
Bisnis.com, JAKARTA – Komite Perbankan Senat Amerika Serikat pada Rabu (29 April) telah memberikan persetujuan untuk melanjutkan nominasi Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed). Keputusan krusial ini menandai langkah signifikan dalam proses penunjukan pimpinan bank sentral AS, yang sarat dengan intrik politik.
Melansir CNBC International, persetujuan kontroversial ini diperoleh setelah melalui pemungutan suara ketat di Senat. Seluruh 13 anggota Partai Republik menyatakan dukungan, sementara 11 anggota Partai Demokrat menolaknya. Senator Elizabeth Warren, figur senior dari Partai Demokrat dalam komite tersebut, langsung menyoroti insiden ini sebagai pemungutan suara yang sepenuhnya partisan pertama dalam sejarah komite untuk seorang calon ketua bank sentral.
Menjelang pemungutan suara, Senator Warren secara terang-terangan melontarkan kritiknya terhadap Warsh. Ia memperingatkan bahwa jika dikonfirmasi, Warsh berpotensi mengikis independensi Federal Reserve dari campur tangan cabang eksekutif, sebuah fondasi penting bagi stabilitas ekonomi.
Dalam pernyataan pedasnya di hadapan komite, Warren tidak segan-segan menyoroti kondisi ekonomi di bawah kepemimpinan Presiden Trump. “Ekonomi Trump sedang menghadapi masalah serius. Inflasi meningkat, penciptaan lapangan kerja melemah. Aroma stagflasi mulai terasa, dan Presiden Trump semakin terdesak,” tegasnya. Lebih lanjut, Warren khawatir bahwa lolosnya Warsh melalui komite Senat akan menjadi “langkah maju” bagi presiden untuk menguasai The Fed dan secara artifisial memanipulasi perekonomian.
Meski diwarnai perdebatan sengit, Warsh berhasil melampaui tahap komite sesuai perkiraan banyak pihak. Persetujuan ini datang hanya beberapa jam sebelum The Fed dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga terbarunya, sebuah pengumuman yang kemungkinan besar akan menjadi yang terakhir di bawah kepemimpinan Jerome Powell.
Dalam situasi ini, The Fed sendiri diperkirakan akan mempertahankan pendekatan “wait-and-see”. Kebijakan hati-hati ini didasari oleh beberapa faktor krusial: inflasi yang masih tinggi, pasar tenaga kerja yang relatif stabil, dan tekanan harga yang timbul akibat konflik dengan Iran, yang secara kolektif membatasi ruang gerak bank sentral untuk melakukan penurunan suku bunga lebih lanjut.
Pendekatan konservatif The Fed inilah yang menjadi sumber ketegangan utama antara Presiden Trump dan Jerome Powell. Selama masa jabatannya, Ketua The Fed tersebut berulang kali menghadapi kritik tajam dari presiden karena dianggap tidak memangkas suku bunga secepat atau sedalam yang diinginkan Gedung Putih.
Ketegangan tersebut bukan sekadar retorika belaka. Bahkan, menurut beberapa pihak, termasuk Jerome Powell sendiri, Departemen Kehakiman AS (DOJ) pernah meluncurkan penyelidikan pidana terhadapnya dan The Fed. Penyelidikan ini dikaitkan dengan dugaan pembengkakan biaya renovasi kantor pusat bank sentral di Washington.
Dalam sebuah pernyataan di bulan Januari, Powell terang-terangan mengungkap penyelidikan ini, seraya menuduh pemerintah sengaja menargetkannya karena keputusan kebijakan suku bunga The Fed yang diambilnya.
Penyelidikan kontroversial ini secara tak terduga sempat membayangi peluang Warsh untuk dikonfirmasi. Senator Thom Tillis bahkan menyatakan secara tegas akan memblokir nominasi tersebut apabila DOJ tidak menghentikan penyelidikan.
Presiden Trump, di sisi lain, secara terbuka memberikan dukungan penuh terhadap penyelidikan yang dipimpin oleh Jaksa AS Jeanine Pirro. Namun, upaya Pirro sempat terhambat setelah seorang hakim federal menolak permohonan penerbitan surat perintah panggilan (subpoena) dewan juri.
Meskipun Jaksa Pirro sempat berjanji akan mengajukan banding pada pekan sebelumnya, secara mengejutkan, dua hari kemudian ia tiba-tiba mengumumkan bahwa DOJ telah secara resmi menghentikan penyelidikan tersebut.
Pernyataan mendadak ini membuat Senator Tillis kemudian menarik kembali penentangannya terhadap nominasi Warsh. Hal ini secara praktis memastikan bahwa nominasi tersebut akan melaju ke tahap berikutnya tanpa hambatan dari Tillis.
Namun, Senator Warren tetap waspada. Ia memperingatkan bahwa keputusan Pirro, termasuk permintaannya kepada inspektur jenderal The Fed untuk meninjau ulang dugaan pembengkakan biaya, sesungguhnya “membiarkan pintu terbuka lebar” bagi kemungkinan dimulainya kembali penyelidikan di kemudian hari.
“Tidak ada yang tertipu,” kata Warren dengan nada menantang dalam pemungutan suara Rabu. “Trump masih berupaya untuk menguasai The Fed, dan ia mempertahankan ancaman tuduhan pidana yang tidak berdasar hingga ia mendapatkan apa yang diinginkannya.”
Menanggapi tudingan Warren, Senator Tillis dengan tegas menepis kritik tersebut. Ia menyatakan bahwa Warren “sepenuhnya keliru dalam setiap poin yang baru saja ia sampaikan,” dan menegaskan keyakinannya, “Saya yakin penyelidikan ini sudah berakhir.”
Dengan segala dinamika tersebut, Senat secara penuh diperkirakan akan menggelar pemungutan suara konfirmasi Warsh pada pekan 11 Mei. Jika proses ini berjalan lancar, Warsh berpotensi untuk disahkan dan mulai menjabat sebelum masa jabatan Jerome Powell berakhir pada 15 Mei, menandai babak baru dalam kepemimpinan bank sentral paling berpengaruh di dunia.