trading buy dan target Rp750 seiring dengan meningkatnya aktivitas pengangkutan energi.

Kepada investor ritel, Hendra menyarankan untuk tetap disiplin dalam menerapkan manajemen risiko. Investor dengan profil agresif dapat memanfaatkan momentum di sektor komoditas, sementara investor konservatif sebaiknya menerapkan strategi wait and see sambil memantau perkembangan konflik dan arus dana asing.

“Dalam kondisi geopolitik yang memanas, kunci utama bukan sekadar masuk atau keluar pasar, tetapi kemampuan untuk membaca rotasi sektor dan menjaga risiko tetap terkendali,” pungkasnya.

Ringkasan

Konflik AS-Iran yang memanas memicu respons risk-off di pasar keuangan global, dengan investor beralih ke aset safe haven seperti emas dan minyak. Kenaikan harga komoditas ini disebabkan kekhawatiran gangguan pasokan energi dari Timur Tengah, terutama Selat Hormuz yang vital bagi distribusi minyak global.

Untuk pasar Indonesia, IHSG berpotensi melemah akibat risiko capital outflow dan inflasi impor. Namun, sektor komoditas seperti pertambangan (MDKA, ANTM) dan energi (ELSA, ENRG, AKRA, SOCI) diperkirakan menjadi penopang pasar. Investor disarankan untuk disiplin dalam manajemen risiko, dengan investor agresif memanfaatkan momentum di sektor komoditas dan investor konservatif menerapkan strategi wait and see.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *